Ayah Meninggal, Disusul Ibu, Bagaimana Pembagian Warisannya?

Ayah Meninggal, Disusul Ibu, Bagaimana Pembagian Warisannya?

Bagaimana membagi harta nan ditinggal orang tua kami.

Tahun lalu ayah kami meninggal, enam bulan kemudian ibu menyusul, mereka mempunyai anak 3 orang anak yaitu 2 orang perempuan anak kandung dan 1 orang anak laki-laki saudara tiri anak dari ibu. Saat ini mereka meninggalkan beberapa harta tetapi kami bingung membaginya menurut syariat Islam. sudah ada harta nan kami pernah bagi yaitu uang 5.000.000 rupiah, dengan pembagian sebagai berikut.

Uang 5 juta dibagi 2 menjadi 2.5 juta harta ayah, dan 2.5 juta harta ibu. dari harta ibu dikeluarkan 1/8 lalu ditambahkan ke 2.5 juta harta ayah menjadi 2.8 juta residu harta ibu 2.2 juta. Harta ayah langsung dibagi 2 buat anak perempuannya masing-masing 1.4 juta. Kemudian harta ibu dibagi 3 yaitu 1.4 juta buat saudara tiri kami laki-laki sedangkan sisanya 800 ratus ribu dibagi 2 anak perempuannya. Jadinya 2 orang anak perempuan masing masing 1.8 juta, sedangkan saudara tiri kami 1.4 juta. Benarkah cara pembagian ini? Bagaimana pembagiannya menurut Islam?

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Pembagian nan sahih ialah bahwa harta ayah dan harta ibu tak digabung menjadi satu. Logikanya, setiap orang punya harta masing-masing dan masing-masing punya pakar waris sendiri-sendiri. Meski pun keduanya suami isteri.

Maka sebelum pembagian warisan, harus dipastikan terlebih dahulu, harta mana saja nan menjadi hak milik ayah dan harta mana saja nan menjadi hak milik ibu. Seandainya ada harta nan dimiliki bersama, maka harus dipastikan prosentasi nilai kepemilikan masing-masing.

Baik suami maupun isteri, sama-sama saling mewarisi. Tergantung siapa nan meninggal duluan. Kalau nan meninggal duluan itu suami, maka isteri berhak mendapatkan warisan dari suaminya. Besarnya 1/4 bagian (25%) bila almarhum tak punya anak. Atau 1/8 (12,5%) bila almarhum tak punya anak.

Sebaliknya juga demikian, bila isteri meninggal duluan, maka suami akan menerima warisan dari harta milik isterinya. Besarnya 1/2 bagian (5o%) bila almarhumah tak punya anak. Atau 1/4 (25%) bila almarhumah tak punya anak.

Sedangkan interaksi orang tua dan anak, juga ada keterkaitan saling mewarisi. Tergantung siapa nan meninggal duluan. Bila nan meninggal itu anak duluan, maka ayah dan ibu masing-masing berhak mendapat 1/6 dari harta si anak.

Sebaliknya bila nan meninggal ayah duluan atau ibu duluan, maka anak akan menerima warisan dengan beberapa kemungkinan:

  1. Bila anaknya laki-laki saja, maka mereka menjadi pakar waris dalam bentuk ashabah. Mereka berhak atas residu harta nan telah sebelumnya menjadi hak pakar waris almarhum/ah nan merupakan ashabul furudh.
  2. Bila anaknya ada nan laki-laki dan juga ada nan perempuan, maka pembagiannya sama, hanya bedanya jatah anak laki-laki lebih besar 2 kali lipat dari jatah anak perempuan.
  3. Bila anaknya perempuan semua minimal 2 orang, mereka semua mendapat 2/3 dari total harta ayah atau ibu mereka.
  4. Bila hanya ada anak perempuan tunggal, dia berhak atas 1/2 (50%) dari total harta ayahnya atau ibunya.
  5. Sedangkan anak tiri, sudah jelas tak mendapat warisan. Hanya anak kandung saja nan menerima warisan.

Maka dalam kasus anda, sine qua non dua kali pembagian warisan. Pertama, pembagian warisan atas harta ayah anda. Yang berhak menerima (ahli waris) adalah:

  • Isteri (dalam hal ini ibu anda) nan mendapat 1/8 bagian
  • 2 orang anak perempuan kandung sebesar 2/3 dari total harta ayah, sedangkan anak laki tapi dia bukan anak ayah melainkan anak tiri ayah, tak mendapat warisan.
  • Sisanya buat para ashabah dari ayah, yaitu saudara ayah, atau ayahnya ayah (kakek), atau pamannya ayah, atau anak pamannya ayah nan laki-laki. Kalau mereka masih ada, mereka pun berhak juga. Kalau mereka masih ada, maka residu dari harta menjadi hak mereka.

Setelah membagi harta pribadi milik ayah, barulah kita membagi harta pribadi milik ibu. Suami almarhumah (ayah anda) jelas tak bisa warisan, sebab beliau sudah mati terlebih dahulu. Maka pakar waris beliau adalah:

  • 1 orang anak laki
  • 2 orang anak perempuan

Dan almarhumah sudah tak mungkin punya ashabah sebab dengan adanya anak laki-laki, maka seluluh ashabah beliau menjadi termahjub. Maka harta itu cukup dibagi tiga, yaitu kepada anak-anak almarhumah saja.

Tapi dengan syarat bahwa harta nan diterima anak laki-laki kandung beliau harus 2 kali lipat dari nan diterima anak perempuan. Maka buat mudahnya harta pribadi dari almarhumah ibu kita bagi 4 sama besar. 2 bagian diberikan kepada anak laki, 1 bagian buat anak perempuan nomor satu dan 1 bagian lagi buat anak perempuan satunya lagi.

Wallahu a’lam bishshwab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Mawaris

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy