Apakah Absah Khutbah Pakai Bahasa Selain Arab?

Apakah Absah Khutbah Pakai Bahasa Selain Arab?

Assalamu’alaikum,

Ustadz nan dirahmati Allah, sebelumnya aku ucapkan terima kasih atas jawaban ustadz. Saya mempunyai teman nan mempunyai keyakinan bahwa khotbah Jumat itu harus pakai bahasa Arab sebab termasuk rukun sholat Jumat, sehingga dia tak mau sholat di masjid lain selain nan memakai bahasa Arab. Dia bilang ada hadist shohih nan mendasari pendapatnya. Apakah memang ada hadist nan demikian? Terima kasih.

Wassalam,

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dasarnya memang bukan hadits melainkan logika ijtihad dari para ulama. Kita tak menemukan hadits nan secara eksplisit mengharuskan khutbah dengan bahasa Arab.

Sekilas memang terkesan lucu bila khutbah harus dengan bahasa Arab, sementara para jamaah nan ikut hadir justru tak dapat bahasa Arab. Sebagian orang cenderung menentang bila khutbah Jumat disampaikan dalam bahasa Arab.

Namun kalau kita teliti lebih dalam, keharusan khutbah Jumat dalam bahasa Arab bukan berarti sepanjang khutbah dari awal hingga akhir harus dengan bahasa Arab. Tetapi cukup pada bagian rukun-rukunnya saja. Dan sebenarnya hal ini tak terlalu menjadi masalah, karena bukan berari khutbah dalam bahasa Indonesia menjadi haram mutlak. Sebab para ulama tak melarang kalau di luar rukun itu ditambahi dengan klarifikasi atau terjemahan dalam bahasa Indonesia, atau bahasa nan dimengerti oleh audiensnya.

Adapun rukun khutbah Jumat itu hanya ada 5 saja, di mana kesemuanya sangat mungkin dilakukan dalam bahasa Arab, bahkan lazim dan tanpa sadar, semua kita telah melakukannya. Umat Islam sedunia niscaya paham dan mengerti makna dari kelima lafadz itu nan menjadi rukun itu, lantaran sudah sedemikian akrab di telinga.

Kelima rukun khutbah jumat itu adalah:

1. Hamdalah

Yaitu lafadz al-hamdulillah dan variannya seperti lafadz innal-hamda lillah. Sedangkan kepanjangannya nan kadang memang terlalu panjang, bukan merupakan keharusan. Cukup dengan lafadz itu saja, sudah terpenuhi rukun pertama.

Dan tak ada masalah dengan lafadz nan satu ini, karena semua orang nan beragama Islam niscaya mengenalnya dalam bahasa Arab. Dan umumnya orang sudah tahu artinya, sehingga tak butuh lagi artinya. Bahkan sebaliknya, bila diucapkan dalam bahasa Indonesia malah terasa aneh, bukan? Sebab telinga kita sudah terbiasa mengucapkannya.

Tetapi kalau mau diterjemahkan ke dalam bahasa Indoneisa, juga tak masalah.

2. Shalawat kepada Rasulullah SAW

Seperti lafadz ash-shalatu ‘ala Muhammad atau allahumma shalli wa sallim ala muhammad, atau nan sejenisnya. Lafadz ini pun sama dengan di atas, sama sekali tak asing lagi. Bahkan malah dapat terdengar aneh bila hanya diucapkan dalam bahasa Indonesia. Tetapi kalau mau dibaca Arabnya lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, juga tak masalah.

Dan cukup dengan lafadz sepotong itu saja, sudah terpenuhi rukun nan kedua. Adapun tambahannnya, seperti wa ‘ala ali muhammad dan seterusnya, bukan merupakan keharusan.

3. Pesan Taqwa atau Wasiat

Intinya meminta kepada jamaah buat bertakwa kepada Allah. Lafadznya pun tak terlalu panjang, misalnya lafadz ittaqullah (takutlah kepada Allah). Satu lafadz ini saja sudah cukup sebagai pesan dalam khutbah jumat.

Kalau mau ditambahi dengan majemuk materi ceramah lainnya dengan bahasa Indonesia, tak mengapa dan juga tak merusak rukunnya. Tetapi nan inti hanyalah kata tersebut.

Dan lagi-lagi lafadz ini pun sudah sangat familiar di telinga kita. Dan selalu diucapkan oleh para khatib jumat.

4. Membaca Potongan Ayat Quran

Rukun nan ini jelas sekali wajib diucapkan dalam bahasa Arab. Sebab nan disebut sebagai Al-Quran hanyalah versi aslinya dalam bahasa Arab. Adapun terjemahannya, bukan termasuk Al-Quran. Karena itu wajar bila diucapkan hanya dalam bahasa arab. Dan tak absah khutbah Jumat itu bila pada sesi pembacaan ayat Qurannya, hanya dibaca terjemahannya saja.

5. Mendoakan Umat Islam

Seperti lafadz allahummaghfir lil muslimin, itu saja sudah cukup dan memenuhirukun nan kelima. Dan tambahannya seperti wal muslimat. Atau lafadz lainnya juga boleh-boleh saja. Tapi intinya mendoakan umat Islam, atau meminta ampunan bagi mereka.

Karena khutbah Jumat itu terdiri dari 2 khutbah, maka para ulama membedakan antara tiga rukun di atas dengan rukun nomor empat dan lima. Hamdalah, shalawat dan pesan-pesan itu menjadi rukun di di khutbah pertama dan kedua. Sedangkan membaca Quran sebaiknya dibaca pad khutbah nan pertama. Dan doa buat umat Islam dibaca pada khutbah kedua.

Namun nan paling esensial ialah bahwa kelima-limanya itu tak masalah bila diucapkan dalam bahasa Arab. Bahkan sebenarnya setiap khatib Jumat sudah mengucapkannya dalam bahasa Arab. Jadi sama sekali tak masalah ketika diharuskan buat disampaikan dalam bahasa Arab. Umumnya umat Islam sudah paham makna dan maksudnya.

Adapun adanya tambahan-tambahan dalam bahasa Indonesia, tak akan merusak khutbahnya. Bahkan justru sebaiknya digunakan dengan dua bahasa, yaitu bahasa Arab buat rukun-rukunnya dan bahasa Indonesia buat penjelasan-penjelasannya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ahmad Sarwat, Lc.

Shalat

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy