Akhir Waktu Shalat Lima Waktu

Akhir Waktu Shalat Lima Waktu

Assalamu’alaykum

Ustadz, aku ingin bertanya tentang ciri-ciri bahwa jam/waktu shalat wajib lima waktu sudah masuk. Karena ada teman nan berpendapat bahwa (misalnya) kita masih boleh shalat Ashar sebelum azan shalat Mahgrib. Terima Kasih.

Wassalam,

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Memang sahih bahwa waktu shalat itu sambung-menyambung antara sebelumnya dan sesudahnya. Kecuali satu shalat saja nan setelahnya tak langsung bersambung, yaitu shalat shubuh.

Dan memang waktu-waktu shalat nan tersedia itu diperuntukkan buat aplikasi shalat di dalamnya. Secara hukum, shalat itu tetap absah selama dilakukan masih dalam waktunya, meski di bagian akhirnya.

Walau pun kalau dilihat dari segi keutamaannya, sangat dianjurkan buat shalat di awal waktunya. Dan lebih dianjurkan lagi bila dilakukan secara berjamaah di masjid.

Namun demikian, shalat tetap absah selama dilakukan pada waktunya dan selama waktunya belum habis. Dan waktu shalat itu telah disepakati ulama, sebagaimana hadits-hadits berikut ini.

Waktu-waktu Shalat Fardhu di Dalam Al-Hadits

Sedangkan bila ingin secara lebih spasifik mengetahui dalil tentang waktu-waktu shalat, kita dapat merujuk kepada hadits-hadits Rasululah SAW nan shahih dan qath`i. Tidak kalah qath`inya dengan dalil-dalil dari Al-Quran Al-Kariem. Di antaranya ialah hadits-hadits berikut ini:

Dari Jabir bin Abdullah ra. bahwa Nabi SAW didatangi oleh Jibril as dan berkata kepadanya, "Bangunlah dan lakukan shalat." Maka beliau melakukan shalat Zhuhur ketika matahari tergelincir. Kemudian waktu Ashar menjelang dan Jibril berkata, "Bangun dan lakukan shalat." Maka beliau SAW melakukan shalat Ashar ketika panjang bayangan segala benda sama dengan panjang benda itu. Kemudian waktu Maghrib menjelang dan Jibril berkata,"Bangun dan lakukan shalat." Maka beliau SAW melakukan shalat Maghrib ketika mayahari terbenam. Kemudian waktu Isya` menjelang dan Jibril berkata, "Bangun dan lakukan shalat." Maka beliau SAW melakukan shalat Isya` ketika syafaq (mega merah) menghilang. Kemudian waktu Shubuh menjelang dan Jibril berkata, "Bangun dan lakukan shalat." Maka beliau SAW melakukan shalat Shubuh ketika waktu fajar merekah/ menjelang. (HR. Ahmad, Nasai dan Tirmizy. )

Di dalam Nailul Authar disebutkan bahwa Al-Bukhari mengatakan bahwa hadits ini ialah hadits nan paling shahih tentang waktu-waktu shalat.

Selain itu ada hadits lainnya nan juga menjelaskan tentang waktu-waktu shalat. Salah satunya ialah hadits berikut ini:

Dari `Uqbah bin Amir ra bahwa Nabi SAW bersabda, "Ummatku selalu berada dalam kebaikan atau dalam fithrah selama tak terlambat melakukan shalat Maghrib, yaitu sampai muncul bintang." (HR Ahmad, Abu Daud dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak.)

Lebih Detail Tentang Waktu Shalat Dalam Kitab-kitab Fiqih

Dari isyarat dalam Al-Quran serta keterangan nan lebih jelas dari hadits-hadits nabawi, para ulama kemudian menyusun tulisan dan karya ilmiah buat lebih jauh mendiskripsikan apa nan mereka pahami dari nash-nash itu. Maka kita dapati pelukisan nan jauh lebih jelas dalam kitab-kitab fiqih nan menjadi masterpiece para fuqoha. Di antaranya nan dapat disebutkan antara lain kitab-kitab berikut ini:

  • Kitab Fathul Qadir jilid 1 halaman 151-160
  • Kitab Ad-Dur Al-Mukhtar jilid 1 halaman 331 s/d 343
  • Kitab Al-Lubab jilid 1 halaman 59 – 62
  • Kitab Al-Qawanin Al-Fiqhiyah halaman 43
  • Kitab Asy-Syarhu Ash-Shaghir jilid 1 halaman 219-338
  • Kitab Asy-Syarhul-Kabir jilid 1 halaman 176-181
  • Kitab Mughni Al-Muhtaj jilid 1 halaman 121 – 127
  • Kitab Al-Muhazzab jilid 1 halaman 51 – 54 dan Kitab Kasysyaf Al-Qanna` jilid 1 halaman 289 – 298

Di dalam kitab-kitab itu kita dapati keterangan nan jauh lebih khusus tentang waktu-waktu shalat. Konklusi dari semua keterangan itu ialah sebagai berikut:

1. Waktu Shalat Fajr (Shubuh)

Dimulai sejak terbitnya fajar shadiq hingga terbitnya matahari. Fajar dalam istilah bahasa arab bukanlah matahari. Sehingga ketika disebutkan terbit fajar, bukanlah terbitnya matahari. Fajar ialah cahaya putih agak terang nan menyebar di ufuk Timur nan muncul beberapa saat sebelum matahari terbit.

Ada dua macam fajar, yaitu fajar kazib dan fajar shadiq. Fajar kazib ialah fajar nan `bohong` sinkron dengan namanya. Maksudnya, pada saat dini hari menjelang pagi, ada cahaya agak terang nan memanjang dan mengarah ke atas di tengah di langit. Bentuknya seperti ekor Sirhan (srigala), kemudian langit menjadi gelap kembali. Itulah fajar kazib.

Sedangkan fajar nan kedua ialah fajar shadiq, yaitu fajar nan benar-benar fajar nan berupa cahaya putih agak terang nan menyebar di ufuk Timur nan muncul beberapa saat sebelum matahari terbit. Fajar ini menandakan masuknya waktu shubuh.

Jadi ada dua kali fajar sebelum matahari terbit. Fajar nan pertama disebut dengan fajar kazib dan fajar nan kedua disebut dengan fajar shadiq. Selang beberapa saat setelah fajar shadiq, barulah terbit matahari nan menandakan habisnya waktu shubuh. Maka waktu antara fajar shadiq dan terbitnya matahari itulah nan menjadi waktu buat shalat shubuh.

Di dalam hadits disebutkan tentang kedua fajar ini:

"Fajar itu ada dua macam. Pertama, fajar nan mengharamkan makan dan menghalalkan shalat. Kedua, fajar nan mengharamkan shalat dan menghalalkan makan.." (HR. Ibnu Khuzaemah dan Al-Hakim).

Batas akhir waktu shubuh ialah terbitnya matahari sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini.

Dari Abdullah bin Umar ra. bahwa Rasululah SAW bersabda, "Dan waktu shalat shubuh dari terbitnya fajar (shadiq) sampai sebelum terbitnya matahari." (HR. Muslim)

2. Waktu Shalat Zhuhur

Dimulai sejak matahari tepat berada di atas kepala namun sudah mulai agak condong ke arah barat. Istilah nan sering digunakan dalam terjemahan bahasa Indonesia ialah tergelincirnya matahari. Sebagai terjemahan bebas dari kata zawalus syamsi. Namun istilah ini seringkali membingungkan sebab kalau dikatakan bahwa `matahari tegelincir`, sebagian orang akan berkerut keningnya, "Apa nan dimaksud dengan tergelincirnya matahari?"

Zawalus-Syamsi ialah waktu di mana posisi matahari ada di atas kepala kita, namun sedikit sudah mulai bergerak ke arah barat. Jadi tak tepat di atas kepala.

Dan waktu buat shalat zhuhur ini berakhir ketika panjang bayangan suatu benda menjadi sama dengan panjang benda itu sendiri. Misalnya kita menancapkan tongkat nan tingginya 1 meter di bawah sinar matahari pada permukaan tanah nan rata. Bayangan tongkat itu semakin lama akan semakin panjang seiring dengan semakin bergeraknya matahari ke arah barat. Begitu panjang bayangannya mencapai 1 meter, maka pada saat itulah waktu Zhur berakhir dan masuklah waktu shalat Ashar.

Ketika tongkat itu tak punya bayangan baik di sebelah barat maupun sebelah timurnya, maka itu menunjukkan bahwa matahari tepat berada di tengah langit. Waktu ini disebut dengan waktu istiwa`. Pada saat itu, belum lagi masuk waktu zhuhur. Begitu muncul bayangan tongkat di sebelah timur sebab posisi matahari bergerak ke arah barat, maka saat itu dikatakan zawalus-syamsi atau `matahari tergelincir`. Dan saat itulah masuk waktu zhuhur.

3. Waktu Shalat Ashar

Waktu shalat Ashar dimulai tepat ketika waktu shalat Zhuhur sudah habis, yaitu semenjak panjang bayangan suatu benda menjadi sama panjangnya dengan panjang benda itu sendiri. Dan selesainya waktu shalat Ashar ketika matahari tenggelam di ufuk barat. Dalil nan menujukkan hal itu antara lain hadits berikut ini:

Dari Abi Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Orang nan mendapatkan satu rakaat dari shalat shubuh sebelum tebit matahari, maka dia termasuk orang nan mendapatkan shalat shubuh. Dan orang nan mendapatkan satu rakaat shalat Ashar sebelum matahari terbenam, maka dia termasuk mendapatkan shalat Ashar." (HR. Muslim dan enam imam hadits lainnya).

Namun jumhur ulama mengatakan bahwa dimakruhkan melakukan shalat Ashar tatkala sinar matahari sudah mulai menguning nan menandakan sebentar lagi akan terbenam. Sebab ada hadits nabi nan menyebutkan bahwa shalat di waktu itu ialah shalatnya orang munafiq.

Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Itu ialah shalatnya orang munafik nan duduk menghadap matahari hingga saat matahari berada di antara dua tanduk syetan, dia berdiri dan membungkuk 4 kali, tak menyebut nama Allah kecuali sedikit." (HR. Jamaah kecuali Bukhari dan Ibnu Majah).

Bahkan ada hadits nan menyebutkan bahwa waktu Ashar sudah berakhir sebelum matahari terbenam, yaitu pada saat sinar matahari mulai menguning di ufuk barat sebelum terbenam.

Dari Abdullah bin Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Dan waktu shalat Ashar sebelum matahari menguning." (HR Muslim)

Shalat Ashar ialah shalat Wustha menurut sebagian besar ulama. Dasarnya ialah hadits Aisyah ra.

Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW membaca ayat, "Peliharalah shalat-shalatmu dan shalat Wustha." Dan shalat Wustha ialah shalat Ashar. (HR. Abu Daud dan Tirmizy dan dishahihkannya)

Dari Ibnu Mas`ud dan Samurah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Shalat Wustha ialah shalat Ashar." (HR. Tirmizy)

Namun masalah ini memang termasuk dalam masalah nan diperselisihkan para ulama. Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar jilid 1 halaman 311 menyebutkan ada 16 pendapat nan berbeda tentang makna shalat Wustha. Salah satunya ialah pendapat jumhur ulama nan mengatakan bahwa shalat Wustha ialah shalat ashar. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa shalat itu ialah shalat shubuh.

4. Waktu Shalat Maghrib

Dimulai sejak terbenamnya matahari dan hal ini sudah menjadi ijma` (kesepakatan) para ulama. Yaitu sejak hilangnya semua bulatan matahari di telan bumi. Dan berakhir hingga hilangnya syafaq (mega merah). Dalilnya ialah sabda Rasulullah SAW:

Dari Abdullah bin Amar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Waktu Maghrib sampai hilangnya shafaq (mega)." (HR. Muslim).

Syafaq menurut para ulama seperti Al-Hanabilah dan As-Syafi`iyah ialah mega nan berwarna kemerahan setelah terbenamnya matahari di ufuk barat. Sedangkan Abu Hanifah berpendapt bahwa syafaq ialah rona keputihan nan berada di ufuk barat dan masih ada meski mega nan berwarna merah telah hilang. Dalil beliau adalah:

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Dan akhir waktu Maghrib ialah hingga langit menjadi hitam." (HR. Tirmizy)

Namun menurut kitab Nashbur Rayah bahwa hadits ini sanadnya tak shahih.

5. Waktu Shalat Isya`

Dimulai sejak berakhirnya waktu maghrib sepanjang malam hingga dini hari tatkala fajar shadiq terbit. Dasarnya ialah ketetapan dari nash nan menyebutkan bahwa setiap waktu shalat itu memanjang dari berakhirnya waktu shalat sebelumnya hingga masuknya waktu shalat berikutnya, kecuali shalat shubuh.

Dari Abi Qatadah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah tidur itu menjadi tafrith, namun tafrith itu bagi orang nan belum shalat hingga datang waktu shalat berikutnya." (HR Muslim)

Sedangkan waktu muhktar (pilihan) buat shalat `Isya` ialah sejak masuk waktu hingga 1/3 malam atau tengah malam. Atas dasar hadits berikut ini.

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Seandainya saya tak memberatkan umatku, saya perintahkan mereka buat mengakhirkan/ menunda shalat Isya` hingga 1/3 malam atau setengahnya.." (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmizy).

Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah SAW menunda shalat Isya` hingga tengah malam, kemudian barulah beliau shalat." (HR. Muttafaqun Alaihi).

Dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Waktu shalat Isya` hingga tengah malam." (HR Muslim dan Nasai)

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Shalat

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy