Berdebu? Basuhlah!

Berdebu? Basuhlah!

Perjalanan ke kantor dari rumah, sebenarnya hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja. Tetapi beberapa menit itu mampu membuat paras ini berdebu dan lumayan kotor. Debu nan dihempas angin, atau asap knalpot nan tidak ramah menempel di paras dan tubuh. Sehingga mau tidak mau ada aktivitas rutin ketika tiba di kantor, yakni mencuci wajah.

Ya, tak betah rasanya bekerja dengan paras kusam dan berdebu. Begitu pun setelah makan siang di luar kantor. Meski sebelum makan siang paras ini sudah terbasuh oleh air wudhu, namun terasa kotor lagi setelah keluar kantor. Maka, paras pun harus dibasuh lagi sebelum melanjutkan aktivitas kantor. Begitu seterusnya setiap kali keluar kantor, tetap saja merasa ada debu-debu nan inheren di wajah.

Bahkan pernah sesekali, saking kotornya setelah perjalanan jauh dan setibanya di kantor langsung mandi. Ini lantaran tidak hanya debu nan inheren di wajah, sesaat setelah cium sisi kiri kanan tubuh, wuihh… bau matahari! Jadilah saat itu juga menyegarkan diri dengan mandi.

Meski sudah mandi di kantor. Nanti setibanya di rumah, biasanya tetap mandi lagi. Maklum perjalanan dari kantor hingga ke rumah niscaya membawa debu dan aroma jalan raya nan tidak semestinya ikut bersemayam di loka tidur. Bercengkerama dengan anak-anak dan isteri di rumah pun niscaya tidak nyaman bila tubuh ini masih kotor. Setelah segar, keluarga pun tidak ragu buat memeluk dan mencium. Jelas, sebab aroma jalan raya sudah luntur terbasuh air segar.

Begitulah sehari-hari, selalu tidak nyaman bila paras ini berdebu. Selalu dan melulu berusaha buat membersihkannya agar nampak segar dan berseri. Paras nan bersih, selain sedap dipandang juga menyenangkan.

***

Kalaulah kita sering merasa terganggu dengan debu nan kerap menempel di wajah, kotoran nan inheren di tubuh, serta aroma jalanan nan hinggap menyertai. Sehingga merasa perlu buat membasuhnya dengan air nan segar. Bahkan jika merasa terlalu kotor, tidak cukup hanya membasuh wajah, kita pun segera mandi buat menghilangkan semua noda di tubuh. Hal ini setiap hari dan setiap kali kita kerjakan, dan telah menjadi kebiasaan.

Jika demikian, semestinya perasaan tidak nyaman seperti ini kita terapkan pula berkenaan dengan noda lain nan tidak nampak. Paras kita memang tidak kusam terkena noda ini, tubuh pun tidak terlihat kotor sebab orang lain memang tidak akan melihatnya. Lantaran hati ini nan sering ternoda, dan hanya kita nan dapat melihat dan merasainya. Sudahkah kita terus menerus membasuhnya? Atau jika terlalu pekat noda itu, tentu tidak cukup hanya membasuh. Kita perlu air nan lebih banyak buat membersihkannya.

Ini nasihat buat diri pribadi, agar selalu ingat buat membasuh hati tatkala ternoda. Seingat ketika paras ini tidak nyaman setiap kali banyak debu melekat. Astaghfirullah wa’atuubu ilaih…

Bayu Gawtama
belum ikutan School of Life? klik schooloflife.multiply.com atau kirim email ke school.of.life@hotmail.com

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy