Ah, Itu Kan Cuma Dosa Kecil!

Ah, Itu Kan Cuma Dosa Kecil!

“Ah, itu kan cuma dosa kecil, Mas!”

Ungkapan seperti ini sering terdengar. Entah di lingkungan sekitar rumah, di warung-warung, atau di kalangan pekerja kantoran. Apa nan mereka sebut dosa kecil? Menurut pengalaman saya, gurauan atau candaan nan menyerempet porno sering dianggap hal kecil, dan bumbu dalam pergaulan. Selain itu, nan juga cukup sering dianggap enteng ialah gosip, entah ghibah ataupun namimah.

Sebenarnya, apakah ukuran suatu dosa itu dianggap kecil atau besar? Saya mendiskusikan hal itu dengan jamaah Masjid di dekat rumah.

Salah seorang jamaah menjawab dengan membacakan hadist berikut: “Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, Shalat lima waktu, dari (shalat) Jumat ke (shalat) Jumat nan lain dan dari (puasa) Ramadhan ke (puasa) Ramadhan nan lain ialah penghapus dosa-dosa kecil di antara waktu-waktu tersebut selama tak melakukan dosa besar” (HR Muslim no. 233).

Ada pula firmanNya, nan berarti, "(Yaitu) orang nan menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji nan selain dari kesalahan-kesalahan kecil" (QS: An Najm: 32).

“Jadi, intinya, ” lanjut salah satu jamaah tadi, “Allah dan RasulNya sendiri nan sudah melakukan pembagian dosa besar dan dosa kecil ini. ”

“Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa nan dimaksud dengan dosa besar ialah setiap dosa nan diancam dengan siksa spesifik seperti berzina, mencuri, durhaka kepada kedua orangtua, menipu, bersikap dursila kepada kaum muslimin dan lainnya”

“Lalu, bagaimana dengan dosa kecil?” Tanya saya.

Jamaah nan lain menjawab, “Dosa jenis ini terjadi sebab sulit bagi kita buat menghindarinya. Terkadang kita melakukannya pun tanpa sadar. Misalnya, ketika harus berdesak-desakkan di bus atau Kereta, dan tanpa sengaja harus bersentuhan dengan versus jenis. Kata kunci di sini ialah tanpa sengaja. ”

“Bagaimana kalau sengaja?” Tanya jamaah lainnya, “Apakah masih dapat dianggap dosa kecil?”

Ada nan menjawab, “Para ulama, tentu berdasarkan dalil-dalil, sepakat bahwa besar kecilnya dosa pada dasarnya ditentukan bukan semata-mata dari jenis pekerjaannya. Di sini berlaku ungkapan, bahwa tak ada dosa kecil selama si pelaku mengangagap remeh dosa tersebut.

“Misalnya seorang laki-laki memandang wanita dan ini ialah zina mata, namun zina mata lebih kecil dari zina kemaluan. Tapi dengan melakukannya monoton maka dia akan menjadi besar. Sebab tak ada dosa kecil kalau dilakukan terus-menerus, sebagaimana dikatakan seorang salaf: ‘Tidak ada nan namanya dosa kecil kalau dilakukan monoton dan tak ada dosa besar apabila diiringi dengan taubat."

“Dosa kecil pun bisa menjadi besar jika si pelaku justru merasa bangga dengan kelakuannya tersebut. Perasaan bangga gembira dan bahagia terhadap dosa, menjadikan dosa tersebut menjadi besar. Ketika rasa bahagia kepada dosa kecil sudah mendominasi diri seseorang, maka menjadi besarlah dosa kecil tersebut, dan besar pula pengaruhnya buat menghitamkan hatinya. Sampai-sampai ada nan merasa bangga sebab dapat melakukan sebuah dosa, padahal kegembiran pada sebuah dosa lebih besar dari dosa itu sendiri. Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya orang-orang nan ingin agar (berita) perbuatan nan amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang nan beriman, bagi mereka azab nan pedih di global dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tak mengetahui. (QS. 24:19)

“Misalnya seperi orang nan berkata: Tidakkah kamu tahu bagaiman saya membuntuti fulan dan sukses melihatnya atau ucapan-ucapan dan perbuatan lainnya nan menunjukkan sikap bangga dan bahagia atas perbuatan dosa. Maka semua itu menjadikan dosa nan semula kecil menjadi besar.

“Sikap santainya dalam melakukan dosa, tak adanya rasa takut kepada Allah SWT dan pengawasan-Nya. Perasaan kondusif dari siksa Allah SWT ialah citra dari menyepelekan tabir Allah SWT. Dia tak sadar bahwa perbuatannya itu mendatangkan murka Allah SWT. Ibnu Abbas r. A. Berkata: Wahai orang nan berdosa, jangan merasa kondusif dari dampak buruknya. Tatkala suatu dosa diikuti oleh sesuatu nan lebih besar dari dosa, jika kamu melakukan dosa, tanpa merasa malu terhadap pengawas nan ada di kanan kirimu, maka kamu berdosa, dan menyepelekan dosa itu lebih besar dari dosa itu sendiri, …, kegembiraanmu dengan dosa ketika kamu sudah melakukannya, itu lebih besar dari dosa itu sendiri, kesedihanmu atas suatu dosa ketika ia lepas darimu (tidak bisa melaksanakannya), maka itu lebih besar dari dosa itu sendiri. Kekhawatiranmu terhadap angin ketika ia menggerakkan daun pintumu pada saat kamu sedang melakukan dosa serta hatimu tak pernah risau dengan supervisi Allah SWT kepadamu, maka itu lebih besar dari dosa itu sendiri."

Saya dan jamaah lainnya mengangguk-angguk. Klarifikasi tersebut sudah cukup panjang. Namun ternyata masih ada kelanjutannya.

“Contoh lainnya ialah seseorang nan melakukan dosa dengan terang-terangan di depan generik atau dengan menceritakannya kepada orang lain padahal jika ia tak menceritakannya orang lain tak ada nan tahu, kecuali dia dengan Rabbnya. Dengan sikap ini berarti ia telah mengundang hasrat orang lain buat melakukan dosa tersebut dan secara tak langsung ia telah mengajak orang lain buat ikut melakukannya. Dalam hal ini ia telah melakukan dua hal sekaligus yaitu dosa itu sendiri ditambah mujaharahnya, sehingga dosanya pun menjadi besar.

Rasulullah SAW bersabda, "Setiap umatku bisa diampuni dosa-dosanya kecuali orang nan mengekspos dosa-nya. Contoh dari mengekspos dosa ialah seorang nan melakukan dosa di malam hari, kemudian pada pagi harinya, padahal Allah SWT telah menutupi dosanya, ia mengatakan: Wahai fulan, tadi malam aku telah melakukan demikian dan demikian. Di malam hari Allah SWT telah menutupi perbuatan dosanya, namun di pagi harinya justru ia sendiri nan menyiarkannya." (HR: Bukhari 5721, Baihaqi 17373, Dailami 4795)

Semua akhirnya terdiam. Mereka sibuk menghitung jejak dosa masing-masing. Jejak dosa nan menyebabkan mereka terhijab dari Allah.

Allah, nan sesungguhnya dekat, jadi terasa jauh, sebab terhijab oleh kesalahan dan kelalaian kita sendiri.

= sabruljamil. Multiply. Com =

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy