Belajar dari Mujahidah Senja

Belajar dari Mujahidah Senja

Jika gelap datang tiba-tibaKetika kita telah begitu terbiasa dengan cahaya terang-benderangSebijak apakah kita menyikapinya?Saya sebenarnya tak terlalu mengenalnya dengan baik, ya… tak sebelum dia benar-benar menginspirasi saya. Dia ialah kakak angkatan saya. Tidak banyak aktivitas bersama nan pernah kami kerjakan. Sekedar bahwa kami sama-sama kuliah di satu universitas, satu fakultas, satu jurusan, dan melibatkan diri di sebuah komunitas muslim fakultas, namun juga di bidang nan berbeda.

Sampai suatu hari aku dikejutkan dengan warta bahwa beliau mengalami sakit nan berefek terhadap penglihatannya. Di hari nan sama ketika aku mendengar warta seorang adik angkatan meninggal dunia, juga teman seangkatan aku nan mengalami kecelakaan nan menyebabkan patah tulang kaki dan tangannya. Ya Allah, aku patut bersyukur dengan kecelakaan kecil nan aku alami sore harinya sebab emosi aku benar-benar teraduk-aduk dengan berita-berita duka nan aku dengar sepanjang pagi hingga siang hari itu.

Sayangnya, itupun tak membuat aku menyegerakan diri silaturrahim ke kediamannya buat menjenguk atau sekedar menghiburnya. Yah, terlalu banyak alasan-alasan tidak bermutu buat diungkapkan jika ditanya mengapa. Hingga suatu hari aku melihat keramaian di taman fakultas, ada seseorang nan sedang dikelilingi di sana. Saya mendekat, ingin tahu siapa orang nan dikelilingi. ternyata beliau, kakak angkatan aku itu. Subhanallah, ia tandai aku dengan suara tawa saya. Ketika itu aku berjanji buat membacakannya sesuatu, sebab dibacakan sesuatu (buku, majalah, atau buletin) telah menjadi aktivitas barunya pasca tak lagi dapat melihat.

Namun lagi-lagi aku belum dapat menepati janji, hingga dua hari lalu aku berkesempatan melewati sore nan berbalur hujan dengannya. Saya bersyukur sore itu mengurungkan niat buat kembali ke kos dan memilih mendekam sementara di sekretariat SKI. Ketika aku masuk ke sekretariat ternyata ada beliau di sana, duduk di sudut sekretariat. Posisi nan kondusif baginya. Canda-canda ringan tidak lepas dari bibir beliau. Kepada seorang rekan beliau minta dibacakan edisi terbaru buletin mingguan SKI kami nan terbit hari itu. “Saya tidak pernah melewatkan Embun”, katanya pada saya. Setelah rekan aku selesai membacakan Embun, aku minta izin membacakan dua buah tulisan untuknya, teringat janji nan belum aku tepati. Tulisan nan aku baca bukan hanya sekedar didengar, beliau senantiasa melontarkan sekedar komentar bahkan menganalisis jika pernyataan tulisan nan aku bacakan menarik begi beliau buat dianalisis.

Tepat ketika aku selesai membacakan tulisan kedua, azan Ashar berkumandang. Saya mengajaknya berangkat shalat. Perjuangan beliau berjalan dari posisi duduknya menuju musholla, memakai sendal, mengambil wudhu, memperbaiki jilbabnya, memakai peralatan shalat, memosisikan diri buat shalat, melipat kembali alat shalatnya setelah selesai shalat, berjalan kembali ke sekretarian SKI, sungguh menjadi pelajaran tersendiri bagi saya. Tak ada keluhan, bahkan beberapa kali beliau menolak buat aku tuntun, sebisa mungkin beliau usahakan buat mengerjakannya sendiri. Misalnya ketika aku hendak membantunya memperbaiki hijab sehabis wudhu, awalnya ia menolak, meski kemudian ia izinkan aku membantunya sebab baginya jilbabnya terasa tetap belum rapi.

“Di rumah kalau pakai hijab dipakaikan siapa, Mbak?” tanya saya.

“Pakai sendiri dong” jawabnya tetap dengan senyum.

Begitupun ketika aku berusaha menuntunnya berjalan, ia menolak. “Nggak usah dipegangin, sendiri dapat kok” Ia lepaskan tangannya dari tangan aku dan berjalan sendirian, meski harus menyeret tapak kakinya buat meraba undakan, bahkan tersandung sapu berkali-kali.

Selepas Ashar aku tidak kuasa menepis keinginan buat bertanya padanya, keinginan nan sejak lama aku urungkan sebab risi pertanyaan aku akan menyakiti hatinya. Pertanyaan klise, niscaya sudah banyak nan menanyakan, dan aku tidak berani memastikan ia mau bercerita. Dapat jadi ia sudah bosan dengan pertanyaan itu-itu saja. Namun betapa stabilnya keadaannya dalam pandangan saya, membuat aku benar-benar ingin mengambil hikmah darinya. Siapakah nan siap mengalami kebutaan setelah hayati lebih dari dua puluh tahun dengan penglihatan normal?

“Saya juga manusia, sejak pagi sampai siang aku menangis. Wajar kan?”Itulah jawabannya ketika aku tanya reaksi pertamanya begitu mengetahui bahwa ia telah benar-benar tak dapat melihat. “Waktu itu aku baru bangun. Saya tanya ibu kenapa gelap semua. Beberapa waktu sebelumnya pernah terjadi hal nan sama, ternyata lampu kamar memang dimatikan. Tapi kini sebab mata aku benar-benar tak dapat melihat lagi.”

“Tapi kemudian aku aku sadar, tak ada nan sia-sia dari semua ini, Allah ambil penglihatan aku sebab Allah ingin menutup satu pintu zina buat saya.” Subhanallah, itulah dia. Jawaban itu ialah kunci primer bagi reaksi-reaksinya nan menyusul kemudian atas apa nan ia alami. “Saya memang kehilangan satu, tapi aku bisa lebih banyak. Memori aku jadi lebih kuat, pendengaran aku jadi lebih tajam, hati aku jadi lebih peka.”

Sungguh benar, bukan apanya dari ujian nan dialaminya nan menjadi pemikiran tapi bagaimana ia menyikapi ujian itu nan memesona saya. “Optimis”, kata itulah nan saat ini ia patrikan dalam dirinya.

“Jika ALLAH mencintai seorang hamba, Dia mengujinya. Jika ia bersabar, maka ALLAH memilihnya, dan jika ia rela, maka ALLAH mengutamakannya di sisi-Nya.” (Al-Hadits)

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy