Ayahku, Idolaku

Ayahku, Idolaku

Saya akan senantiasa mengecup kening, pipi dan ubun-ubun kepalanya di pagi, siang, dan malam hari. Sejak ia baru membuka matanya di waktu fajar hingga menjelang menutup mata. Bahkan aku bangunkan ia dengan beberapa kecupan hangat, agar senyum manisnya lah nan membuka paginya. Andai ia tahu, di setiap pertengahan malam saat ia terlelap dibuai mimpi pun akan selalu ada kecupan lembut menghangatinya. Saya lakukan itu agar sampai kapanpun ia takkan pernah lupa, ada sosok penuh cinta nan setiap tuturnya bermakna sayang, dan setiap dengusan nafasnya berarti kasih.

Saya akan menjadi apapun untuknya. Kadang menjadi harimau nan menerjang-nerjang dengan auman keras nan membuatnya berteriak, sesekali menjadi kodok nan melompat-lompat lucu, atau menjadi burung nan hinggap dari satu ranting ke ranting lainnya. Pagi hari menjadi ayam ber-kukuruyuk membelah fajar dan malamnya menjadi bintang-bintang nan menemani tidurnya hingga malam berlalu. Saya tidak akan bosan mendongeng untuknya kapan pun, dimana pun, kalau perlu sampai ia bosan. Walau pun aku tahu, sebanyak apapun cerita nan aku dongengkan, ia takkan pernah bosan. Baginya, sayalah pendongeng terhebat di dunia. Yang mampu membuatnya tertawa tergelak dan terkekeh, kadang membuatnya menjerit ketakutan, atau memaksanya mengeluarkan air mata.

Berangkat bersama fafar nan beranjak pergi, pulang dari kantor ditemani lampu jalan dan dinginnya malam. Pekerjaan apa pun rela aku tempuhi buat sebuah keyakinan ia mendapatkan makanan nan baik, cukup dan halal, setidaknya buat hari ini. Untuk sebuah asa agar ia mendapatkan pendidikan nan layak buat masa depannya. Inilah bentuk pengorbanan nan tidak pernah aku meminta balasan apa pun darinya kelak. Bagi seorang Ayah, mendapati senyum si buah hati tetap menghiasi hari-harinya, itu sudah cukup.

Sahabat. Inilah kata nan selalu aku sebutkan kepadanya tentang siapa saya. Saya bukan sekadar Ayah baginya, melainkan sahabat. Saya akan menjadi sahabat terbaiknya, nan menyediakan hati sehamparan bumi dan telinga seluas lautan. Yang akan mendengarkan semua kesahnya dan menampung sebanyak apapun airmatanya. Yang akan bersedia menangis bersamanya saat ia sedih, dan tertawa bersamanya di hari-hari bahagianya. Yang akan senantiasa hadir untuknya kapan pun, dimanapun ia membutuhkan. Dada ini setegar karang di bahari nan siap menjadi tambatan kepalanya, dengan segunung persoalan nan dihadapinya.

Dalam setiap sujud dan tengadah jemari, namanya tidak pernah alpa terucap. Sepanjang doa nan terlantun, tidak pernah sekalipun namanya terlupa. Kepada Allah senantiasa terpinta agar seribu malaikat membimbing setiap jengkal langkahnya, agar sejuta cahaya tidak pernah padam menerangi jalannya, dan tidak terbilang tangan menjaganya dari jalan nan menyimpang. Tak jarang, airmata ini menetes tidak tertahan memandang paras polosnya, berharap tidak banyak dosa nan mengotori perjalanan hidupnya, meminta tidak banyak aral melintangi langkah kecilnya, dan tidak tersebar onak nan akan menghambat jalannya. Kebahagiaannya, ialah kata kunci dalam setiap pinta aku kepada Allah.

Saya sadar betul, tidak patut berharap ia akan membalas cinta seperti nan aku curahkan kepadanya. Apalah lagi menakar-nakar agar ia tahu betapa tidak terhitung kasih nan aku berikan kepadanya. Pun tidak mungkin aku menuntutnya buat mengganti semua peluh nan bercucuran untuknya. Tak sedikit pun aku meminta bayaran buat setiap airmata nan luruh sepanjang hidupnya semenjak kecil. Bukan sebab aku tahu ia takkan pernah sanggup membayarnya, tapi sekadar ia tahu bahwa cinta ini begitu tulus, jujur, higienis namun sederhana. Tak ada nan sanggup menggantinya, berapapun nan ditawarkannya.

Sungguh, aku melakukan ini semua demi satu harapan. Kelak sampai kapan pun ia tidak perlu mencari figur lain nan ia banggakan, tidak sulit buat menyebut sosok nan ia dambakan kehadirannya, nan ia tangisi kepergiannya. Karena, sampai kapan pun ia akan berkata kepada dunia, “Ayahku, Idolaku”.

Coretan kecil buat anak-anak Abi

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy