5 Tahun Menikah Tidak Pernah Berhubungan Badan

5 Tahun Menikah Tidak Pernah Berhubungan Badan

Assalamualaikum wr. wb.,

Perkenalkan nama aku ardi usia 31 tahun, istri aku berusia 30 tahun. Saya dan istri aku sudah menikah sekitar 5 tahun lebih. Selama pernikahan kami, dari awal sampai detik ini istri aku tak mau diajak berhubungan, dengan alasan takut dan sakit. Kondisi istri aku sehat jasmani maupun rohani. Setiap kali ingin diajak berhubungan istri aku selalu menolak dengan alasan di atas.

Selama ini aku berusaha bersabar. Tapi lama-lama kelamaan aku habis juga kesabaran saya. Interaksi kami didasari atas rasa sayang. Saya cinta dengan istri aku tapi istri aku hingga saat ini tak cinta dengan saya. Dia hanya sayang dengan saya.

Selama ini kami sudah berkonsultasi tapi tak membuahkan hasil juga dan tak ada perubahan. Salahkah aku jika aku menikah lagi? Jujur saat ini aku sudah menikah lagi dan istri aku belum tahu. Tetapi istri kedua aku sudah tahu. Saya bingung bagaimana cara menjelaskan kepada istri pertama saya. Mohon bantuannya. Terima kasih.

Wassalam.

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh

Sdr Ardi nan dirahmati Allah,

Saya memahami bagaimana perasaan Anda selama tak mendapat hak-hak biologis sekian lama dari istri. Ini ialah bagian dari ujian pernikahan, bahwa salah satu (namun bukan satu-satunya) tujuan pernikahan ialah penyaluran kebutuhan biologis pada loka nan halal dan suci. Mengingat apa nan terjadi pada istri, mungkin ada nan belum terungkap dari masa lalu istri. Meskipun ada rasa tak cinta pada Anda, mestinya seorang istri tak membiarkan suaminya terkatung-katung begitu lama. Saya konfiden ada alasan nan belum terungkap selain dari rasa tak cinta nan menjadi alasannya. Apakah istri mepunyai trauma eksklusif sehingga perlu pendampingan psikologis?

Sdr Ardi nan dirahmati Allah,

Secara syar’iy Anda memang beralasan menikah lagi agar tak terjerumus dalam perbuatan zina sebab tak mendapat penyaluran kebutuhan biologis. Salah satu alasan nan membolehkan poligami ialah alasan di atas, yakni sebab istri tak mampu menjalankan kewajiban. Mudah-mudahan apa nan Anda lakukan ini buat kemaslahatan keluarga Anda. Sayangnya apa nan Anda lakukan ini tak sekalian dengan musyawarah bersama istri, andai ini Anda lakukan alangkah indahnya, Pak. Bukankah memang istri seharusnya menyadari bahwa suaminya telah tertelantarkan hak-haknya dan istri memang tak mampu melakukan kewajiban? Seorang istri shalihah apalagi menyayangi Anda, aku konfiden akan memahami keputusan Anda ini.

Namun sebab sudah terlanjur terjadi, maka perlu dicari cara buat mengkomunikasikan pernikahan kedua Anda ini. Anda sekarang telah menjadi pemimpin di dua rumah tangga; ada kewajiban adil nan harus Anda tunaikan.

Sdr Ardi nan dirahmati Allah,

Keterusterangan akan membuat ketenangan, daripada Anda selalu bersembunyi dari kenyataan. Kalau memang telah dilakukan, maka seorang lelaki perlu secara sportif memikirkan konsekuensinya, agar adil dalam nafkah, jatah hari, dan benar-benar ingin membangun dua kerajaan rumahtangga tersebut dan tak memperlemah salah satunya. Gentlemen dalam berpoligami menunjukkan kekuatan kepribadian Anda.

Rasulullah saw juga tak menyembunyikan istri satu dari istri nan lain. Haripun digilir dengan adil. Masalah kecemburuan ialah konsekuensi manusiawi nan harus dipikirkan oleh suami nan mau berpoligami. Perempuan juga manusia biasa nan sangat manusiawi menyimpan kecemburuan, jadi inilah tantangan dari keputusan Anda melakukan poligami. Sementara kaum ibu berpendapat, ”laki-laki jangan hanya mau enaknya saja donk; harus bertanggungjawab dalam berpoligami. Kalau wanitanya cemburu ya..itu tantangan dia, jangan menghindar dan harus menjadi penengah nan baik..!. Makanya laki-laki harus buktikan dapat bersikap adil..”.

Mungkin keluhan ini mewakili suara para wanita, dan agamapun mensyaratkan adil dalam berpoligami. Oleh sebab itu, secara terukur lakukan pendekatan pada istri, beri perhatian nan lebih pada istri agar hatinya luluh. Sarankan juga istri meneruskan usaha terapi, mungkin dia perlu pendampingan psikolog. Semoga rasa takut dalam berhubungan bisa disembuhkan secara bertahap ya, pak.. tentu ini akan membahagiakan, bukan?  Mintalah donasi keluarga buat menjadi penengah jika diperlukan serta dekatkan diri Anda pada-Nya.

Jangan sampai istri-istri Anda melalaikan Anda dari ibadah pada-Nya dan menduakan kecintaan Anda pada Allah swt. Allah swt berfirman nan kurang lebih artinya: ”Katakanlah jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kamu, kaum keluargamu, harta kekayaan nan kamu usahakan, perniagaan nan kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah loka tinggal nan kamu sukai, ialah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya….. Dan Allah tak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik” (QS At-taubah (9):24)

Demikian nan bisa sya sampaikan, semoga Bapak diberi kemampuan bersikap adil, hati istri-istri didekatkan, istri-istri Anda saling memehami, sehingga tercapai kerukunan dan sakinah pada keluarga besar Anda.

Wallahu a’lam bissshawab. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ibu Urba

Konsultasi

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy