Bank Susu Dalam Perspektif Islam

Bank Susu Dalam Perspektif Islam

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Pak ustad nan aku hormati, aku ingin menanyakan tentang hukum bank susu dalam perspektif Islam. Bagaimana pandangan Islam terhadap praktek bank susu ini?

Terima kasih

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wababarakatuh,

Di masa sekarang ini kita memang dikejutkan dengan warta telah berdirinya bank khsusus buat menampung air susu ibu. Para ulama pada masa ini memandangkan dari beberapa sudut pandang nan berlainan, sehingga nan kita temui dari fatwa mereka pun saling berbeda. Sebagian mendukung adanya bank air susu tapi nan lainnya malah tak setuju.

1. Pendapat Yang Membolehkan

Ulama besar semacam Dr. Yusuf Al-Qaradawi tak menjumpai alasan buat melarang diadakannya semacam "bank susu." Asalkan bertujuan buat mewujudkan maslahat syar’iyah nan kuat dan buat memenuhi keperluan nan wajib dipenuhi.

Beliau cenderung mengatakan bahwa bank air susu ibu bertujuan baik dan mulia, didukung oleh Islam buat memberikan pertolongan kepada semua nan lemah, apa pun karena kelemahannya. Lebih-lebih bila nan bersangkutan ialah bayi nan baru dilahirkan nan tak mempunyai daya dan kekuatan.

Beliau juga mengatakan bahwa para wanita nan menyumbangkan sebagian air susunya buat makanan golongan anak-anak lemah ini akan mendapatkan pahala dari Allah, dan terpuji di sisi manusia. Bahkan sebenarnya wanita itu boleh menjual air susunya, bukan sekedar menyumbangkannya. Sebab di masa nabi, para wanita nan menyusui bayi melakukannya sebab faktor mata pencaharian. Sehingga hukumnya memang diperbolehkan buat menjual air susu.

Bahkan Al-Qaradawi memandang bahwa institusiyang bergerak dalam bidang pengumpulan ‘air susu’ itu nan mensterilkan serta memeliharanya agar bisa dinikmati oleh bayi-bayi atau anak-anak patut mendapatkan ucapan terima kasih dan mudah-mudahan memperoleh pahala.

Selain Al-Qaradawi, nan menghalalkan bank susu ialah Al-Ustadz Asy-Syeikh Ahmad Ash-Shirbasi, ulama besar Al-Azhar Mesir. Beliau menyatakan bahwa interaksi mahram nan diakibatkan sebab penyusuan itu harus melibatkan saksi dua orang laki-laki. Atau satu orang laki-laki dan dua orang saksi wanita sebagai ganti dari satu saksi laki-laki.

Bila tak ada saksi atas penyusuan tersebut, maka penyusuan itu tak mengakibatkan interaksi kemahraman antara ibu nan menyusui dengan anak bayi tersebut.

2. Yang Tidak Membenarkan Bank Susu

Di antara ulama pada masa ini nan tak membenarkan adanya bank air susu ialah Dr. Wahbah Az-Zuhayli dan juga Majma’ Fiqih Islami. Dalam kitab Fatawa Mua`sirah, beliau menyebutkan bahwa mewujudkan institusi bank susu tak dibolehkan dari segi syariah.

Demikian juga dengan Majma’ Fiqih Al-Islamimelalui Badan Muktamar Islam nan diadakan di Jeddah pada tanggal 22 – 28 Disember 1985/ 10 – 16 Rabiul Akhir 1406. Forum inidalam keputusannya (qarar) menentang keberadaan bank air susu ibu di seluruh negara Islam serta mengharamkan pengambilan susu dari bank tersebut.

Perdebatan Dari Segi Dalil

Ternyata disparitas pendapat dari dua kelompok ulama ini terjadi di seputar syarat dari penyusuan nan mengakibatkan kemahraman. Setidaknya ada dua syarat penyusuan nan diperdebatkan. Pertama, apakah disyaratkan terjadinya penghisapan atas puting susu ibu? Kedua, apakah sine qua non saksi penyusuan?

1. Haruskah Lewat Menghisap Puting Susu?

Kalangan nan membolehkan bank susu mengatakan bahwa bayi nan diberi minum air susu dari bank susu, tak akan menjadi mahram bagi para wanita nan air susunya ada di bank itu. Sebab kalau sekedar hanya minum air susu, tak terjadi penyusuan. Sebab nan namanya penyusuan harus lewat penghisapan puting susu ibu.

Mereka berdalil dengan fatwaIbnu Hazm, di mana beliau mengatakan bahwa sifat penyusuan haruslah dengan cara menghisap puting susu wanita nan menyusui dengan mulutnya.

Dalam fatwanya, Ibnu Hazm mengatakan bahwa bayi nan diberi minum susu seorang wanita dengan menggunakan botol atau dituangkan ke dalam mulutnya lantas ditelannya, atau dimakan bersama roti atau dicampur dengan makanan lain, dituangkan ke dalam mulut, hidung, atau telinganya, atau dengan suntikan, maka nan demikian itu sama sekali tak mengakibatkan kemahraman

Dalilnya ialah firman Allah SWT:

‘Dan ibu-ibumu nan menyusui kamu dan saudara perempuanmu sepersusuan…‘ (QS An-Nisa':23)

Menurut Ibnu Hazm, proses memasukkan puting susu wanita di dalam mulut bayi harus terjadi sebagai syarat dari penyusuan.

Sedangkan bagi mereka nan mengharamkan bank susu, tak ada kriteria menyusu harus dengan proses bayi menghisap puting susu. Justru nan menjadi kriteria ialah meminumnya, bukan cara meminumnya.

Dalil nan mereka kemukakan juga tak kalah kuatnya, yaitu hadits nan menyebutkan bahwa kemahraman itu terjadi ketika bayi merasa kenyang.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ اُنْظُرْنَ مَنْ إِخْوَانُكُنَّ, فَإِنَّمَا اَلرَّضَاعَةُ مِنْ اَلْمَجَاعَةِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Perhatikan saudara laki-laki kalian, sebab saudara persusuan itu dampak kenyangnya menyusu. (HR Bukhari dan Muslim)

2. Haruskah Ada Saksi?

Hal lain nan menyebabkan disparitas pendapat ialah masalah saksi. Sebagian ulama mengatakan bahwa buat terjadinya persusuan nan mengakibatkan kemahraman, maka sine qua non saksi. Seperti pendapat Ash-Sharabshi, ulama Azhar. Namun ulama lainnya mengatakan tak perlu ada saksi. Cukup keterangan dari wanita nan menyusui saja.

Bagi kalangan nan mewajibkan ada saksi, interaksi mahram nan diakibatkan sebab penyusuan itu harus melibatkan saksi dua orang laki-laki. Atau satu orang laki-laki dan dua orang saksi wanita sebagai ganti dari satu saksi laki-laki.

Bila tak ada saksi atas penyusuan tersebut, maka penyusuan itu tak mengakibatkan interaksi kemahraman antara ibu nan menyusui dengan anak bayi tersebut.Sehingga tak perlu ada nan dikhawatirkan dari bank susu ibu. Karena susu nan diminum oleh para bayi menjadi tak jelas susu siapa dari ibu nan mana. Dan ketidak-jelasan itu malah membuat tak akan terjadi interaksi kemahraman.

Dalilnya ialah bahwa sesuatu nan bersifat syak (tidak jelas, ragu-ragu, tak ada saksi), maka tak mungkin ditetapkan di atasnya suatu hukum. Pendeknya, bila tak ada saksinya, maka tak akan mengakibatkan kemahraman.

Sedangkan menurut ulama lainnnya, tak perlu ada saksi dalam masalah penyusuan. Yang krusial cukuplah wanita nan menyusui bayi mengatakannya. Maka siapa pun bayi nan minum susu dari bank susu, maka bayi itu menjadi mahram untuk semua wanita nan menyumbangkan air susunya. Dan ini akan mengacaukan interaksi kemahraman dalam taraf nan sangat luas.

Dari pada rancu balau, maka mereka memfatwakan bahwa bank air susu menjadi haram.

Dan konklusi akhirnya, masalah ini tetap menjadi titik disparitas pendapat dari dua kalangan nan berbeda pandangan. Wajar terjadi disparitas ini, sebab ketiadaan nash nan secara langsung membolehkan atau mengharamkan bank susu. Nash nan ada hanya bicara tentang hukum penyusuan, sedangkan syarat-syaratnya masih berbeda. Dan sebab berbeda dalam menetapkan syarat itulah makanya para ulama berbeda dalam menetapkan hukumnya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wababarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kontemporer

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy