Ahli Waris Meninggal Sebelum Pewaris

Ahli Waris Meninggal Sebelum Pewaris

Assalamu’alaikum wrwb.

Mohon diberikan klarifikasi tentang masalah warits keluarga kami, yaitu sbb:

Seorang nenek dengan 3 putra dan 1 putri, telah meninggal tahun 1981.
Pada tahun sebelumnya (1979), putra I meninggal global terlebih dahulu dengan meninggalkan seorang isteri beserta 6 orang anak (2 putra dan 4 putri)

Kemudian Putra II (1 isteri, 4 putra dan 4 putri) dan Putrinya/III (2 putri) juga telah meninggal setelah nenek ini beberapa tahun kemudian, sedangkan nan masih hayati sekarang ini putra IV/bungsu (1 isteri, 2 putra dan 1 putri).

Nenek ini meninggalkan harta berupa tanah (luas : +/- 1900 m2) nan diatasnya berdiri sebuah rumah nenek dengan estimasi harga secara keseluruhannya +/- Rp. 700 juta.
Rumah tsb ditempati oleh putra bungsunya sampai sekarang ini. Memang dalam perawatan rumah ini, banyak biaya nan telah dikeluarkan oleh putra bungsunya tsb (perkiraan biaya nan dikeluarkan sekitar Rp. 100 juta)

Pertanyaannya :

1. Bagaimana kedudukan Alm. Putra I dan anak-anaknya (cucu) dalam pembagian warits berdasarkan hokum islam dan hokum Negara ?
2. Apakah hijab dan mahjub itu ? Berlakukah hal ini terhadap keturunan alm. Putra I dari nenek ini ? Mohon diberikan dalilnya !
3. Bagaimana dengan biaya pemeliharaan rumah dan pekarangan nan dilakukan oleh putra IV (Si bungsu), estimasi biaya nan dikeluarkan sekitar Rp. 100 juta ? Bolehkah putra bungsu ini memiliki rumah ini tanpa melalui proses warisan ?
4. Mohon kami dibantu dalam penghitungan pembagian waritsan dari harta nenek kami ini (Rp. 700.000.000,-) ..!

———————————
Ringkasan masalah :
Almh. nenek tersebut ialah nenek kami sendiri.
Harta nan ditinggalkan rumah dan pekarangan (+/- Rp. 700.000.000,-)
– Th 1979 : Putra I mati (meninggalkan 1 isteri, 2 putra dan 4 putri)
– Th 1981 : Nenek kami wafat
– Th 1987 : Putri III mati (meninggalkan 2 putri)
– Th 1995 : Putra II mati (meninggalkan 1 isteri, 4 putra dan 4 putri)
– ………. : Putra IV (masih ada dan menempati rumah serta pekarangan nenek kami)

Wassalamu’alaikum wr. Wb,
Terima kasih,

Dick Jr
Beijing China
mydick_jr72@yahoo.com

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Dick nan dimuliakan Allah swt

Anak Meninggal Sebelum Ibu

Untuk putra I dari nenek Anda tak berhak atas warisan nan ditinggalkan nenek Anda dikarenakan ia meninggal terlebih dahulu (1979) daripada nenek Anda (1981). Hal itu dikarenakan syarat dari pakar waris (orang nan berhak menerima warisan si mayat) ialah :
a. Tidak ada hal-hal nan menghalangi; seperti : kekufuran, pembunuhan, perbudakan, perzinahan, lian dan tak menangis (menunjukkan tanda-tanda kehidupan) saat dilahirkan.

b. Kematian orang nan mewariskan, sebagaimana firman Allah swt :

إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ

Artinya : “Jika seorang meninggal dunia, dan ia tak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, Maka bagi saudaranya nan perempuan itu seperdua dari harta nan ditinggalkannya.” (QS. An Nisaa : 176)

c. Pakar waris itu hayati ketika orang nan mewariskan meninggal global sebab kepermilikan mensyaratkan orang itu harus hidup. Syeikh Ibnu al Utsaimin mengatakan bahwa Allah swt menyebutkan dalam ayat waris hak-hak pakar waris dengan menggunakan huruf laam nan menunjukkan hak milik dan hak milik tak mungkin ada kecuali buat orang nan masih hidup. (Panduan Praktis Hukum Waris hal 28)

Hajb dan Mahjub

Al Hajb menurut bahasa artinya penghalang, sedangkan menurut istilah ialah penghalang nan menghalangi pakar waris buat mendapatkan seluruh atau sebagian harta warisan. Al Mahjub ialah pakar waris nan terhalangi oleh pakar waris lainnya sehingga bagiannya menjadi lebih sedikit atau tak mendapat bagian sama sekali. Demikian nan terjadi pada anak-anak dari putra I nenek Anda nan dalam hal ini mereka berarti cucu-cucu dari nenek anda, mereka terhalangi dari mendapatkan bagian waris dikarenakan adanya putra-putri langsung dari nenek Anda nan masih hayati setelah nenek Anda meninggal.

Biaya Perawatan Rumah

Sebagaimana kita ketahui bahwa harta waris ialah harta nan dimiliki orang nan meninggalkan warisan kepada para pakar warisnya setelah dikurangi biaya penyelenggaraan jenazah, wasiat dan utang.

Dalam permasalahan biaya perawatan rumah nan telah dikeluarkan putra bungsu selama ini maka apabila putra bungsu itu meniatkan bahwa semua biaya nan dikeluarkannya itu ialah sedekah bagi si mayit maka biaya nan dikeluarkan selama ini dimasukkan kedalam harta peninggalan si mayit. Apabila dia meniatkan bahwa biaya nan dikeluarkan selama ini ialah utang si mayit terhadapnya dengan disertai bukti atau pernyataan dari pakar waris lainnya maka utang ini harus dibayarkan dahulu dari harta peninggalan si mayit baru kemudian sisanya dibagikan kepada semua pakar waris. Akan tetapi apabila tak tampak keduanya, baik disedekahkan atau dianggap utang si mayit maka dikembalikan kepada Norma masyarakat setempat.

Adapun alasan bahwa putra bungsu telah mengeluarkan biaya perawatan nan sedemikian besar sehingga rumah tersebut praktis menjadi miliknya tanpa melalui perhitungan sinkron hukum waris dalam islam maka hal itu tidaklah dibenarkan. Rumah dan semua milik nenek Anda nan ada didalamnya ialah menjadi harta warisannya nan harus dibagikan kepada para pakar warisnya kecuali harta atau barang-barang putra bungsu nan ada didalamnya.

Perhitungan Warisannya

Sebagaimana klarifikasi diatas bahwa putra I dari nenek Anda tidaklah mendapat bagian dikarenakan dia telah meninggal lebih dahulu sebelum meninggalnya nenek anda.

Dengan demikian pakar waris nan ada pada saat nenek Anda meninggal ialah 2 putra dan 1 putri. Kemudian harta warisan belum dibagikan hingga wafatnya dua pakar warisnya, yaitu putra II dan putri III sehingga bagian kedua orang itu menjadi milik para pakar warisnya.

Pada saat nenek Anda meninggal nan menjadi pakar waris ialah ; putra II, putri III dan putra IV. Setiap anak laki-laki mendapatkan bagian dua kali lebih besar dari setiap anak perempuan dan didapat asal masalah mayit I ialah 5, sehingga bagian setiap anak lakinya ialah 2/5 sedangkan anak perempuannya ialah 1/5.

Kemudian Putra II meninggal dengan pakar waris 1 orang isteri, 4 anak laki-laki dan 4 anak perempuan. Isteri ialah 1/8, sisanya 7/8 dibagikan kepada semua anaknya dengan perbandingan setiap anak laki-laki mendapat bagian dua kali lebih besar daripada anak perempuan. Asal permasalahan mayit II ialah (8 X 12 = 96) kemudian kita kalikan Asal masalah I dengan asal masalah II (96 X 5 = 480) dengan demikian bagian isterinya ialah 24/480, setiap anak laki-laki dari putra II ialah 28/480 dan setiap anak perempuannya ialah 14/480 sedangkan bagian saudara laki-lakinya (Putra IV) menjadi 192/480 dan saudara perempuannya (Putri III) menjadi 96/480.

Kemudian putri III meninggal global dan meninggalkan dua orang putri. Dengan damikian dari permasalahan ini didapat bagian 2 orang putri ialah 2/3 sedangkan sisanya (1/3) diberikan kepada saudara laki-lakinya (putra IV) sehingga didapat bagian setiap anak perempuan ialah 1/3 begitu pula bagian saudara laki-lakinya (putra IV) ialah 1/3.

Dengan demikian asal masalah keseluruhannya ialah 480.

Perhitungan terakhir bagian masing-masing dari harta peninggalan nenek Anda ialah :
Putra IV mendapatkan bagian 224/480
Isteri putra II mendapatkan bagian 24/480
Setiap anak laki dari putra II mendapatkan bagian 28/480
Setiap anak perempuan dari putra II mendapatkan 14/480
Setiap putri dari putri III mendapatkan 32/480

Demikianlah perhitungan akhir dari data-data nan Anda utarakan didalam pertanyaan dan aku menganjurkan agar Anda juga menanyakannya kepada Kantor Pengadilan Agama.

Wallahu A’lam

Ustadz menjawab

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy