Berkumur Waktu Wudhu Saat Puasa, Mungkinkah Air Tidak Tertelan?

Berkumur Waktu Wudhu Saat Puasa, Mungkinkah Air Tidak Tertelan?

Assalamu’alaikum w.w.

Pertanyaannya singkat: Berkumur waktu wudhu saat puasa, mungkinkah air tak tertelan? Kalau menurut saya, niscaya air kumur waktu wudhu itu bercampur dengan air liur, dan akhirnya ketelan juga. Apakah membatalkan puasa? Apalagi kalau sikat gigi, dengan pasta gigi. Lalu apa solusinya? Mohon penjelasannya.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Mungkin saja sebagian kecil dari air nan dikumur-kumurkan itu tercampur dengan ludah, lalu ketika seseorang menelan ludah, air itu terminum.

Namun apakah dengan demikian, puasa jadi batal? Mungkin secara logika boleh saja kita berpendapat demikian, namun sebelum kita bicara dengan logika, tak ada salahnya untuk kita buat merujuk kepada fatwa dan petunjuk nabi Muhammad SAW. Kita perlu mendapat keterangan pasti, benarkah menurut beliau SAW kumur itu membatalkan puasa?

Kalau kita teliti hadits-hadits nabi, kita akan menemukan beberapa riwayat nan justru membolehkan seseorang berkumur, asalkan tak hiperbola sehingga benar-benar ada nan masuk ke dalam rongga tubuh.

Riwayatkan bahwa Raslullah SAW bersabda:

عمر بن الخطاب قال: هششت يوماً فقبلت وأنا صائم فأتيت النبي صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم فقلت: صنعت اليوم أمراً عظيماً، فقبلت وأنا صائم فقال رسول الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم: أرأيت لو تمضمضت بماء وأنت صائم؟ قلت: لا بأس بذلك، فقال رسول الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم: ففيم

Dari Umar bin Al-Khatab ra. berkata, "Suatu hari saya beristirahat dan mencium isteriku sedangkan saya berpuasa. Lalu saya datangi nabi SAW dan bertanya, "Aku telah melakukan sesuatu nan fatal hari ini. Aku telah mencium dalam keadaan berpuasa." Rasulullah SAW menjawab, "Tidakkah kamu tahu hukumnya bila kamu berkumur dalam keadaan berpuasa?" Aku menjawab, "Tidak membatalkan puasa." Rasulullah SAW menjawab, "Maka mencium itu pun tak membatalkan puasa." (HR Ahmad dan Abu Daud)

Selain itu juga ada hadits lain nan juga seringkali ditetapkan oleh para ulama sebagai dalil kebolehan berkumur pada saat berpuasa.

وَعَنْ لَقِيطِ بْنُ صَبْرَةَ, قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ أَسْبِغْ اَلْوُضُوءَ, وَخَلِّلْ بَيْنَ اَلْأَصَابِعِ, وَبَالِغْ فِي اَلِاسْتِنْشَاقِ, إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَة

Dari Laqith bin Shabrah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sempurnakanlah wudhu’, dan basahi sela jari-jari, perbanyaklah dalam istinsyak (memasukkan air ke hidung), kecuali bila sedang berpuasa." (HR Arba’ah dan Ibnu Khuzaemah menshahihkannya).

Meski hadits ini tentang istinsyaq (memasukkan air ke hidung), namun para ulama menyakamakan hukumnya dengan berkumur. Intinya, nan dilarang hanya apabila dilakukan dengan berlebihan, sehingga dikhawatirkan akan terminum. Sedangkan bila istinsyaq atau berkumur biasa saja sebagaimana umumnya, maka hukumnya tak akan membatalkan puasa.

Maka dengan adanya dua dalil atsar ini, logika kita buat mengatakan bahwa berkumur itu membatalkan puasa menjadi gugur dengan sendirinya. Sebab nan menetapkan batal atau tidaknya puasa bukan semata-mata logika kita saja, melainkan logika pun tetap harus mengacu kepada dalil-dalil syar’i nan ada. Bila tak ada dalil nan secara sharih dan shaih, barulah analogi dan qiyas nan berdasarkan logika dapat dimainkan.

Bahkan beberapa hadits lain membolehkan hal nan lebih parah dari sekedar berkumur, yaitu kebolehan seorang nan berpuasa buat mencicipi masakan.

Dari Ibnu Abbas ra, "Tidak mengapa seorang nan berpuasa buat mencicipi cuka atau kuliner lain, selama tak masuk ke kerongkongan." (HR Bukhari secara muallaq dengan sanad nan hasan 3/47)

Juga tak merusak puasa bila seseorang bersiwak atau menggosok gigi. Meski tanpa pasta gigi, tetap saja zat-zat nan ada di dalam batang kayu siwak itu bercampur dengan air liur nan tentunya secara logika termasuk ke dalam kategori makan dan minum. Namun sebab ada hadits nan secara tegas menyatakan ketidak-batalannya, maka tentu saja kita ikuti apa nan dikatakan hadits tersebut.

Dari Nafi’ dari Ibnu Umar ra. bahwa beliau memandang tak mengapa seorang nan puasa bersiwak. (HR Abu Syaibah dengan sanad nan shahih 3/35)

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Puasa

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy