Apa Fungsi Iddah Dalam Islam

Apa Fungsi Iddah Dalam Islam

Assalamualaikum wr wb

Ustad nan dirahmati allah

Dalam agama Islam kita mengenal dengan talaq dan iddah bagi wanita nan ditalaq nan mau aku tanyakan apa fungsi iddah dalam Islam dan kenapa sine qua non iddah bagi wanita dan bagi laki-laki tidak

Atas jawabannya makasi banyak mudah2-an allah berikan ustad kesehatan dan segala lancar amin

‘Iddah ialah masa di mana seorang wanita nan diceraikan suaminya menunggu. Pada masa itu ia tak diperbolehkan menikah atau menawarkan diri kepada laki-laki lain buat menikahinya. ‘Iddah ini juga sudah dikenal pada masa jahiliyah.

Setelah datangnya Islam, ‘iddah tetap diakui sebagai salah satu dari ajaran syari‘at sebab banyak mengandung manfaat. Para ulama telah sepakat mewajibkan iddah ini nan didasarkan pada firman Allah Ta‘ala:

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ ثَلاَثَةَ قُرُوَءٍ

Wanita-wanita nan dithalak hendaklah menahan dini (menunggu) selama tiga masa quru’. (Al—Baqarah: 228)

Lama masa quru` diada dua pendapat. Pertama, masa kudus dari haidh. Kedua, masa haid sebagaimana nan disabdakan Rasulullah SAW

“Dia (isteri) ber’iddah (menunggu) selama tiga kali masa haid. “(HR Ibnu Majah)

Demikian pula sabda beliau nan lain:

“Dia menunggu selama hari-hari quru’nya. “(HR Abu Dawud dan Nasa’i)

Hukum ‘Iddah

‘Iddah wajib bagi seorang isteri nan dicerai oleh suaminya, baik cerai sebab kernatian maupun cerai sebab faktor lain. Dalil nan menjadi landasan nya ialah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Orang-orang nan meninggal global di antara kalian dengan mening galkan isteri-isteri, maka hendaklah para isteri itu menangguhkan diri nya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari.“(Al-Baqarah: 234)

Dan firman-Nya nan lain:

“Wahai orang-orang nan beriman, apabila kalian menikahi wanita- wanita nan beriman, kemudian kalian hendak menceraikan mereka sebelum kalian mencampurinya, maka sekali-kali tak Wajib atas mere ka ‘iddah bagi kalian nan kalian minta menyempurnakannya. Maka berilah mereka mut’ah dan lepaskanlah mereka itu dengan cara nan sebaik-baiknya.“ (A1-Ahzab: 49)

Yang dimaksud dengan “mut’ah” di sini ialah pemberian buat menyenangkan hati isteri nan diceraikan sebelum dicampuri.

Hikmah Disyari‘atkannya ‘Iddah

  1. Memberikan kesempatan kepada suami isteri buat kembali kepada kehidupan rumah tangga, apabila keduanya masih melihat adanya kebaikan di dalam hal itu.
  2. Untuk mengetahui adanya kehamilan atau tak pada isteri nan dicerai kan. Untuk selanjutnya memelihara jika terdapat bayi di dalam kandungannya, agar menjadi jelas siapa ayah dan bayi tersebut.
  3. Agar isteri nan diceraikan bisa empati kesedihan nan dialami keluarga suaminya dan juga anak-anak mereka serta menepati permintaan suami. Hal ini jika ‘iddah tersebut di karenakan oleh kematian suami.

Larangan Bagi Wanita Yang Sedang Menjalani Masa ‘Iddah.

Di antara nan tak boleh dilakukan oleh wanita nan sedang ber`iddah adalah:

  1. Tidak boleh menerima khitbah (lamaran) dari laki-laki lain kecuali dalam bentuk sindiran.
  2. Tidak boleh menikah
  3. Tidak boleh keluar rumah
  4. Tidak Berhias (Al-Hidad/Al-Ihtidad)
    Seorang wanita nan sedang dalam masa iddah dilarang buat berhias atau bercantik-cantik. Dan di antara kategori berhias itu antara lain adalah:

    • Menggunakan alat perhiasan seperti emas, perak atau sutera
    • Menggunakan parfum atau wewangian
    • Menggunakan celak mata, kecuali ada sebagian ulama nan membolehkannya memakai buat malam hari sebab darurat.
    • Memakai pewarna kuku seperti pacar kuku (hinna`) dan bentuk-bentuk pewarna lainnya.
    • Memakai baju nan berparfum atau dicelup dengan warna-warna seperti merah dan kuning.

Di dalam kitabFiqhussunnah, As-Sayyid Sabiq mengatakan:

“Isteri nan sedang menjalani masa ‘iddah berkewajiban buat menetap di rumahyang ia dahulu tinggal bersama sang suami, hingga selesai masa ‘iddahnya. Dan tak diperbolehkan baginya keluar dan rumah tensebut. Sedangkan suaminya juga tak diperbolehkan buat mengeluarkannya dari rumahnya. Seandainya terjadi perceraian di antara mereka berdua, sedang isterlnya tak berada di rumah di mana mereka berdua menjalani kehidupan rumah tangga, maka si isteri wajib kembali kepada suaminya buat sekedar suaminya mengetahuinya di mana ia berada.

Sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta ‘ala pada surat Ath-Thalaq ayat pertama.”

Apabila isteri nan dithalak itu melakukan perbuatan keji secara terang- terangan memperlihatkan sesuatu nan tak baik bagi keluarga suaminya, maka dibolehkan bagi suami buat mengusirnya dari rumah tersebut, demikian menurut Ibnu Abbas.

Pendapat Sayyid Sabiq di atas juga ditentang oleh Aisyah Radhiyallahu Anha, Ibnu Abbas, Jabir bin Zaid, Hasan, Atha’, dan diriwayatkan dan Ali dan Jabir; di mana Aisyah sendiri pernah mengeluarkan fatwa kepada isteri nan ditinggal wafat suaminya buat keluar dan rumah pada saat menjalani masa ‘iddahnya. Lalu isteri tersebut keluar rumah bersama dengan saudara perempuannya, Ummu Kultsum berangkat ke Makkah buat menjalankan ibadah umrah, yaitu ketika Thalhah bin Ubaid terbunuh.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Nikah

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy