Berhati-Hatilah Dalam Berteman, Nak

Berhati-Hatilah Dalam Berteman, Nak

Obat hati ada lima perkaranya,
Yang pertama baca Qur’an dan maknanya Yang kedua, sholat malam dirikanlah Yang ketiga, berkumpullah dengan orang saleh……..

Terdengar lagu Tombo Ati nan dinyanyikan oleh Opick dari televisi di ruang keluarga, saat saya sedang istirahat usai makan malam bersama keluarga. Penggalan lagu di atas:” Yang ketiga, berkumpullah dengan orang saleh, ” mengingatkan saya pada nasehat dari almarhum ayah kepadaku dan saudara-saudaraku. Nasehat nan selalu disampaikan oleh beliau berulang kali. Tujuannya agar kami sebagai anak-anaknya selalu ingat, memperhatikan dan mematuhi nasehat beliau. Nasehat nan sangat krusial dalam menjalani kehidupan.

” Berhati-hatilah dalam berteman, nak, ” itulah nasehat almarhum ayah nan selalu kupegang teguh hingga saat ini dan hari-hari mendatang. Nasehat nan singkat namun mempunyai makna nan sangat dalam. Nasehat nan selalu berulang kali kusampaikan juga kepada dua orang anakku.

Berteman ialah kebutuhan absolut bagi kita nan merupakan makhluk sosial. Sebagai wahana buat berinteraksi dan bersosialisasi. Perlu disadari, lingkungan pergaulan nan tidak sejenis sangat signifikan dalam membentuk karakter dan akhlak seseorang. Demikian pentingnya hal di atas, tercermin dalam sabda Rasulullah SAW: ” Seseorang itu tergantung agama temannya, maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa temannya.”" (HR Ahmad dan Tirmidzi).

Jika kita banyak berteman dengan orang-orang nan saleh, maka dengan izin Allah SWT akhlak dan konduite kita akan terimbas oleh kesalehan mereka. Demikian juga sebaliknya. ”Sesungguhnya perumpamaan teman nan baik dan teman nan dursila ialah seperti pembawa minyak wangi dan peniup barah pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau hanya akan mencium aroma harumnya itu. Sedangkan peniup barah pandai besi mungkin akan membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau nan tak sedap.” (HR Bukhari).

Dalam empiris sehari-hari, tidak sporadis kita lihat orang dapat terjerumus dan menyimpang dari jalan-Nya, sebab terpengaruh oleh lingkungan pergaulan nan tak baik. Suatu masalah nan sangat kompleks dalam kehidupan masyarakat. Berhati-hati dalam bergaul ialah solusi nan tepat buat mengatasinya.

Di dalam menjalin interaksi pertemanan ada beberapa faktor nan harus diperhatikan, agar mendapat ridho dari Allah SWT. Pertama, saling menasehati ke arah kebaikan dan saling mengingatkan jika ada kesalahan atau kekhilafan. Kedua, tak meremehkan atau memandang rendah pada teman. Ketiga, tak iri atau dengki atas karunia nan diberikan kepada teman oleh Allah SWT. Keempat, tak berprasangka jelek kepada teman. Kelima, tak membicarakan aib teman. Keenam, menjaga misteri nan diamanahkan oleh teman.

Pertemanan nan dijalin semata-mata buat mendapatkan laba duniawi bersifat sementara. Sekarang menjadi teman, mungkin besok atau pada kemudian hari akan menjadi lawan. Sedangkan pertemanan nan paling mulia ialah nan dijalin sebab Allah SWT. Tidak ada tujuan apa pun dalam pertemanan mereka, selain buat mendapatkan ridha-Nya.

”Dan ingatlah hari ketika itu orang nan zholim menggigit kedua tangannya seraya berkata, aduhai kiranya dulu saya mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya saya dulu tak menjadikan si fulan itu teman akrabku. Sesungguhnya, dia telah menyesatkan saya dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu datang kepadaku. Dan ialah setan itu tak mau menolong manusia.” (QS Al-Furqaan [25]: 27-29). Ayat di atas menggambarkan betapa besar penyesalan di hari akhir, sebab pertemanan akrab nan telah menyesatkan dari jalan-Nya. Suatu penyesalan nan terlambat, dan merupakan resiko nan diakibatkan oleh kelalaian dalam berteman.

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy