Akhwat (Dilarang) Pulang Malam

Akhwat (Dilarang) Pulang Malam

“Akhwat itu tak baik pulang malam!”
Teguran tersebut tak bisa begitu saja diterima oleh akhwat. Tuntutan kuliah, tugas, dan amanah seperti BEM dan organisasi lainnya nan belum terkondisikan, seringkali memposisikan mereka buat pulang larut malam. Bahkan, saat ini, kenyataan seorang akhwat nan pulang larut malam seolah menjadi hal nan biasa.

Tapi, percayalah bahwa sebenarnya dalam lubuk hati nan terdalam, para akhwat pun merasa tak nyaman jika harus pulang malam. Ada beban mental menghadapi tanggapan dan pandangan masyarakat. Ada kecemasan akan pelanggaran kode etik tidak tertulis mengenai bagaimana sikap dan perbuatan seorang “wanita baik-baik” di mata sosial nan menganut penuh prinsip budaya ketimuran.

Memang, kesemuanya itu hanyalah peraturan dan pandangan nan dibuat oleh manusia, bukan peraturan Al-Quran maupun hadis nan tidak bisa dirubah. Akan tetapi kita ini hayati bermasyarakat, hayati dengan orang lain, tentunya harus menghormati peraturan nan ada. Dengan demikian kita bisa mencerminkan bahwa Islam juga sangat mempertimbangkan keutamaan muamalah. Dan dengan menghargai peraturan nan ada di masyarakat (tentu peraturan nan logis dan tak bertentangan dengan nilai-nilai syariat Islam), kita telah melakukan sebagian dari dakwah.

Mari membangun persepsi terlabih dahulu mengenai parameter kata malam. Drs. Moh. Rifa’i dalam bukunya nan berjudul “Risalah Tuntunan Sholat Lengkap”, khususnya bab salat sunnah tahajud, memaparkan pembagian malam menjadi tiga, yaitu:
Sepertiga malam pertama : pukul 19.00-22.00
Sepertiga malam kedua : pukul 22.00-01.00
Sepertiga malam ketiga : pukul 01.00-menjelang subuh

Dengan demikian, waktu malam terhitung sejak sekitar pukul 19.00. Akan tetapi sebagian aktivis terkadang membuat kebijakan tentang malam nan dimaksud, misalnya malam dimulai sejak maghrib, atau malam ialah lebih dari pukul 21.00. Pembuatan kebijakan tersebut sebenarnya sah-sah saja dengan syarat sang pembuat kebijakan memang mengetahui seluk beluk lingkup penerapannya sehingga menimbulkan kebaikan bagi sasaran. Yang jelas, waktu-waktu di atas pukul 21.00 ialah waktu nan sudah teramat malam bagi muslimah atau wanita buat berada di luar rumah.

Kembali pada soal akhwat nan pulang larut malam. Sebenarnya, apakah penyebab akhwat dipandang tak baik dan bahkan dilarang buat pulang malam? Adakah dalil nan menyatakan bahwa akhwat dilarang pulang malam?

Akhwat dilarang buat pulang malam pada dasarnya ialah buat menghindari dua fitnah. Yang pertama ialah rekaan keamanan. Memang sudah diartikan secara klasik bahwa pada malam hari nan gelap, kriminalitas dan kejahatan akan banyak dilakukan, di mana pun tempatnya dan apa pun bentuknya. Selain itu, dalam QS. Al-Falaq ayat 1-3 ( Katakanlah: “aku berlindung kepada Tuhan nan menguasai subuh, dari kejahatan makhluknya, dan dari kejahatan malam apabila gelap gulita….”) disebutkan “kejahatan malam apabila gelap gulita”. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Quran pun telah mengisyaratkan bahwa pada malam hari ada banyak kejahatan dilakukan. Hal tersebut tentu akan menjadi ancaman berbahaya, khususnya bagi para akhwat nan tidak bisa dipungkiri bahwa mayoritas tak mampu melakukan pelindungan diri dari kejahatan.

Sedangkan rekaan nan kedua ialah rekaan khalwat dengan lain jenis. Pada kondisi tertentu, ketika akhwat tak berani pulang sendirian pada malam hari, maka akan ada ikhwan nan merasa kasihan dan kemudian mengantarkannya. Semoga niatnya tercatat sebagai kebaikan. Namun, pulang larut malam bersama versus jenis bukanlah sebuah tindakan nan bijak sebab justru akan menimbulkan berbagai macam anggapan masyarakat, misalnya tentang “apa nan dilakukan oleh sepasang ikhwan dan akhwat sampai malam begini?”. Juga asumsi-asumsi lain nan nantinya berbuah fitnah.

Para ulama pun telah memberi isyarat bahwa malam hari itu banyak bertebaran rekaan sehingga lebih baik banyak berzikir di rumah dari pada berkeliaran di luar rumah.
Fitnah-fitnah nan ada (terutama nan sebenarnya dapat dicegah tapi timbul sebab perbuatan sendiri) akan berpotensi menurunkan izzah (wibawa, harga diri, kemuliaan) seorang akhwat. Padahal, seorang akhwat dengan segala atribut kemuslimahannya harusnya memiliki dan mampu menjaga izzah serta menjadi teladan kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya. Tidak pulang larut malam ialah salah satu bentuk dakwah dengan keteladanan.

Memang, tak ada dalil nan melarang akhwat pulang malam, tapi justru lebih dari itu, dalam sebuah hadis disebutkan, “Tidak halal bagi wanita Muslimah buat bermusafir kecuali bersamanya mahromnya” (HR:Bukhori).

Pergi bersama mahromkah para akhwat nan pulang malam itu? Kebanyakan tidak. Dalam hadis tersebut bahkan wanita dilarang keluar rumah sama sekali. Namun, dalam menyikapi hadis ini, para ulama shalafussolih telah memberikan batasan-batasan nan sangat tegas bahwa muslimah diharamkan bepergian tanpa mahromnya kecuali dalam tiga hal, yaitu: buat menyelamatkan akidahnya, menuntut ilmu, dan buat hal-hal nan bersifat durori. Semoga ini dapat menjadi pertimbangan dalam menanggapi embargo pulang malam.

Fenomena akhwat pulang malam memang seperti sulit dihindari jika alasannya tugas dan amanah. Apalagi bagi akhwat nan tinggal di kos-kosan atau kontrakan nan notabene tak mendapat supervisi intensif orang tua. Mereka, termasuk diri ini, akan lebih bebas buat pulang larut malam.

Saya teringat nasehat seorang saudara nan mengingatkan ancaman rekaan di malam hari, namun aku meyakinkan bahwa aku akan baik-baik saja. Lantas, beliau mengondisikan aku buat membayangkan jika orang tua kita mengetahui kita, putri kesayangannya, pulang larut malam. Akan ridakah mereka? Tentu tidak. Mereka akan sangat risi jika putrinya belum pulang ketika malam beranjak larut. Kita hanya akan menyiksa mereka dalam kecemasan. Lalu, jika orang tua pun tak rida, bagaimana dengan Allah? Sementara “rida Allah bergantung pada rida orang tua, dan kemurkaan Allah bergantung pada kemurkaan orang tua” (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim). Jika Allah tak rida, berarti sia-sia saja apa nan telah dan akan kita lakukan.

Jika kita konfiden bahwa dua rekaan nan dipaparkan di atas akan jauh dari kita, sehingga merasa saah saja pulang malam, jangan lupakan juga bahwa kita memiliki dan harus menjaga izzah sebagai muslimah. Selain itu, pertimbangkan pula keridaan orang tua atas apa nan kita lakukan, karena rida Allah bergantung pada rida mereka.

Sebaiknya, kita lebih selektif lagi dalam mengikuti kegiatan nan selesai di malam hari. Apalagi jika kita pergi tanpa mahrom. Semoga pemikiran dengan bahasa sederhana ini bisa bermanfaat bagi kita. Menjadi renungan bagi diri sendiri dan kita semua, akhwat nan terjaga izzahnya. Wallahoa’lam bishowab.

Akhwat

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy