Apa Perlu Saya Lakukan

Apa Perlu Saya Lakukan

Salam ustz…saya ada mitra nan mempunyai masalah suka melancap (beronani)..dia masih belajar…kalau diikutkan keadaanya dia patut menikah..tapai alasannya dia masih belum bersedia…apakah nan teman aku ini perlu lakukan…adakah dia boleh meneruskan perbuatannya itu?

Aiman, malaysia

Saudaraku Aiman di Malaysia nan dimuliakan Allah SWT, awal mula melakukan onani biasanya sebab rangsangan seksual dari lingkungan nan terus menerus. Siaran TV nan seronok, bacaan nan erotik, mata nan tak terjaga, dan percakapan nan diselipi oleh kata-kata porno (walau dengan nada bercanda) ialah contoh lingkungan nan bisa meningkatkan libido seksual. Lalu sebab tak mampu menahan libido tersebut dan belum menikah pelariannya ialah onani (bagi lelaki) atau masturbasi (bagi perempuan). Jika onani dirasakan sebagai pelarian nan menyenangkan, maka hal ini akan diulang-ulang, sehingga menjadi Norma nan sulit buat dihindari.
Solusi dari berhenti onani ialah menikah. Dengan menikah seseorang mempunyai cara nan sehat dan syar’i buat menyalurkan hasrat seksualnya. Namun jika belum siap menikah, maka solusi sementaranya ialah menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan nan positif, menjauhi diri dari lingkungan nan merangsang libido dan memperbanyak ibadah (mendekatkan diri kepada Allah). Jika solusi di atas tak mampu menyelesaikan Norma onani, maka sangat dianjurkan agar kita segera menikah. Itulah sebabnya Rasulullah saw menganjurkan agar pemuda dan pemudi Islam tak menunda-nunda buat menikah. Kehidupan sekarang ini membuat kita terpengaruh buat menunda-nunda menikah dengan berbagai alasan. Misalnya, menyelesaikan kuliah dahulu, mapan dahulu atau mengejar karir lebih dahulu. Alasan nan kelihatannya rasional ini ternyata malah menimbulkan masalah baru nan lebih buruk, yakni munculnya generasi muda nan terperosok pada perzinahan dengan berbagai bentuknya.
Lalu tentang hukum beronani dalam Islam, aku kutip di loka ini pendapat Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan :
“Onani/Masturbasi hukumnya haram dikarenakan merupakan istimta’ (meraih kesenangan/kenikmatan) dengan cara nan tak Allah Subhanahu wa Ta’ala halalkan. Allah tak membolehkan istimta’ dan penyaluran kenikmatan seksual kecuali pada istri atau budak wanita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan orang-orang nan menjaga kemaluannya, [6] kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak nan mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. [QS Al Mu’minuun: 5 – 6]
Jadi, istimta’ apapun nan dilakukan bukan pada istri atau budak perempuan, maka tergolong bentuk kezaliman nan haram. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi petunjuk kepada para pemuda agar menikah buat menghilangkan keliaran dan pengaruh negatif syahwat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah, maka hendaklah dia menikah sebab nikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Sedang barangsiapa nan belum mampu maka hendaknya dia berpuasa sebab puasa itu akan menjadi tameng baginya”. [Hadits Riwayat Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas’ud]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kita petunjuk mematahkan (godaan) syahwat dan menjauhkan diri dari bahayanya dengan dua cara : berpuasa buat nan tak mampu menikah, dan menikah buat nan mampu. Petunjuk beliau ini menunjukkan bahwa tak ada cara ketiga nan para pemuda diperbolehkan menggunakannya buat menghilangkan (godaan) syahwat. Dengan begitu, maka onani/masturbasi haram hukumnya sehingga tak boleh dilakukan dalam kondisi apapun menurut jumhur ulama.
Wajib bagi Anda buat bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tak mengulangi kembali perbuatan seperti itu. Begitu pula, Anda harus menjauhi hal-hal nan bisa mengobarkan syahwat anda, sebagaimana nan Anda sebutkan bahwa Anda menonton televisi dan video serta melihat acara-acara nan membangkitkan syahwat. Wajib bagi Anda menjauhi acara-acara itu. Jangan memutar video atau televisi nan menampilkan acara-acara nan membangkitkan syahwat sebab semua itu termasuk sebab-sebab nan mendatangkan keburukan.
Seorang muslim seyogyanya (selalu) menutup pintu-pintu keburukan buat dirinya dan membuka pintu-pintu kebaikan. Segala sesuatu nan mendatangkan keburukan dan rekaan pada diri anda, hendaknya Anda jauhi. Di antara wahana rekaan nan terbesar ialah film dan drama seri nan menampilkan perempuan-perempuan penggoda dan adegan-adegan nan membakar syahwat. Jadi Anda wajib menjauhi semua itu dan memutus jalannya kepada anda”.
Demikian pendapat Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan nan aku kutip dari buku Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram.
Demikian, semoga bermanfaat.
Salam Berkah!

(Satria Hadi Lubis)
Mentor Kehidupan

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy