Berbeda ? Untuk Saling Mengenal (4)

Berbeda ? Untuk Saling Mengenal (4)

Herr Scholl ini sudah tua. Kalau aku taksir mungkin sudah mendekati enam puluh tahun. Jambang nan dicukur dan kumisnya sudah memutih, bukan sebab rona pirang rambut orang Jerman. Tetapi amat sering aku jumpai Herr Scholl ini bangun pagi-pagi dan kemudian bekerja di kebunnya. Kesan nan aku tangkap darinya ialah dia orang nan sangat aktif. Rasanya ada saja nan dikerjakannya, dan pekerjaan nan dilakukannya ialah pekerjaan nan membutuhkan banyak gerakan fisik.

Hobinya ialah berlibur bersama Hauswagen[1]-nya. Hampir setiap pekan ia jalan-jalan bersama mobilnya itu. Suatu saat ketika lama aku tak bertemu dengannya, ia katakan bahwa ia ke Finlandia bersama mobilnya. Saya tentu sulit percaya. Ia menyebut 3000 km.

Ketika aku sudah mendekati masa tesis dan harus pindah ke Juelich, maka Herr Scholl ini mengadakan acara makan malam di halaman belakang rumahnya. Ini acara rutin setiap tahun bagi seluruh penghuni WG nan tinggal di loka nan dikelolanya, baik nan di rumahnya sendiri maupun di rumah nan satu laginya. Ia bahkan meminta Yu Chun, tetangga kamar aku buat menyiapkan masakannya. Waktu itu aku katakan padanya bahwa aku tak dapat hadir sebab aku sendiri sudah punya janji lain sebelumnya.

Ketika kemudian aku menemui Yu Chun dan bertanya bagaimana acaranya, maka Yu Chun mengatakan bahwa Herr Scholl ini mengatakan pada seluruh penghuni WG bahwa ia merasa sedih bila aku harus pergi dari tempatnya. Waktu itu aku hanya tersenyum pada Yu Chun, walau di dalam hati sebenarnya hati aku basah.

Ya, Herr Scholl ini amat baik orangnya. Ketika hari di mana aku berangkat ke Juelich, aku sendiri sudah menyiapkan dua kopor saya, dan sudah berencana buat berangkat dengan bis ke stasiun kereta. Waktu itu Herr Scholl baru bangun dan masih terlihat memakai baju tidur, sebab memang aku hendak mengambil kereta pagi. Maka melihat aku nan sudah rapi dan siap, ia kemudian berkata pada aku apakah masih ada waktu menunggu dia buat mandi dan bersiap sehingga diantar olehnya. Maka aku pun menjawab bahwa ada cukup waktu. Saya pun diantar dengan mobilnya hingga ke stasiun.

Di dalam mobil sempat ia bercerita bahwa ia tahu Juelich, dan kemudian meminta aku agar kalau-kalau suatu saat aku kembali ke Oldenburg dan butuh kamar, dia langsung bilang bahwa niscaya dia dapat menyediakan kamar bagi saya. Ah…Herr Scholl. Dia sempat memberikan skype[2] ID-nya dan meminta aku kalau aku ada internet di loka baru agar menghubungi dia. Sampai saat ini keinginannya nan sederhana ini belum dapat aku penuhi. Sedih juga mengingatnya.

Ketika aku tinggal di WG di rumah nan juga ditempati Herr Scholl, selepas Kwini pergi, maka aku lah satu-satunya pria di WG ini. Hanya ada dua penghuni lain nan tetap, yaitu Yu Chun dari Taiwan dan Wen dari Cina. Sedangkan dua penghuni lainnya sering berubah. Yu Chun ini sedang mengambil kuliah bahasa di VHS[3] . Ia sebenarnya hanya menyiapkan persyaratan bahasa Jermannya buat kuliah sebenarnya di universitas. Ia tertarik kuliah di Berlin dan Koeln.

Ketika aku tanyakan hendak mengambil kuliah apa, maka ia menjawab hendak mengambil kuliah musik etnis. Maka aku katakan padanya bahwa Indonesia ialah loka nan kaya dengan apa nan ia maksud, jadi aku tawarkan kalau suatu saat mau mengadakan penelitian musik etnis, coba saja Indonesia sebagai pilihan. Yu Chun ini lucu. Dia terbiasa memasak, sehingga ketika melihat aku hanya memanggang tiga pangkas Fischstaebchen[4] buat lauk makan saya, dia selalu menyindir aku bahwa mana cukup itu bagi saya. Dia sempat bertanya daging apa saja nan dapat aku makan.

Suatu saat ketika aku keluar dari kamar dan hendak keluar rumah, aku berjumpa dengannya, maka ia bertanya pada aku hendak kemana. Saya katakan hendak ke masjid. Ya, ada masjid nan dikelola saudara dari Turki di dekat WG aku ini. Hanya saja biasanya sehabis maghrib dikunci dan pada sabtu malam dan ahad penuh juga dikunci. Sempat sesekali aku mendapati beberapa pemuda dan pemudi Turki sedang kedap seperti hendak menyiapkan suatu acara di ruangan lain dari masjid ini.

Terakhir aku berjumpa dengan sang imam, ia mengatakan bahwa bangunan ini sudah hendak disewakan dan sudah ada masjid baru nan dipersiapkan sebagai penggantinya, dekat dari pusat kota. Biasanya hanya pas maghrib aku shalat di sini. Yu Chun nan kemudian mengetahui bahwa aku hendak ke masjid kemudian mengomentari bahwa ia sering mendengar aku membaca Al Quran, reciting. Saya sendiri tak menduga bahwa Yu Chun akan mendengar suara bacaan aku dari kamar.

Pada shalat nan dijaharkan, aku memang lebih mengeraskan bacaan aku dan begitu pula bila sedang membaca Al Quran, aku agak sedikit mengeraskannya. Alasan aku hanya satu. Telinga aku ini amat sporadis mendengar kalimat-kalimat ALLAH ini dilantunkan dan rasanya hanya inilah kesempatan aku buat memenuhi kebutuhan telinga aku ini. Waktu itu aku hanya kaget saja ternyata ia memperhatikan Norma saya. Semenjak itu biasanya Yu Chun sudah paham bila ketika waktu beranjak malam aku terdengar keluar dari kamar dan mengunci pintu buat keluar.(Bersambung)

Catatan :

[1] Mobil nan juga berfungsi layaknya ‘rumah’ kecil dalam perjalanan

[2] Salah satu layanan VoIP (Voice over Internet Protocol)

[3] Volkshochschule, sampai saat ini nan aku tahu ialah lebih sering dipakai sebagai loka belajar bahasa Jerman

[4] Potongan daging ikan tanpa tulang nan tinggal masuk oven buat cara penyajiannya

Kisah

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy