Bagaimana Menghadapi Orang Tua Dalam Memilih Jodoh?

Bagaimana Menghadapi Orang Tua Dalam Memilih Jodoh?

assalamualikum wr wb

ustad, ana ada pertanyaan dan butuh donasi secara syar’i buat menjawab problema hayati ana.

ana di ta’rufkan oleh murobi dengan seorang duda, tak memiliki anak. istrinya meninggal. tapi keluarga ana, ayah mendukung sebab orang tersebut dirasa baik. ibu semula tak masalah, tapi belakangan ibu tak menyukainya, mungkin sebab dia berstatus duda. ibu berfikir, kelak si calon tadi akan membanding-bandingkan ana dengan istrinya nan dulu. ana sudah memutuskan buat tetap menikah ustad, tapi kendalanya ibu mengulur-ngulur waktu dengan dalih lebih mementingkan pekerjaan ana, sebab ana sudah di anggap banyak mengeluarkan biaya buat disekolahkan hingga sarjana. wallohu ‘alam secara pribadi, ana lebih takut kepada Alloh bila ana tak mengabdi kepada suami dan menunda pernikahan. dan pernikahan itu di tunda buat sementara, sebab nenek ana sedang sakit dan ayah meminta buat menunda dulu. ana bingung ustad, sebab sekarang nan dihadapi ialah ibu, menjelaskan ilmu islam tentang pernikahan kepada ibu sangatlah sulit, sebab ibu sangat berprinsip. mohon bantuannya ustad, semoga Alloh memudahkan ustad dalam segala hal, dengan ustad membantu hamba-Nya dalam memecahkan suatu persoalan berdasarkan apa nan diberikan-Nya kepada kita.

Wa’alaikum salam wr. wb.
Ananda Rini nan dirahmati Allah SWT, aku turut prihatin sebab ibu Anda keberatan jika Anda menikah dengan duda. Saran saya, bicara secara baik-baik dan sabar dengan ibu Anda mengapa ia tak setuju Anda menikah dengan duda. Beri alasan-alasan nan masuk akal dan menyentuh perasaan ibu Anda bahwa sesungguhnya menikah dengan duda bukan merupakan hal nan salah. Apalagi jika duda tersebut ialah duda nan baik dan bertanggung jawab.
Jika Anda ‘mentok’ menyakinkan ibu tentang pilhan Anda. Cara kedua nan bisa Anda lakukan ialah meminta donasi kepada orang-orang nan disegani ibu Anda. Orang tersebut misalnya, guru ngajinya, orang tuanya, kakaknya atau temannya nan usianya lebih tua darinya. Minta tolong kepada orang-orang nan disegani ibu Anda (kalau dapat lebih dari satu orang) buat berbicara kepada ibu Anda dan meyakinkannya bahwa pilihan Anda buat menikah dengan duda bukanlah merupakan hal nan perlu dikhawatirkan.
Bagaimana jika cara kedua juga “mentok” dalam artian ibu Anda tetap tak merestui pernikahan Anda? Menurut saya, jika ibu Anda bersikeras tak merestui pernikahan Anda dengan duda tersebut sebaiknya Anda mundur saja dan mencari jodoh lain nan lebih sinkron dengan keinginan ibu Anda. Hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa restu orang tua dalam pernikahan (terutama ibu) sangat krusial di dalam Islam. Dapat termasuk durhaka jika seorang anak perempuan menentang ibunya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda : “"Siapa saja perempuan nan nikah tanpa seizin walinya, maka nikahnya batil, maka nikahnya batil, maka nikahnya batil…" (Hadits Shahih, dikeluarkan oleh Abu Dawud (no. 2083), Tirmidzi (no. 1102), Ibnu Majah (no. 1879).
Masalah restu orang tua dalam pernikahan antara anak lelaki dan perempuan memang berbeda di dalam Islam. Jika lelaki bisa menikahkan dirinya sendiri walau tanpa restu orang tua (tetapi sebaiknya tetap berusaha meminta restu orang tua), maka anak perempuan tak dapat menikahkan dirinya sendiri (harus dengan restu orang tua). Pertimbangannya sebab lelaki ialah qowwam (pemimpin) dalam rumah tangga nan bertanggung jawab terhadap baik buruknya rumah tangga nan dibangunnya kelak. Sebaliknya, perempuan setelah menikah akan dipimpin oleh suaminya. Dapat dikatakan baik dan buruknya ia menjadi tanggung jawab suaminya. Oleh sebab itu, agar perempuan tak salah pilih maka Islam mengharuskan anak perempuan buat meminta pertimbangan orang tuanya (meminta restu orang tuanya). Sebaliknya, jika orang tua memaksa kita buat menikah dengan orang nan jelas-jelas rusak akhlaqnya dan agamanya, bahkan mengajak kita kepada kemusyrikan, maka kita boleh menentang keinginan orang tua tersebut (tidak termasuk durhaka). Allah SWT berfirman : “Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu buat mempersekutukan Aku dengan sesuatu nan tak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa nan telah kamu kerjakan” (QS. 29 : 8).

Demikian jawaban saya. Semoga urusan Anda dimudahkan oleh Allah SWT.
Salam Berkah!

(Satria Hadi Lubis)
Mentor Kehidupan

Konsultasi

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy