Adakah Amalmu Bermakna?

Adakah Amalmu Bermakna?

Engkau telah menggapai kemuliaan global nan hakiki. Tak ada orang lain. Tak ada orang nan bisa mencapai derajat paling tinggi itu. Engkau telah mencapai derajat nan paling puncak nan tak bisa didaki, kecuali hanya oleh orang-orang nan ikhlas. Orang-orang banyak beribadah, bercita-cita luhur, dan meninggalkan global beserta kesenangannya.

Ia ialah orang nan paling dekat dengan sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu. Ia ialah orang nan paling wara’. Ia ialah seorang pria nan hatinya sangat lembut.Suka menumpahkan air mata. Apabila shalat ia lupa akan segala hal. Tak ingat lagi kehidupan dunia. Ia sangat mencintai Rabbnya. Ibadahnya tidak pernah henti. Ada seorang pria ‘Aslam, nan memberikan kesaksian, ketika melihat orang itu sedang shalat, nan ia tidak pernah melihat dilakukan oleh orang lain. “Apabila ia sujud, ia laksana kain nan dilempar dan dihinggapi oleh burung-burung”, ujar ‘Aslam.

Saat menjelang malam Ia sporadis tidur. Ia tidak memejamkan matanya. Saat orang lain sedang asyik dibuai mimpi-mimpi. Keluarganya pun kasihan kepadanya.Sampai seorang putrinya menegurnya. “Wahai ayah!. Mengapa selalu terjaga? Padahal orang-orang sedang asyik tidur?”. Orang itu menjawab pertanyaan putrinya. “Sesungguhnya neraka janaham terbayang di mataku!, ucap ayahnya. Suatu ketika. Orang itu berkata kepada putrinya yan ia cintai itu, dan berkata : “Aku sangat takut. Takut saya tergelincir ke dalam neraka”, kata ayahnya.

Para sahabat lainnya, ingin mengetahui, bagaimana lamanya shalat tahajud di malam hari. Salah seorang sahabat, lalu menuturkan : “Mereka menaruh tanda di rambutnya, sebab rambut orang itu tebal, buat mengetahui orang itu tak atau tidak? Ternyata tanda nan mereka taruh itu tak berubah. Dari peristiwa itu, diketahui ia tak membaringkan tubuhnya di malam hari”.

Bila pagi tiba. Ia berkata :”Selamat datang, wahai para malaikat Allah. Tulislah, ‘Bismillaahir-Rahmanaanir-Rahim, subhanallah, wal-hamdulillah, laa Ilahaa illallaah wallaahu Akbar!”. Ia sangat meresapi makna all-Qur’an, bila membacanya. Mengetahui apa nan diperintah dan larangannya. Mengenal betul janji dan ancamanNya. Suatu kali, ia melakukan shalat tahajud, dan membaca ayat : “Apakah orang-orang nan membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang nan beriman dan mengerjakan amal shaleh, yaiu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa nan mereka sangka itu”. (al-Qur’an : 45:21) Ayat itu merasuk ke dalam pikirannya. Sampai tak bisa melanjutkannya. Ayat itu diulang-ulang sampai pagi hari. Ia merasakan lezatnya, ketika membaca al-Qur’anul Karim.

Siapa orang itu? Ia tidak lain ialah Rabi’ bin Khutsaim bin ‘Aidz rahimahullah. Ia ialah murid Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, nan menjadi pewaris ilmunya, peneladan akhlaknya, imam dalam ibadah, zuhud, dan wara’.

Rabi’ tidak suka memperlihatkan amal ibadahnya. Ia bahkan berupaya menyembunyikan ibadahnya. Ketika ada orang menemuinya sedang ia sedang memegang mush’af al-Qur’an, ia menutupinya dengan kain agar tidak terlihat. Rabi’ tak melakukan shalat sunnah di masjid jami’. Ia hanya satu kali orang-orang melihatnya mengerjakan shalat sunnah. Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah telah mencapai tingakt rasa takut kepada Allah Azza Wa Jalla nan sangat tinggi. Hatinya selalu dipenuhi oleh khasyatillah (takut kepada Allah). Orang nan keadaan seperti itu, niscaya akan ringan bagi dari segala musibah dan ujian dunia.

Suatu kali. Rabi’ pergi bersama dengan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Mereka berdua melihat tukang besi. Mereka berdua melihat besi nan sedang menyala dan ditempa. Lalu, Ibnu Mas’ud melanjutkan ke loka lain. Sampai ditepian sungai Eufrat. Ditepian sungai nan membelah kota Bagdad itu, mereka berjumpa dengan seorang pandai besi nan mengerjakan pembuatan perkakas. Saat melihat barah nan menyala-nyala itu, Abdullah bin Mas’ud membacakan ayat al-Qur’an : “Apabila neraka itu melihat mereka dari loka nan jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. Dan, apabila mereka dilemparkan ketempat nan sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan”. (al-Furqan :25:12-13). Saat itu, tiba-tiba Rabi’ pingsan, dan digotong ke rumahnya. Abdullah bin Mas’ud menunggui sampai dhuhur. Belum juga siuman. Sampai ashar belum juga siuman. Dilanjutkan sampai magrib. Belum juga siuman. Baru sesudah itu, Rabi’ siuman, kemudian Abdullah bin Mas’ud meninggalkannya. Itulah kondisi orang-orang nan bertaqwa.

Seorang dari Bani Taymillah bercerita, dan pernah mendampingi Rabi’ selama dua tahun. Selama dua tahun itu, orang menceritakan, bahwa Rabi’, hanya berbicara satu kali, nan berkaitan dengan dunia, dan dalam bentuk pertanyaan. “Apakah ibumu masih hidup? Berapa masjid dilingkunganmu?”. Orang nan hatinya sibuk dengan zikrullah, tidak memiliki kesempatan menyebut-nyebut dunia.

Pernah Rabi’ terkena penyakit lumpuh dalam waktu nan lama. Suatu ketika ia ingin makan daging ayam. Namun, ia menahan keinginannya itu selama empat puluh hari. Baru, ia berkata kepada istrinya : “Aku ingin makan daging ayam sejak empat puluh hari nan lalu, agar keinginanku bisa diredam”, ucapnya. “Subhanllah.Mengapa itu tak engkau lakukan?”, sahut istrinya. Maka, istrinya menyuruh seseorang pergi ke pasar membeli ayam. Lalu, disembelihnya ayam itu. Usai menyembelih ayamnya, lalu memasak ayam itu, dan dicampur dengan roti, kemudian istrinya menghidangkan kuliner itu kepada suaminya.

Betapa. Saat Rabi’ akan makan hidangan ayam beserta roti, di depan pintu datanglah seorang pengemis dan meminta- “Berikanlah ini kepadanya. Semoga Allah Azza Wa Jalla memberkahi”, kata Rabi’ kepada istrinya. “Subhanallah”, sahut istrinya. “Sudahlah. Berikan kepada dia”, kata Rabi’. Isterinya lalu berkata : “Kalau begitu saya akan melakukan hal-hal nan lebih baik”, tukas istrinya. “Apa?”, tanya Rabi’ kepada istrinya. “Aku akan memberikan uang seharga makanan ini”, jawab isterinya. Setelah isterinya menyerahkan uang itu kepada pengemis itu, lalu Rabi’ berkata :”Berikanlah uang berikut makanan itu seluruhnya”.

Suatu hari datang seoran laki-laki ke rumahnya meminta nasehat. Rabi’ rahimahullah mengambil kertas lalu menulsikan kata-kata : “Katakanlah, marilah kebucakan apa nan diharamkan Tuhanmu,yaitu : Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu (ibu-bapak), dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu sebab takut miskin. Kami akan memberi rezeki kepada kamu dan mereka,dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan keji, janganlah kamu membunuh jiwa nan diharamkan oleh Allah, melainkan dengan karena nan benar”.

Rabi’ bin Khutsaim telah memberikan teladan. Memberikan pelajaran. Memberikan arahan. Semua menjadi jalan menuju kehidupan nan diridhai Allah Azza Wa Jalla. Tak ingin mendapatkan murkaNya, kelak di akherat nanti. Wallahu ‘alam.

Peradaban

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy