Amplop Kosong

Amplop Kosong

Mang Udin, orang nan terkenal, mempunyai kedudukan, serta dikenal masyarakat luas. Belum lama ini mengadakan hajatan, menikahkan anaknya, si Oja. Undanganya, nan disebar, lumayan banyak, kalau tak salah, jumlahnya hampir 5000 undangan. Tak ada nan terkecuali.

Jauh-jauh hari Mang Udin sudah mempersiapkan pernikahan anaknya si Oja. Pernikahan nan akan dilangsungkan itu, ingin menjadi kenangan nan indah, bagi keluarganya. Tenda, kursi, pelaminan, dan gono-gini, nan bakal diberikan kepada calon sang ‘menantu’ juga sudah siap. Lemari, kasur, termasuk ‘cover bad’, sudah dibeli. Tinggal dibawa saat berlangsung akad nikah antara si Oja dengan Melani. Pokoknya, Mang Udin sebagai sang ‘tokoh’ tak ingin mengecewakan bakal menantu, serta sang besan. Apalagi, ia sudah dikenal masyarakat luas sebagai tokoh.

Hari nan ditunggu-tunggu tiba. Hari Kamis. Dari mulai pagi para tamu sudah berdatangan. Sampai menjelang malam. Tamu tanpa henti. Para tamu dengan gembira berdatangan silih berganti. Mereka memberikan ucapan selamat kepada mempelai, dan tidak lupa kepada shohibul hajat, yaitu Mang Udin. Orkes gambus tidak henti-hentinya menyenandungkan lagu. Dengan penyanyi nan menggunakan kerudung. Lagunya campur-campur. Saban-saban lagu melayu, pop, tapi juga diselingi dengan lagu-lagu nan menggunakan bahasa ‘arab’, dan menghibur.

Mang Udin, isteri, mantu, dan besan,  menampakkan keramahannya, tersenyum dan menyalami para tamu. Sikapnya penuh kehangatan. Menunjukan kegembiraan dan penghormatan kepada para tamunya. Tak rugi Mang Udin nan sudah menyembelih dua ekor sapi jantan, dan enam ekor kambing, serta beberapa puluh ekor ayam, dan tamunya merasa bahagia dan menikmati jamuan itu. Masih ditambah dengan makanan kecil, serta es, dan buah-buahan, nan diambil dari kebonnya, nan sedang panen. Berkarung-karung rambutan menjadi ‘pencuci’mulut, bagi para tamu nan usai makan.

Di depan, para penerima tamu, tidak kalah ramahnya dibanding dengan Mang Udin, dan mereka semuanya menggunakan seragam batik. Laki-laki berdiri di depan dengan penuh takzim menyambut para tamu. Sementara wanitanya mengunakan kebaya dan berkerudung menyambut para ibu-ibu nan datang berbondong-bondong. Barangkali para penerima tamu wanita, merasa keletihan, sebab dari pagi sampai malam harus berdiri, sambil terus menyalami dan mengantarkan para tamu ibu nan baru datang.

Tak lupa Mang Udin dan isterinya juga sudah menyediakan kotak besar, nan digunakan buat menerima ‘amplop’ dari para tamu, nan dari jumlah undangan nan sudah diedarkan itu, berjumlah 5000 undangan. Melihat banyak tamu nan hadir dan tidak putus-putus itu, di raut wajahnya sudah terbayang, bakalan ‘surplus’, dari hajatan pernikahan anaknya itu. Setidaknya, kapital nan digunakan buat membiayai pernikanah anaknya bakal balik. Sampai menjelang maghrib, kotak besar itu, sudah hampir tak muat. Setiap tamu nan akan memasukkan amplop ke dalam kota itu, terpaksa harus dibantu oleh para penerima tamu, agar amplop itu dapat masuk ke dalam kotak. Karena sudah penuh sesak.

Menjelang jam 10.00 malam pesta usai. Mang Udin, isteri, mantu, dan besan, meninggalkan loka pesta. Meski, orkes masih berbunyi, tidak mau berhenti. Anak-anak muda masih belum beranjak, dan tetap duduk dibangku, nan sudah ditinggalkan tamu. Mereka tetap menikmati lagu-lagu orkes, nan semakin malam, semakin semangat.

Besoknya, Mang Udin dan isteri, mulai membuka amplop nan berjibun itu. Satu-satu dibukanya dengan penuh perhatian. Dibacanya nama-nama penyumbang. Wajahnya kadang-kadang berseri, kadang nampak berkerinyit, dan sambil menghela nafasnya panjang.

Tak menyangka hal itu bakal terjadi. Seperti sebuah mimpi buruk, nan ia tak percaya,dan menyakini, apa nan dihadapinya, sesudah membuka amplop itu semuanya. Dari amplop nan dibukanya itu,  nan jumlahnya hampir 4500 itu, tidak mencapai mencapai 30 juta. Mang Udin tetap duduk tertegun, di depan amplop, nan berserakan dan isinya sudah kosong itu.

Tentu, nan tidak habis pikir, sebagian besar isi amplop itu, hanya uang Rp 5.000, Rp 1.000, Rp 5.00, bahkan tidak sedikit pula nan kosong. Tanpa isi. Di depan Mang Udin, isterinya, si Siti, tidak henti-hentinya menangis. Pesta pernikahan anaknya sudah menghabiskan Rp 80 juta. Dari mana lagi, Mang Udin harus mengembalikan modalnya itu. Sementara, amplop nan sudah di itung jumlahnya tidak sampai Rp 30 juta. Ini nan membuat mpok Siti menangis terus.

Lalu, beredar cerita amplop nan isinya banyak uang Rp 5.000an itu, dan bahkan ada nan kosong, tidak lain dampak perbuatan si ‘tuyul’. Mang Udin curiga ada tetangganya, nan pagi buta pukul 3.00 dini hari, berada dilapangan dekat loka pesta pernikahan anaknya, dan hanya menggunakan keben. Wanita inilah nan dicurigai nan menukar dan  pembawa isi amplop itu.

Pokoknya sekarang di kampung Mang Udin ini ramai isu tentang tuyul, nan telah membawa isi amplop itu. Akibatnya, interaksi diantara para tetangga saling curiga. Semuanya terpusat dari pesta Mang Udin, dan cerita tuyul. Wanita nan dituduh mempunyai tuyul itu, kemana-mana selalui dicuragai. Penduduk kampung itu dilanda ketakutan, takut uangnya dibawa lari tuyul.

Padahal, kalau mau berpikir logis, tetangga Mang Udin, banyak pengangguran, tukang ojek, kuli batu, pemulung, dan orang-orang nan kerjanya serabutan. Jadi bukan sebab tuyul, amplop nan isinya hanya Rp 5.000 dan sebagian kosong, hanyalah dampak kondisi masyarakat nan berat, dampak tak ada pekerjaan. Ada orang kaya nan tinggal di kampung itu, tapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan. Kemiskinan nan sangat akut dan dahsyat telah  mendera kehidupan rakyat dikampung itu, tidak mampu mengisi amplop, dan memberikan sumbangan kepada Mang Udin nan berarti.

Andai Mang Udin, tinggal di kampung pejabat, dan orang-orang kaya, mungkin isi amplopnya, bukan uang Rp 5.000, Rp 1.000, Rp 5.00, bahkan kosong, tapi mungkin isinya travel check, nan bisa mengembalikan modalnya buat pesta anaknya itu. Bagitulah nasib tinggal di kampung miskin.  Wallahu’alam.

Editorial

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy