Aku Harus Berdagang, Sahabatku

Aku Harus Berdagang, Sahabatku

WAFATNYA Rasulullah saw menyisakan banyak hal. Semuanya masih tertegun mengikuti kekosongan itu seakan tidak percaya bahwa sang pembimbing telah tiada. Dari keterkejutan nan amat sangat, ketiadaan telah menjadi fenomena nan tidak dapat dicegah oleh siapapun. Umar bin Khattab nan kelihatan paling terpukul atas kejadian itu masih sempat berujar keras, “Siapa nan mengatakan bahwa Muhammad telah mati, saya tebas lehernya..!”

Namun waktu menyodorkan bukti bahwa Rasulullah saw ialah manusia biasa juga. Sudah saatnya ia menghadap Sang Pencipta nan dikasihinya. Bahkan ketika Rasulullah saw menyatu dengan bumi, Mekkah masih diselimuti duka.

Tapi itu jelas tidak boleh berkepanjangan. Umat ini memerlukan sebuah arahan nan jelas. Bolehlah beberapa saat kaum Muslimin merasakan kegetiran, tapi bukankah kehidupan masih terus berjalan? Maka segenap sahabat segera berkumpul. Sine qua non nan meneruskan kepemimpinan. Tapi siapa? Masyarakat dalam kebingungan. Rasulullah saw sampai akhir hayatnya tak sekalipun menunjuk seseorang buat menggantikannya. Pun tak dari golongan Muhajirin dan Anshar. Kedua golongan itu masing-masing berusaha mengajukan tokohnya sebagai penerus Rasul.

Kondisi ini sempat memunculkan kegamangan. Masyarakat Anshar menyelenggarakan musyawarah di gedung rendezvous Bani Saidah buat mengangkat khalifah dari kalangan mereka sendiri. Mereka telah sepakat memilih Said bin Ubaidillah-seorang pemuka dari suku Khajraj. Mengetahui ini, Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah bergegas menuju loka diselenggarakannya musyawarah kaum Anshar tersebut.

“Wahai kaum Anshar,” Abu Bakar berujar setelah sampai di loka nan dituju. “Sesungguhnya perjuangan kalian dalam Islam tak ada bandingannya. Sungguhpun demikian, seluruh Arab tahu bahwa tak ada nan lebih disegani selain daripada kaum Quraisy…”

Kaum Anshar terdiam. Tapi kemudian seorang berujar, “Kalau begitu hai Abu Bakar, pilihlah seseorang buat kaummu sendiri, dan kami pun memilih seseorang buat kaum kami…”

Menanggapi usulan itu, Umar berkata dengan tegas. “Ingatlah kamu sekalian, bahwa dua pemimpin tak bisa berkuasa bersama.”

Abu Bakar segera menyusul apa nan dikatakan oleh Umar, “Kalau begitu, hendaklah kamu sekalian memilih di antara Umar atau Abu Ubaidah sebagai Khalifah!”

Umar dan Ubaidah jelas kaget. Kedua tokoh nan diusulkan Abu Bakar itu menolak. “Tidak, kami tak mempunyai kelebihan dari kamu semua dalam hal ini.”

Dalam situasi musyawarah nan semakin kritis, Umar mengangkat tangan Abu Bakar seraya menyampaikan sumpah setia kepadanya dan membaiatnya sebagai khalifah. Sikap Umar tersebut diikuti oleh Abu Ubaidah dan tokoh–tokoh Anshar nan hadir dalam rendezvous tersebut. Mereka semua menyatakan kerelaannya membaiat Abu Bakar sebagai khalifah, yakni sebagai penerus tampuk kepemimpinan umat Islam nan semula dijabat oleh Rasulallah saw.

Hari-hari pertama Abu Bakar sebagai Khalifah sungguh berat. Entah harus dari mana dahulu memulai. Sebab Rasulullah saw memang tak pernah mengatakan apa-apa tentang hal ini. Namun ada nan cukup menyita perhatian Abu Bakar. Dari mana kemudian ia harus menghidupi keluarganya? Abu Bakar melihat, dahulupun Rasulullah saw mengusahakan pencahariannya sendiri. Sambil mengatur jalannya pemerintahan, Rasulullah saw juga melakukan sesuatu buat menopang kehidupannya. Setahunya, tak pernah sekalipun Rasulullah saw meminta dari siapapun. Rasulullah saw selalu berusaha mandiri.

Maka Abu Bakar pun memulai lagi rencana-rencananya. Ia masih harus pergi ke pasar hari ini buat berdagang. Karena hanya dengan berdaganglah ia dapat mencari pencaharian untuknya dan keluarganya.

Mekkah sudah kembali normal. Aktivitas sudah mulai berjalan lagi, dan pasar dipenuhi orang-orang. Abu Bakar menggesa langkahnya. Tiba-tiba dari arah nan antagonis dilihatnya Umar bin Khattab sahabatnya.

“Hendak kemana engkau?” Umar berujar demi dilihat sahabatnya itu begitu tergesa-gesa.

“Ke pasar…..”

Umar mengernyitkan dahinya. “Ke pasar? Untuk apa?”

“Aku harus berdagang, sahabatku…”

Umar masih terus mengernyitkan dahinya. “Engkau? Untuk apa?”

Abu Bakar menarik napas, “Sahabatku, dengan apa saya harus memberi makan keluargaku?”

Umar tertegun. “Sekarang, engkau ini seorang khalifah, ya Abu Bakar…”

“Ya, memang betul,” Abu Bakar menyahut. “Tapi jika saya tak berikhtiar, saya tak akan mendapatkan rezeki. Aku juga mempunyai pertaggungjawaban terhadap keluargaku-istri dan anak-anakku. Ada hak mereka nan harus saya tunaikan.”

Umar semakin tertegun. Akhirnya Ia berkata, “Jika engkau berdagang, bagaimanakah engkau mengatur umat, ya Khalifah? Sesungguhnya sine qua non nan menanggung penghidupanmu. Aku akan mengusulkan agar Baitulmall mulai saat ini menggajimu. Aku tahu engkau akan keberatan, tapi ini agar engkau, sahabatku, dapat berkonsentrasi melakukan pekerjaanmu…”

Abu Bakar sangat terharu. Ia tertunduk. Sejak saat itu Abu Bakar benar-benar hanya mengurus kekhalifahan saja. Penerus Rasulullah saw itu tenang menjalankan tugasnya tanpa harus dibebani oleh urusan mencari penghidupan.

Peradaban

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy