Berislam Secara Kaffah (1)

Berislam Secara Kaffah (1)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (208) فَإِنْ زَلَلْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (209)

“Hai orang-orang nan beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh nan konkret bagimu. Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Baqarah [2]: 208-209)

Di bawah bayangan dua lukisan nan menggambarkan contoh kemunafikan nan dursila dan contoh iman nan bersih, ayat-ayat berikut memanggil kaum muslimin dengan sifat iman, karakter khas mereka, supaya masuk ke dalam Islam dengan holistik jiwa mereka, supaya mereka waspada dari mengikuti jejak setan, serta mengingatkan mereka agar tak tergelincir setelah mereka mendapat penerangan nan jelas:

“Hai orang-orang nan beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh nan konkret bagimu. Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Baqarah [2]: 208-209)

Itulah seruan kepada orang-orang Mukmin dengan menggunakan sifat iman. Sifat nan mereka cintai dan membedakan mereka. Sifat nan menghubungkan mereka dengan Allah nan menyeru mereka agar seluruh entitas mereka masuk ke dalam Islam. Maksud pertama dari seruan ini ialah supaya orang-orang Mukmin menyerahkan seluruh jiwa raga mereka kepada Allah, serta menyerahkan segala urusan mereka kepada Allah, baik kecil atau besar. Hendaklah mereka menyerah secara absolut kepada Allah, tanpa ada nan tercecer darinya, baik pikiran atan perasaan, niat atau tindakan, cinta atau ketakutan nan tak tunduk kepada Allah dan tak ridha dengan ketetapan dan keputusan-Nya. Hendaklah mereka memberikan ketaatan dan kepatuhan kepada Allah dengan penuh keyakinan dan kerelaan. Mereka hendaklah menyerah diri mereka kepada qudrat Ilahi nan membimbing langkah-langkah mereka dengan keyakinan bahwa Allah ingin agar mereka mendapat kebaikan, nasihat dan petunjuk, dan dengan keyakinan bahwa mereka sedang menuju ke jalan dan kesudahan nan baik di global dan Akhirat.
Pengarahan seruan seperti ini kepada orang-orang nan beriman itu mengisyaratkan bahwa di sana ada orang-orang nan masih ragu-ragu dalam memberikan ketaatan dan kepatuhan nan absolut kepada Allah, baik dalam keadaan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Keberadaan orang-orang nan seperti mereka ini di dalam masyarakat Islam di samping golongan orang-orang nan penuh konfiden dan ridha itu memanglah suatu perkara nan biasa. Seruan ini ditujukan setiap masa kepada orang-orang nan beriman supaya mereka senantiasa ikhlas kepada Allah, dan supaya genre pikiran dan perasaan mereka ini selaras dengan kehendak Allah terhadap mereka dan selaras dengan pengarahan Nabi dan agama mereka tanpa ragu dan bimbang.

Apabila seseorang Islam menyambut seruan itu dengan sambutan nan seperti itu, maka berarti ia memasuki sebuah alam nan seluruhnya diselubungi kedamaian dan keamanan, sebuah alam nan seluruhnya dipenuhi keyakinan dan keyakinan, kerelaan dan kemantapan, di mana tak terdapat lagi kembimbangan dan kegelisahan, dan tak ada lagi kedurhakaan dan kesesatan. Kedamaian pada jiwa dan hati nurani. Kedamaian pada akal dan logika. Kedamaian pada manusia dan makhluk hayati lainnya. Kedamaian pada seluruh alam semesta dan seluruh nan maujud. Kedamaian nan menerangi lekuk-lekuk hati nurani. Kedamaian nan memayungi kehidupan dan masyarakat. Kedamaian di bumi dan di langit.

Kesan pertama nan dilimpahkan oleh kedamaian ini di dalam hati adalah persepsinya nan sahih terhadap Allah sebagai Rabb-nya, juga kejelasan dan kesederhanaan persepsi tersebut. Allah Tuhan Yang Maha Esa dan setiap Muslim hanya bertawajjuh kepada-Nya dengan hati nan teguh dan yakin. Hatinya bulat kepada Allah, tanpa terombang-ombang dari satu jalan ke jalan lain, tak dikejar-kejar oleh satu tuhan dari sini dan tuhan lain dari sana—sebagaimana nan terjadi dalam berhalaisme dan jahiliyah. Ia hanya bertuhan kepada Allah Yang Maha Esa, dan hanya kepada Allah ia membulatkan hatinya dengan penuh keyakinan, ketenteraman, terang dan jelas.

Peradaban

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy