Apakah Nabi Adam Melihat Langsung ZatNya Allah?

Apakah Nabi Adam Melihat Langsung ZatNya Allah?

Assalamualaikum w. w.

Pak Ustadz, mohon jawabannya, arena belum ada ustadz nan menjelaskan tentang ini.

  1. Apakah pada waktu Nabi Adam dan Hawa di surga dulu, sebelum turun ke dunia, melihat zat Allah langsung?
  2. Begitu juga dengan malaikat,apakah percakapan antara malaikat dengan Allah pada waktu hendak menciptakan Nabi Adam itu berhadapan dan melihat langsung zat Allah. (Q.S.2:30).
  3. Bagaimana dengan membangkangnya iblis ketika diperintahkan buat sujud. Apakah iblis juga melihat zat Allah langsung?
  4. Bagaimana dengan mi’raj Rosulullah. Apakah waktu tawar menawar jumlah rokaat sholat,juga melihat dan berbicara langsung dengan Allah.

Atas klarifikasi Pak Ustadz aku ucapkan banyak terima kasih. Wassalamu’alaikum w. w.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh,
Alhamdulillah wash-shalatu wassalamu ‘ala rsulillah, wa ba’du

 Allah SWT ialah Tuhan Yang Maha Sempurna, tak dapat dilihat namun dapat melihat segala sesuatu. Kepastian tentang tak mungkin dilihatnya Allah SWT oleh manusia dapat kita dapatkan di dalam banyak dalil, antara lain :

Dia tak bisa dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia bisa melihat segala nan kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS Al-An’am : 103)

Jadi mengatakan bahwa Allah SWT itu dapat dilihat ialah hal nan menyalahi Al-Quran Al-Kariem sendiri. Selain ayat ini, ayat lain pun akan mengatakan kemustahilan seseorang dapat melihat zat Allah. Misalnya di dalam surat Al-Ikhlas, Allah menegaskan bahwa diri-Nya tak dapat disetarakan dengan sesuatu.

Dan tak ada seorangpun nan setara dengan Dia". (QS Al-Ikhlas: 4)

Di dalam Al-Quran juga diceritakan tentang keinginan manusia buat melihat wujud orisinil Allah SWT. Namun sudah dipastikan bahwa selama di global ini, manusia tak akan pernah mampu buat melihat-Nya. Bahkan sampai tak mau menyembah Allah kalau tak melihat dulu. Sikap rendah seperti ini hanya datang dari bangsa nan kurang memiliki kecerdasan teologis, sehingga Allah SWT murka kepada mereka.

Dan  ketika kamu berkata, "Hai Musa, kami tak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang , sebab itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya." (QS Al-Baqarah: 55)

Bahkan meski dengan maksud baik-baik dari hamba-Nya seperti Nabi Musa as, Allah SWT pun tak akan pernah dilihat dengan mata telanjang. Hal demikian pernah terjadi dalam diri Nabi nan dijuluki kalamullah ini.

Dan tatkala Musa datang untuk  pada waktu nan telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman  kepadanya, berkatalah Musa, "Ya Tuhanku, nampakkanlah  kepadaku agar saya bisa melihat kepada Engkau." Tuhan berfirman, "Kamu sekali-kali tak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya  pasti kamu bisa melihat-Ku." Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu , dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, "Maha Kudus Engkau, saya bertaubat kepada Engkau dan saya orang nan pertama-tama beriman." (QS.Al-A’rah 143)

Jangankan manusia nan lemah dan papa, bahkan ketika Allah SWT menampakkan diri kepada gunung sekalipun, maka hancurlah gunung itu. Sebab zat Allah memang betul-betul mustahil dilihat oleh makhluqnya. Meski nabi Musa as. ialah orang nan termasuk paling sering menerima mukjizat dari-Nya. Tapi spesifik buat dapat melihat Allah, fasilitas itu tak ada. Apalagi makhul lainnya nan nota bene lebih rendah derajatnya dari beliau.

Kalau pun ada keterangan tentang zat Allah SWT nan dapat dilihat, maka hal itu hanya dalam dalil-dalil nan tegas dan jumlah sedikit sekali. Di antaranya ialah keadaan orang-orang beriman di surga nanti. Di mana secara nalar, mereka sudah bukan lagi manusia biasa nan fana sebagaimana ketika masih hayati di global sekarang ini. Melainkan mereka telah menjelma menjadi makhluq penghuni surga.

Tentu hukum-hukum fisika nan berlaku di dalam surga itu sama sekali berbeda dengan nan ada di global ini. Apa un nan ada di surga nanti memang semata-mata belum pernah dilihat mata manusia, belum pernah didengar telinga manusia dan belum pernah terlintas di benak seorang manusia.

Dan salah satu bentuk kenikmatan tertinggi di surga dan satu-satunya kenikamatan nan tak akan pernah di bisa di global manapun ialah kemampuan dapat menikmati paras Allah.

Informasi tersebut oleh jumhur ulama disebutkan berdasarkan dalil-dalil nan ada di dalam Al-Quran sendiri. Paling tak ada 3 ayat nan menjelaskan hal itu, yaitu :

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Bagi orang-orang nan berbuat baik, ada pahala nan terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tak ditutupi debu hitam dan tak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (QS Yunus ayat 26)

Para ulama dan mufassirin sepakat bahwa makna:[وَزِيَادَةٌ] (ziayadah/tambahan) maksudnya ialah melihat Allah dengan mata kepala.

إِنَّ الأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ عَلَى الأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ

Sesungguhnya orang nan berbakti itu benar-benar berada dalam keni‘matan nan besar (surga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang (Allah).)(QS Al-Muthaffifien ayat 22-23)

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

Wajah-wajah (orang-orang mu‘min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.(QS AL-Qiyamah ayat 22-23)

Ini ialah bagian dari paham akidah Ahlussunnah wal jamaah nan telah disepakati oleh jumhur ulama kebenarannya. Sedangkan melihat Allah di luar nan disebutkan di atas, seperti Nabi Adam ketika di surga, atau malaikat ketika bercakap-cakap dengan Allah, atau iblis nan membangkang bahkan Nabi Muhammad SAW ketika mi’raj, apakah melihat Allah SWT atau tidak, kami belum lagi menemukan landasan dalil nan syar’i nan kuat dan disepakati oleh jumhur ulama. Dan selama belum ada keterangan nan kuat berdasarkan Al-Quran dan Sunnah, kita tak boleh mengambil konklusi nan menyalahi konklusi dalil nan sudah tegas menyatakan kemustahilan Allah SWT dapat dilihat.

 Wallahu a’lam bish-shawab
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Ahmad Sarwat, Lc.

Aqidah

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy