Ayat Muhkamat dan Mutasyabihaat

Ayat Muhkamat dan Mutasyabihaat

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Saya mohon klarifikasi tentang ayat Muhkamaat dan Mutasyabihaat sebagaimana tercantum didalam surat Ali ‘Imran ayat 7. Atas klarifikasi ustadz kami mengucapkan terima kasih.

NP Maskoer

Waalaikumussalam Wr Wb

Dinukil dari Al Husein bin Muhammad bin Habib an Naisaburiy bahwa ada tiga pendapat didalam permasalahan ini :

1. Bahwa Al Qur’an seluruhnya ialah muhkamat, sebagaimana firman-Nya :

كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ

Artinya : “(Inilah) suatu Kitab nan ayat-ayat-Nya ialah muhkamat.” (QS. Huud : 1)

2. Bahwa Al Qur’an seluruhnya ialah mutasyabihat berdasarkan firman-Nya :

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا

Artinya : “Allah telah menurunkan perkataan nan paling baik (yaitu) Al Quran nan mutasyabihat.” (QS. Az Zumar : 23)

3. Bahwa Al Qur’an sebagiannya ialah muhkamat sedangkan sebagiannya lagi mutasyabihat, inilah nan paling benar, berdasarkan firman-Nya :

وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ

Artinya : “Dan nan lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. adapun orang-orang nan dalam hatinya condong kepada kesesatan.” (QS. Ali Imran : 7)

Tentang ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat ini, Al Lajnah ad Daimah Lil Buhuts wal Ifta’ menjelaskan sebagai berikut :

1. Ihkam berarti kukuh, ihkamul kalam : perkataan nan kukuh dan terang nan berarti perkataan buat membedakan kejujuran dari kedustaan didalam suatu berita, petunjuk dari kesesatan didalam berbagai perintah. Al Qur’an muhkam dengan makna ini, terang tanpa ada kesamaran didalamnya bagi setiap orang, firman Allah swt :

الَر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ

Artinya : “Alif laam raa, (Inilah) suatu Kitab nan ayat-ayat-Nya muhkamat serta dijelaskan secara terperinci, nan diturunkan dari sisi (Allah) nan Maha Bijaksana lagi Maha tahu.” (QS. Huud : 1)

2. Tasyabuh didalam suatu perkataan digunakan buat keserupaan atau kesesuaian, artinya bahwa sebagiannya membenarkan sebagian lainnya didalam perintah-perintahnya, tak memerintahkan sesuatu didalam satu loka namun melarangnya di loka nan lain, sebagiannya membenarkan sebagian lainnya didalam berita-beritanya, apabila dia memberitahu tentang terjadinya sesuatu di satu loka namun tak memberitahukan penafiannya di loka nan lainnya. Al Qur’an seluruhnya mutasyabihat dengan makna ini namun tak ada kontradiksi dan kekacauan didalamnya, firman-Nya :

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفًا كَثِيرًا

Artinya : “Maka apakah mereka tak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat kontradiksi nan banyak di dalamnya.” (QS. An Nisa : 82)

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا

Artinya : “Allah Telah menurunkan perkataan nan paling baik (yaitu) Al Quran nan mutasyabihat.” (QS. Az Zumar : 23)

Mutasyabihat dalam makna ini tidaklah bertentangan dengan ihkam dengan maknanya nan generik bahkan salah satunya membenarkan nan lainnya dan tak saling bertentangan.

3. Tasyabuh dalam arti nan spesifik : ialah memiliki keserupaan terhadap sesuatu dari satu sisi namun berbeda dari sisi nan lainnya. Didalam Al Qur’an terdapat ayat-ayat nan mutasyabihat dengan makna ini yaitu mengandung berbagai dalil nan bersesuaian dengan ayat-ayat muhkam dan juga mengandung berbagai dalil nan bertentangan dengannya sehingga maksud darinya menjadi samar di sebagian manusia.

Barangsiapa nan mengembalikan mutasyabihat dengan makna spesifik ini kepada ayat-ayat nan muhkamat nan sudah jelas maka akan tampaklah maksud dari ayat-ayat mutasyabihat itu dan bisa membantunya mendapatkan kebenaran. Dan barangsiapa dari kalangan ulama nan berhenti pada ayat-ayat mutasyabihat itu dan tak mengembalikannya kepada ayat-ayat muhkamat nan sudah terang maka sungguh dirinya telah berada didalam suatu kebatilan dan mengalami kesesatan dari jalan nan lurus, seperti orang-orang Nasranu didalam argumentasi mereka tentang Isa ialah anak Allah. Allah mengatakan tentangnya bahwa ia ialah “kalimat-Nya nan disampaikan kepada Maryam” dan meninggalkan mereka (orang-orang Nasrani) buat kembali kepada firman-Nya tentang Isa as.

: “Isa tak lain hanyalah seorang hamba nan kami berikan kepadanya nikmat (kenabian).” (QS. Az Zukhruf : 59)

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِندَ اللّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثِمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ

Artinya : “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, ialah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, Kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), Maka jadilah Dia.” (QS. Al Imran : 59)

Artinya : “Katakanlah: "Dia-lah Allah, nan Maha Esa. Allah ialah Tuhan nan bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tak pula diperanakkan, Dan tak ada seorangpun nan setara dengan Dia." (QS. Al Ikhlas : 1 -3)

Terhadap tasyabuh dalam arti spesifik dan ihkam nan spesifik ini serta adanya perselisihan manusia didalam sikap mereka terhadapnya telah ditunjukkan oleh firman-Nya :

هُوَ الَّذِيَ أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاء الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاء تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الألْبَابِ

Artinya : “Dia-lah nan menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat nan muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan nan lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. adapun orang-orang nan dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat nan mutasyaabihaat daripadanya buat menimbulkan rekaan buat mencari-cari ta’wilnya, padahal tak ada nan mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang nan mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat nan mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." dan tak bisa mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang nan berakal.” (QS. Al Imran : 7)

Dengan ayat itu bisa diketahui bahwa Al Qur’an ialah penjelas segala sesuatu, berisi petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi kaum muslimin dan tampaklah keserasian diantara nash-nashnya dan bahwasanya ar Rosikhun ialah orang-orang nan menginginkan kebenaran lalu mengembalikan ayat-ayat nan mutasyibihat itu kepada ayat-ayat muhkamat dalam memberikan keputusan tentangnya sehingga menghilangkan kesamaran nan ada didalam ayat-ayat mutasyabihat nan memiliki makna spesifik itu dan dapat diketahui maksudnya.

Hal ini berbeda dengan orang-orang nan didalam hatinya terdapat penyakit keraguan dan kesesatan nan membawa kepala-kepala mereka mengikuti hawa nafsu mereka cenderung kepada nash-nash nan mutasyabihat tanpa mengembalikannya kepada nan muhkamat dikarenakan menginginkan fitnah, menginginkan kerancuan ditengah-tengah manusia serta menyesatkan mereka dari jalan nan lurus. (Al Lajnah ad Daimah Lil Buhut wal Ifta’ juz VI hal 55 – 58)

Dan ketika ayat-ayat mutasyabihat itu tak dijelaskan atau diterangkan oleh dalil-dalil nan qoth’i maka hendaklah mengimaninya dan tak memberikan pena’wilan atasnya, sebagaimana penuturan Imam az Zarkasyi,”Adapun ayat-ayat muhkamat maka diamalkan sedangkan nan mutasyabihat hendaklah diimani, tak mena’wilkannya apabila tak ada dalil qoth’i nan menjelaskan tentangnya.”

Wallahu A’lam

Ustadz menjawab

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy