Berbahagia Menjadi Lajang

Berbahagia Menjadi Lajang

Bagi seorang wanita pada umumnya, melajang dalam usia matang sungguh tidak nyaman. Betapa pun, menikah ialah kebutuhan fitrah setiap manusia. Tidak terpenuhinya kebutuhan ini sangat dapat jadi menjadi penyebab guncangan jiwa nan bersangkutan. Ditambah lagi budaya dan kerangka berpikir nan berkembang di masyarakat nan memojokkan wanita lajang. Perawan tua, tak laku dan kalimat-kalimat semacamnya menjadi label bagi mereka nan belum menikah. Belum lagi tuntutan dan pertanyaan dari keluarga dan tetangga kiri-kanan tiap ketemu nan bikin sebal,” Kapan menikah?”

Bagi seorang wanita normal, keluarga dan anak-anak ialah asa dan cita-cita. Keluarga ialah loka mengabdi nan membawa ketenangan. Anak-anak ialah amanah nan membawa kebahagiaan. Sangat wajar, jika setiap wanita menginginkan adanya fase menikah dalam hidupnya. Tapi masalahnya, menikah tak dapat dilaksanakan secara sepihak. Menikah membutuhkan pasangan, nan dalam situasi, kondisi dan masa eksklusif tak mudah ditemukan. Karena kriteria nan tidak sepadan, sebab kuantitas nan tidak terpenuhi, maupun sebab takdir belum menentukan. Seperti pada masa sekarang, saat wanita lajang di usia matang hampir menjadi fenomena.

Lantas bagaimana?

Bersabar, menunggu dan bertakwa kepada keputusan Allah. Itu nan banyak aku dengar, dan aku sepakati pula. Hal ini barangkali hikmah diperbolehkannya poligami oleh kaum pria, dan mungkin sudah tiba masanya. Ini pendapat lain, nan aku juga tak menolaknya. Namun, apakah hanya itu? Saya kira masih ada alternatif lain, nan lebih progresif bukan pasif dan dapat dilakukan secara berdikari oleh seorang wanita. Saya teringat sebuah kisah tentang seorang muslimah perkasa di punggung Gunung Kidul. Wanita itu sangat aktif utamanya dalam kegiatan dakwah dan sosial.

Dengan sepeda motornya ia menjelajahi pelosok desa, mengisi kajian dan memberikan penyuluhan di kampung-kampung miskin dan desa-desa terpencil. Ia menjadi panutan, ia menjadi konsultan, ia menjadi acuan, ia menjadi loka orang-orang lugu itu meminta nasihat.

Muslimah itu, masih lajang dalam usianya nan 35 tahun. Muslimah itu, mengasuh tiga anak yatim dengan kemampuannya sendiri. Muslimah itu, tak kesepian sebab ia punya ‘keluarga’. Wanita itu tidak kehilangan fitrah kewanitaannya sebab ia punya ‘anak-anak’ loka ia mencurahkan cinta dan perhatian. Muslimah itu tak digugat kesendiriannya sebab ia menebar manfaat.

Membaca kisahnya, banyak inspirasi nan dapat diambil oleh kaum wanita, dan aku pun ingin meneladaninya. Apa nan dilakukan muslimah tersebut dapat menjadi salah satu alternatif jawaban atas problema banyaknya wanita-muslimah khususnya- berusia matang nan belum menikah. Apa nan dilakukan si muslimah perkasa, memberikan hikmah nan banyak bagi kemanusiaan.

Jika kita renungan, menjadi lajang bukanlah sebuah aib dan dukacita. Menjadi lajang membuka pintu-pintu amal dan kegunaan bagi diri dan masyarakat, seperti halnya nan dilakukan si muslimah.

Seorang wanita lajang akan lebih mudah bergerak dan beraktifitas sebab ia tidak dibebani tugas-tugas kerumahtanggaan. Seorang wanita lajang akan dapat lebih banyak berbakti kepada masyarakat dengan kapital waktu, peluang dan kemampuan nan ia miliki. Berapa banyak selama ini aktifitas sosial masyarakat nan mandeg sebab ditinggal penghasungnya (yang seorang wanita) menikah? Berapa banyak aktifitas nan masih terus berkembang sebab penyandangnya ‘alhamdulillah’ masih lajang dan punya waktu banyak buat berkomitmen?

Lantas bagaimana memenuhi kebutuhan fitrah sebagai wanita? Bukankah pintu tebuka lebar juga? Lihat, betapa banyak anak-anak di global ini nan butuh asuhan, pendidikan dan usapan tangan lembut kaum wanita? Apalagi di Jakarta nan sedemikian tua dan menyimpan banyak problema terutama berkaitan dengan anak jalanan, anak miskin, anak yatim dan anak-anak nan kurang dalam pendidikan dan asuhan.

Dalam kesendirian dan kemandirian kaum wanita, barangkali Allah memang mengirimkan mereka buat anak-anak tidak mampu, buat dididik, buat diasuh. Mereka ialah anak-anak kita juga, begitu Emha Ainun Najib pernah mengatakan dalam salah satu tulisannya di buku Markesot Bertutur. Anak-anak sesungguhnya ialah anak-anak dunia, amanah dari Allah nan mesti dijaga. Sekalipun mereka tak lahir dari rahim kita.

Saya percaya, selalu ada hikmah di balik setiap empiris nan ditetapkan Allah. Banyaknya wanita lajang pada masa sekarang, mungkin sebab Allah menginginkan adanya tangan–tangan terampil, pribadi-pribadi lembut namun perkasa buat menanggung sebagian beban dunia. Tugas itu diantaranya ialah mengasuh anak-anak yatim, anak-anak jalanan, anak-anak tetangga nan kurang perhatian dan kurang pendidikan moral. Tugas itu diantaranya ialah ikut membenahi kerusakan sosial, kemiskinan, buruknya pendidikan dan aktifitas publik lainnya nan membutuhkan komitmen waktu, kemampuan dan kemandirian seorang wanita.

Mereka butuh kita, para wanita lajang nan mandiri, nan sanggup menafkahi diri sendiri dan orang lain. Yang memiliki perhatian dan kemauan lebih buat all out terhadap aktifitas nan mungkin tak dapat dilakukan oleh para wanita nan sudah berumahtangga. Kita dapat tetap memiliki keluarga, meski bukan sebab pernikahan. Kita bisa memiliki makna, meski bukan dengan car menjadi ibu rumah tangga. Kita mampu dapat menjadi manusia seutuhnya melalui usaha kita sendiri, tanpa harus meminta pengertian semua orang, tanpa perlu menuntut dan meminta para lelaki buat menikahi dan berpoligami. Sekarang tinggal kita tinggal memilih: Mengadopsi anak dari panti asuhan, anak jalanan, anak tetangga? Atau ikut berpartisipasi menjadi orang tua asuh, mendidik anak jalanan, anak-anak TPA, anak tetangga, keponakan, mendirikan taman bacaan? Atau bahkan ‘hanya’ sesedikit apapun, berkontribusi terhadap komunitas dan masyarakat. Mereka ialah juga ‘keluarga’ kita. (azi_75@yahoo.com, tulisan ini sama sekali bukan mendorong kaum wanita untuk melajang).

Akhwat

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy