Adakah Ramadhan di Sini?

Adakah Ramadhan di Sini?

Sekitar pukul dua belas siang, dari kejauhan, samar-samar gema adzan telah dikumandangkan. Saya langkahkan kaki menuju masjid buat melaksanakan sholat zhuhur. Asa saya, semoga di masjid nanti aku dapat melaksanakan sholat secara berjamaah.

Siang itu matahari terasa terik. Saya merasakan panasnya menembus jaket dan pakaian nan melindungi tubuh saya. Keringat mulai membasahi kening saya. Jalan nan aku lewati begitu sepi, tidak satu orang pun aku lihat nan berangkat ke masjid. Hanya beberapa anak kecil nan sedang asyik bermain di depan halaman rumah. Mungkin mereka juga enggan bermain di luar, panas.

Setelah melangkah beberapa puluh meter, akhirnya aku temukan bangunan nan aku tuju, sebuah masjid. Letaknya di ujung jalan kampung, tak begitu strategis. Berbeda dengan masjid-masjid lain nan biasanya di bangun di dekat perempatan jalan atau di pinggir jalan.

Udara sejuk menyelimuti tubuh aku ketika aku berada di lingkungan masjid tersebut. Sesaat sebelum menuju loka wudhu, aku sempatkan memperhatikan keadaan masjid tersebut, sepi. Saya hanya menemukan seorang bapak nan sedang sholat sendirian di bagian samping masjid.

Setelah berwudhu, aku kembali memperhatikan keadaan masjid tersebut. Pintu-pintunya terkunci rapat. Bapak nan tadi aku lihat sedang sholat sudah pergi. Sebuah sajadah berwarna kuning nan tadi digunakan oleh bapak tersebut terselip di bagian atas pintu masjid. Sebelum aku memulai sholat, seorang laki-laki nan bermaksud buat sholat datang. Akhirnya aku putuskan buat sholat berjamaah bersamanya.

Selesai sholat, kembali aku melayangkan pandangan ke sekeliling masjid ini. Bangunan ini dikelilingi oleh pohon bambu nan tinggi-tinggi dengan jumlah nan cukup banyak. Mungkin itu penyebab kenapa udara di masjid ini terasa sejuk. Panas nan aku rasakan tadi dalam perjalanan tidak aku rasakan ketika aku sudah berada di dalam masjid ini.

Sepi. Mungkin hanya pohon-pohon bambu itu saja nan secara rutin hadir di setiap waktu sholat di masjid ini. Mereka senantiasa bertasbih, mensucikan Sang Pencipta, seiring tiupan angin di sela-sela batang dan dedaunannya. Begitulah pikiran aku berkelana sejenak.

Tak seorangpun aku temukan di dalam masjid. Sedetik kemudian aku bertanya-tanya dalam hati. Apakah para jamaah sudah kembali ke rumah masing-masing? Secepat itukah? Atau memang beginilah keadaan masjid ini setiap waktu sholat? Sepi? Inikah bulan Ramadhan, tidak adakah jama’ah nan i’tikaf buat berdzikir atau tadarus?

Setelah mengintip keadaan bagian dalam masjid dari kaca jendela, akhirnya aku putuskan buat meninggalkan masjid tersebut. Setelah beberapa langkah aku keluar dari wilayah masjid tersebut, aku kembali menoleh ke belakang. Saya ingin tahu apa nama masjid itu. Tapi tidak aku temukan sebuah papan nama, atau mungkin aku melihat pada sisi masjid nan salah.

Saya tinggalkan masjid itu dalam keadaan sebagaimana aku datangi. Sepi. Adakah Ramadhan di sini?

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy