Apakah Bulu atau Kotoran Anjing Sama Seperti Liur Anjing

Apakah Bulu atau Kotoran Anjing Sama Seperti Liur Anjing

Assalamu’alaikum wr wb

Pak ustad, aku mau tanya:

A. Apakah bila seorang muslim menyentuh bulu Anjing diwajibkan ber-taharah seperti terkena liur anjing (memakai tanah)

B. Bagaimana dengan kotorannya, apabila sepatu menginjaknya perlukan sepatu tersebut dicuci dengan tanah juga? Bagaimana kasusnya juga kotorannya sudah kering (tidak basah)?

Mohon lengkapi jawaban dengan dalil (qur’an atau hadits)

Terima kasih jawabannya

Wassalamu’alaikum wr wb

=pur1=

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Bulu anjing oleh para ulama termasuk benda najis nan berat, di mana bila kita bersentuhan dengan bulu itu, maka kita wajib mensucikan tubuh kita, atau baju dan tempatnya. Namun ada pendapat nan mengatakan bahwa hal itu dengan syarat bila bulu itu basah atau bagian tubuh kita basah. Namun bila keduanya kering, tak terjadi proses penajisan.

Sedangkan najis anjing nan menempel di sepatu, kalau mau kita sucikan tentu harus disucikan sinkron dengan prosedur. Tetapi selama kita tak ingin mensucikannya, tak mengapa. Toh kita tak akan shalat dengan memakai sepatu.

Namun sebaiknya dibersihkan, sebab boleh jadi kita masuk rumah dengan memakai sepatu, bila ada najisnya, mungkin akan mengotori rumah denan najis.

Kenajisan Anjing dan Pensuciannya

Para ulama umumnya memasukkan anjing ke dalam jenis najis nan berat. Atau sering juga disebut dengan istilah mughalladzah. Istilah berat ini terkait dengan beratnya cara buat mensucikan najis.

Mengingat ada jenis najis nan ringan buat mensucikanya, seperti air kencing bayi laki nan belum makan apapun kecuali air susu ibunya. Disebut ringan sebab buat mensucikannya hanya cukup dipercikkan air di atasnya, meski air kencing itu masih ada, namun Allah SWT sebagai penentu anggaran syariah telah menetapkannya demikian.

Sedangkan anjing dan air liurnya, Allah SWT telah menetapkannya sebagai najis nan berat, sebab untukmensucikannya harus dengan mencucinya secara ritual 7kali dan salah satunya dengan tanah.

Dalil-dalilnya ialah sebagai berikut:

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, `Bila seekor anjing minum dari wadah milik kalian, maka cucilah 7 kali. (HR Bukhari 172, Muslim 279, 90).

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إذا شرب الكلب في إناء أحدكم فليغسله سبعا. متفق عليه ولأحمد ومسلم: طهور إناء أحدكم إذا ولغ فيه الكلب أن يغسله سبع مرات أولاهن بالتراب

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, `Sucinya wadah kalian nan dimasuki mulut anjing ialah dengan mencucinya 7 kali." Dan menurut riwayat Ahmad dan Muslim disebutkan salah satunya dengan tanah." (HR Muslim 279, 91, Ahmad 2/427)

Sebagian ulama menghukumi anjing sebagai hewan nan najis berat bukan hanya air liurnya saja, tetapi juga seluruh tubuhnya. Namun ada sebagian ulama nan tak menghukumi najis anjing pada badannya, kecuali hanya air liurnya saja sebagai najis berat.

Lebih dalam tentang bagaimana disparitas pendapat di kalangan ulama tentang kenajisan anjing ini, kita bedah satu persatu sinkron apa nan terdapat dalam kitab-kitab fiqih acum utama.

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Dalam mazhab ini, nan najis dari anjing hanyalah air liurnya, mulutnya dan kotorannya. Sedangkan tubuh dan bagian lainnya tak dianggap najis. Kedudukannya sebagaimana hewan nan lainnya, bahkan umumnya anjing bermanfaat banyak untuk manusia. Misalnya sebagai hewan penjaga atau pun hewan buat berburu. Mengapa demikian?

Sebab dalam hadits tentang najisnya anjing, nan ditetapkan sebagai najis hanya bila anjing itu minum di suatu wadah air. Maka hanya bagian mulut dan air liurnya saja (termasuk kotorannya) nan dianggap najis.

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Bila anjing minum dari wadah air milikmu, harus dicuci tujuh kali.(HR Bukhari dan Muslim).

Rasulullah SAW bersabda, "Sucinya wadah minummu nan telah diminum anjing ialah dengan mencucinya tujuh kali dan salah satunya dengan tanah.(HR Muslim dan Ahmad)

Lihat kitab Fathul Qadir jilid 1 halaman 64, kitab Al-Badai` jilid 1 halaman 63.

2. Mazhab Al-Malikiyah

Mazhab ini juga mengatakan bahwa badan anjing itu tak najis kecuali hanya air liurnya saja. Bila air liur anjing jatuh masuk ke dalam wadah air, wajiblah dicuci tujuh kali sebagai bentuk ritual pensuciannya.

Silahkan periksa kitab Asy-Syarhul Kabir jilid 1 halaman 83 dan As-Syarhus-Shaghir jilid 1 halaman 43.

3. Mazhab As-Syafi`iyah dan Al-Hanabilah

Kedua mazhab ini sepakat mengatakan bahwa bukan hanya air liurnya saja nan najis, tetapi seluruh tubuh anjing itu hukumnya najis berat, termasuk keringatnya. Bahkan hewan lain nan kawin dengan anjing pun ikut hukum nan sama pula. Dan buat mensucikannya harus dengan mencucinya tujuh kali dan salah satunya dengan tanah.

Logika nan digunakan oleh mazhab ini ialah tak mungkin kita hanya mengatakan bahwa nan najis dari anjing hanya mulut dan air liurnya saja. Sebab sumber air liur itu dari badannya. Maka badannya itu juga merupakan sumber najis. Termasuk air nan keluar dari tubuh itu juga, baik kencing, kotoran dan juga keringatnya.

Pendapat tentang najisnya seluruh tubuh anjing ini juga dikuatkan dengan hadits lainnya antara lain:

Bahwa Rasululah SAW diundang masuk ke rumah salah seorang kaum dan beliau mendatangi undangan itu. Di kala lainya, kaum nan lain mengundangnya dan beliau tak mendatanginya. Ketika ditanyakan kepada beliau apa sebabnya beliau tak mendatangi undangan nan kedua, beliau bersabda, "Di rumah nan kedua ada anjing sedangkan di rumah nan pertama hanya ada kucing. Dan kucing itu itu tak najis." (HR Al-Hakim dan Ad-Daruquthuny).

Dari hadits ini dapat dipahami bahwa kucing itu tak najis, sedangkan anjing itu najis.

Lihat kitab Mughni Al-Muhtaj jilid 1 halaman 78, kitab Kasy-syaaf Al-Qanna` jilid 1 halaman 208 dan kitab Al-Mughni jilid 1 halaman 52.

Wallahu a’lam bishshawab, Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Thaharah

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy