Bakar Kemenyan di Rongga di bawah rumah Jenazah, Bolehkah?

Bakar Kemenyan di Rongga di bawah rumah Jenazah, Bolehkah?

Assalamu’alaikum wr. wb.

Ahlan wasahlan,ama ba’du. Kepada pak ust. Ahmad Sarwat, Lc., ana mau bertanya nih. Di Surabaya, setiap ada orang meninggal dunia, kalau jenazahnya disemayamkan di rumah duka, selalu di bawah loka tidurnya ada nan namanya dupa/kemenyan Gunung Kawi. Waktu aku tanyakan kepada orang-orang, kata mereka, itu dupa buat mencegah supaya si jenazah tak mengeluarkan bau nan busuk.Nah, pertanyaan dari saya: Apakah perbuatan ini dibenarkan oleh agama Islam? Terus terang saja soal agama aku masih ada kekurangan, dan aku belum punya kitab al-hadist. Harap pak ust bersedia membantu saya.

wassalamu’alaikum wr. wb.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh Bila tujuannya semata-mata agar jenazah itu tak mengeluarkan bau busuk, tentu saja alasan itu dapat diterima. Dan memang seharusnya jenazah itu segera dimandikan dan dikafankan, agar tak mengeluarkan bau nan kurang sedap.

Dan dalam memandikan jenazah, memang dianjurkan buat menggunakan kapur barus atau benda-benda sejenisnya. Salah satu tujuannya memang buat menghilangkan bau.

Dan lebih baik lagi bila jenazah itu segera dimakamkan. Tidak baik membiarkan jenazah terlalu lama disemayamkan. Kalau sekedar menunggu kira-kira seharian, lantaran ada sanak famili nan berupaya mengejar agar bisa menyaksikan buat terakhir kalinya, mungkin masih dapat dimaklumi. Tapi kalau sampai berhari-hari hingga jenazah itu sendiri sampai mulai membusuk, sebaiknya dihindari saja.

Adapun pemakaian dupa dan sejenisnya, memang seringkali dapat menimbulkan salah duga. Sebab dupa dan sejenisnya, memang agak dekat dengan bentuk-bentuk perdukunan atau penyembahan kepada roh. Meski pun sebenarnya tetap berbeda.

Kalau dupa dan kemenyan itu kemudian dipercaya sebagai bentuk ritual buat mengusir arwah dursila tertentu, atau gangguan dari makhluk halus lainnya, tentu saja itu ialah gaib nan perlu diberantas. Sebab seorang nan telah wafat, ruhnya telah kembali menghadap kepada Allah SWT dan berpindah ke alam nan lain.

Karena pada hakikatnya, nan namanya kematian itu ialah perpindahan seseorang dari alam global ini ke alam lain, yaitu alam barzakh. Jenazahnya nan ada di global ini memang tak ikut dan akan hancur dimakan tanah. Namun untuk Allah SWT, sangat tak sulit buat memberinya jasab baru di alam lain itu. Sehingga di alam barzakh itu dia tetap dapat merasakan kenikmatan surgawi nan dijanjikan, atau merasakan pedihnya azab kubur bila sekiranya dia calon penghuni neraka.

Maka ruh seseorang nan wafat itu tak punya urusan buat kembali lagi ke jasadnya semula, kecuali atas izin dan kehendak Allah SWT. Sehingga dupa dan kemenyan bila diyakini buat membuat arwah tenang atau tak diganggu dengan arwah lainnya, justru sebuah kesalahan.

Yang sahih agar arwah seseorang itu tenang di alam kubur ialah dengan memintakan ampunan kepada Allah atas dosa-dosanya. Juga dengan mendoakannya agar diterima amal ibadahnya di sisi Allah SWT. Bila dia punya hutang, maka bayarkanlah sesegera mungkin. Dan bila pernah bersalah kepada orang lain, mintakanlah maaf darinya.

Dan meski ada sedikit disparitas pendapat, namun sebagian besar ulama menyatakan bahwa kita dapat membacakan ayat Al-Quran Al-Karim, di mana pahala bacaan itu kita niatkan agar disampaikan kepada almarhum nan sudah di alam barzakh. Agar diluaskan kuburnya, diterangi dengan cahaya dan dijadikan sebagai taman dari taman-taman surga.

Wallahu a’lam bishshawab wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuhAhmad Sarwat, Lc.

Umum

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy