Asal Segala Sesuatu Adalah Halal

Asal Segala Sesuatu Adalah Halal

Assalamualaikum,

Pak Ustadz, aku ingin bertanya anggaran dalam mengharamkan sesuatu masalah. Apakah sebaiknya kita mengharamkan hal-hal nan tak ada dalilnya, ataukah kita halalkan saja?

Sebab aku takut terkena hukum dosa bila mengerjakan sesuatu nan tak ada dalilnya. Bukankah sebaiknya kita menghindari nan haram?

Demikian semoga ustad dapat menjelaskan dengan jelas. Terima kasih

Assalamu ‘alaikum warahmatulahi wabarakatuh,

Dalam menetapkan hukum syariah atas setiap perkara, ada prinsip nan paling dasar nan menjadi pegangan. Prinsip ini sesungguhnya bagian dari kaidah fiqhiyah nan lafadznya adalah:

الأصل في الأشياء الإباحة

Hukum asal pada sesuatu ialah kebolehan
Dari kaidah ini kita bisa menarik konklusi bahwa asal sesuatu perkara selalu halal hukumnya, boleh dikerjakan dan mubah kedudukannya. Fiqih Islam selalu memandang bahwa asal mula hukum ialah tak haram, tak terlarang, tak dibenci dan tak dimurkai Allah SWT.

Kecuali setelah adanya dalil nash nan shahih (valid) dan sharih (tegas) dari Allah SWT sebagai Asy-Syari’ (yang berwenang membuat hukum itu sendiri), barulah hukumnya dapat berubah menjadi haram atau makruh.

Namun sampai kapan pun selama tak ada nash nan shahih –misalnya sebab ada sebagian Hadis lemah– atau tak ada nash nan sharih nan menunjukkan haram, maka hukum dasar setiap masalah itu selalu mengacu kepada tetap sebagaimana asalnya, yaitu mubah, boleh, halal.
Demikianlah para ulama-ulama Islam sepanjang zaman mendasarkan setiap ketetapan hukum, fatwa, sera dalam memutuskan banyak perkara umat manusia.

Dasar Hukum

Dalil ayat-ayat al-Quran nan antara lain:

الذي جعل لكم الأرض فراشا والسماء بناء

Dialah nan menjadikan UNTUKMU bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, (Q. Al-Baqarah: 29)

هو الذي خلق لكم ما في الأرض جميعا وسخر لكم ما في السموات والأرض جميعا منه

"(Allah) telah memudahkan buat kamu apa-apa nan ada di langit dan apa-apa nan ada di bumi semuanya daripadaNya." (QS. Al-Jatsiyah: 13)

ألم تروا أن الله سخر لكم ما في السموات وما في الأرض وأسبغ عليكم نعمه ظاهرة وباطنة

"Belum tahukah kamu, bahwa sesungguhnya Allah telah memudahkan buat kamu apa-apa nan ada di langit dan apa-apa nan ada di bumi; dan Ia telah sempurnakan untuk kamu nikmat-nikmatNya nan nampak maupun nan tak nampak." (QS. Luqman: 20)

Ketiga ayat di atas jelas dan tegas menyebutkan bahwa Allah SWT telah menyerahkan segala sesuatu di bumi ini buat manusia. Inilah dalil tentang kehalalan segala sesuatu. Dan Allah tak akan membuat segala-galanya ini nan diserahkan kepada manusia dan dikurniakannya, kemudian Dia sendiri mengharamkannya. Kalau tak begitu, untuk apa Ia jadikan, Dia serahkan kepada manusia dan Dia kurniakannya?

Beberapa hal nan Allah haramkan itu, justeru sebab ada karena dan hikmat, nan –insya Allah– akan kita sebutkan nanti.

Dengan demikian arena haram dalam syariat Islam itu sebenarnya sangat sempit. Sedangkan arena halal justru sangat luas. Sebab nash-nash nan benar dan tegas buat mengharamkan, jumlahnya sangat minim sekali. Sedang sesuatu nan tak ada keterangan halal-haramnya, jumlahnya sangat banyak.

Dan hukumnya kembali kepada hukum asal yaitu halal dan termasuk dalam kategori nan dimaafkan Allah.

Untuk soal ini ada satu Hadis nan menyatakan sebagai berikut:

ما أحل الله في كتابه فهو حلال، وما حرم فهو حرام. وما سكت عنه فهو عفو. فاقبلوا من الله عافيته، فإن الله لم يكن لينسى شيئا، وتلا (وما كان ربك نسيا

"Apa saja nan Allah halalkan dalam kitabNya, maka dia ialah halal, dan apa saja nan Ia haramkan, maka dia itu ialah haram; sedang apa nan Ia diamkannya, maka dia itu dibolehkan (dimaafkan). Oleh sebab itu terimalah permaafan dari Allah, karena sesungguhnya Allah tak bakal lupa sedikitpun." Kemudian Rasulullah membaca ayat: dan Tuhanmu tak lupa.(Riwayat Hakim dan Bazzar)

وعن سلمان الفارسي: سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن السمن والجبن والفراء فقال, "الحلال ما أحل الله في كتابه، والحرام ما حرم الله في كتابه، وما سكت عنه فهو مما عفا لكم

Dari Salman Al-Farisy bahwa Rasulullah saw pernah ditanya tentang hukumnya samin, keju dan keledai hutan, maka jawab beliau: Yang halal ialah sesuatu nan Allah halalkan dalam kitabNya dan nan disebut haram ialah nan Allah haramkan dalam kitabNya. Sedang apa nan Allah diamkan, maka dia itu salah satu nan Allah maafkan untuk kamu." (Riwayat Tarmizi dan lbnu Majah)

Rasulullah tak ingin memberikan jawaban kepada si penanya dengan menerangkan satu persatunya, tetapi beliau mengembalikan kepada suatu kaidah nan kiranya dengan kaidah itu mereka bisa diharamkan Allah, sedang lainnya halal dan baik.

Dan sabda beliau juga,

إن الله فرض فرائض فلا تضيعوها، وحد حدودا فلا تعتدوها، وحرم أشياء فلا تنتهكوها، وسكت عن أشياء رحمة بكم غير نسيان فلا تبحثوا عنها

"Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu menyia-nyiakannya dan Allah telah memberikan beberapa batas, maka jangan kamu langgar. Dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia. Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia." (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)

Kaidah asal segala sesuatu ialah halal ini tak hanya terbatas dalam masalah benda, tetapi meliputi masalah perbuatan dan pekerjaan nan tak termasuk daripada urusan ibadah, yaitu nan biasa kita istilahkan dengan adat atau mu’amalat.

Pokok dalam masalah ini tak haram dan tak terikat, kecuali sesuatu nan memang oleh syari’ sendiri telah diharamkan dan dikonkritkannya sinkron dengan firman Allah:

وقد فصل لكم ما حرم عليكم

"Dan Allah telah memerinci kepadamu sesuatu nan Ia telah haramkan atas kamu." (QS. Al-An’am: 119)

Ayat ini umum, meliputi soal-coal makanan, perbuatan dan lain-lain.
Berbeda sekali dengan urusan ibadah. Dia itu semata-mata urusan agama nan tak ditetapkan, melainkan dari jalan wahyu. Untuk itulah, maka terdapat dalam suatu Hadis Nabi nan mengatakan:

من أحدث في أمرنا ما ليس منه فهو رد

"Barangsiapa membuat cara baru dalam urusan kami, dengan sesuatu nan tak ada contohnya, maka dia itu tertolak." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Ini, ialah sebab hakikat AGAMA –atau katakanlah IBADAH– itu tercermin dalam dua hal, yaitu:

Hanya Allah lah nan disembah.

Untuk menyembah Allah, hanya bisa dilakukan menurut apa nan disyariatkannya. Oleh sebab itu, barangsiapa mengada-ada suatu cara ibadah nan timbul dari dirinya sendiri –apapun macamnya– ialah suatu kesesatan nan harus ditolak. Sebab hanya syari’lah nan berhak menentukan cara ibadah nan bisa dipakai buat bertaqarrub kepadaNya.

Adapun masalah Adat atau Mu’amalat, sumbernya bukan dari syari’, tetapi manusia itu sendiri nan menimbulkan dan mengadakan. Syari’ dalam hal ini tugasnya ialah buat membetulkan, meluruskan, mendidik dan mengakui, kecuali dalam beberapa hal nan memang akan membawa kerusakan dan mudharat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Sesungguhnya sikap manusia, baik nan berbentuk omongan ataupun perbuatan ada dua macam: ibadah buat kemaslahatan agamanya, dan kedua adat (kebiasaan) nan sangat mereka butuhkan demi kemaslahatan global mereka Maka dengan terperincinya pokok-pokok syariat, kita bisa mengakui, bahwa seluruh ibadah nan telah dibenarkannya, hanya bisa ditetapkan dengan ketentuan syara’ itu sendiri."

Adapun masalah Adat yaitu nan biasa dipakai ummat manusia demi kemaslahatan global mereka sinkron dengan apa nan mereka butuhkan, semula tak terlarang. Semuanya boleh, kecuali hal-hal nan oleh Allah dilarangnya Demikian itu ialah sebab perintah dan larangan, kedua-duanya disyariatkan Allah. Sedang ibadah ialah termasuk nan mesti diperintah. Oleh sebab itu sesuatu, nan tak diperintah, bagaimana mungkin dihukumi terlarang.

Imam Ahmad dan beberapa pakar fiqih lainnya berpendapat: pokok dalam urusan ibadah ialah tauqif (bersumber pada ketetapan Allah dan Rasul). Oleh sebab itu ibadah tersebut tak boleh dikerjakan, kecuali kalau ternyata telah disyariatkan oleh Allah. Kalau tak demikian, berarti kita akan termasuk dalam apa nan disebutkan Allah:

م لهم شركاء شرعوا لهم من الدين ما لم يأذن به الله

"Apakah mereka itu mempunyai sekutu nan mengadakan agama buat mereka, sesuatu nan tak diizinkan oleh Allah?" (QS. As-Syura: 21)

Sedang dalam persoalan Adat prinsipnya boleh. Tidak satupun nan terlarang, kecuali nan memang telah diharamkan. Kalau tak demikian, maka kita akan termasuk dalam apa nan dikatakan Allah:

قل أرأيتم ما أنزل الله لكم من رزق فجعلتم منه حراما وحلالا

"Katakanlah! Apakah kamu sudah mengetahui sesuatu nan diturunkan Allah buat kamu daripada rezeki, kemudian kamu jadikan daripadanya itu haram dan halal? Katakanlah! Apakah Allah telah memberi izin kepadamu, ataukah kamu memang berdusta atas (nama) Allah?" (QS. Yunus: 59)

Ini ialah suatu kaidah nan besar sekali manfaatnya. Dengan dasar itu pula kami berpendapat: bahwa jual-bell, hibah, sewa-menyewa dan lain-lain adat nan selalu dibutuhkan manusia buat mengatur kehidupan mereka seperti makan, minum dan pakaian. Agama membawakan beberapa etika nan sangat baik sekali, yaitu mana nan sekiranya membawa bahaya, diharamkan; sedang nan mesti, diwajibkannya. Yang tak layak, dimakruhkan; sedang nan jelas membawa maslahah, disunnatkan.

Dengan dasar itulah maka manusia bisa melakukan jual-beli dan sewa-menyewa sesuka hatinya, selama dia itu tak diharamkan oleh syara’. Begitu juga mereka dapat makan dan minum sesukanya, selama dia itu tak diharamkan oleh syara’, sekalipun sebagiannya ada nan oleh syara’ kadangkadang disunnatkan dan ada kalanya dimakruhkan. Sesuatu nan oleh syara’ tak diberinya pembatasan, mereka bisa menetapkan menurut kemutlakan hukum asal.

Prinsip di atas, sinkron dengan apa nan disebut dalam Hadis Nabi nan diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Jabir bin Abdillah, ia berkata:
"Kami pernah melakukan ‘azl’, sedang waktu itu al-Quran masih turun; kalau hal tersebut dilarang, pasti al-Quran akan melarangnya."

Ini menunjukkan, bahwa apa saja nan didiamkan oleh wahyu, bukanlah terlarang. Mereka bebas buat mengerjakannya, sehingga ada nas nan melarang dan mencegahnya.

Demikianlah salah satu daripada kesempurnaan kecerdasan para sahabat.
Dan dengan ini pula, ditetapkan suatu kaidah, "Soal ibadah tak boleh dikerjakan kecuali dengan syariat nan ditetapkan Allah; dan suatu hukum adat tak boleh diharamkan, kecuali dengan ketentuan nan diharamkan oleh Allah."
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatulahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Umum

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy