Berlindung Kepada Burung Garuda?

Berlindung Kepada Burung Garuda?

Mengapa Nabi Ibrahim Alaihis sallam disebut sebagai bapak ‘monotheisme’? Karena Ibrahim Alaihis sallam benar-benar ‘mentauhidkan’ Allah Rabbul alamin. Beliau hanya mengesakan Allah Rabbul Alamin. Tidak menyandingkan-Nya dengan apapun.

Nabi Ibrahim Alaihis sallam harus antagonis dengan ayahnya ‘Azar’ nan masih menyembah patung (berhala). Di mana di sekeliling Ka’bah patung-patung menjadi sesembahan. Termasuk ayahnya ‘Azar’ menjadi pelopor nan mengajak kaumnya menyembah patung.

Padahal, patung itu hanya benda mati, nan tak bisa memberikan kegunaan dan mudharat. Tetapi, mereka menyakini patung-patung itu, mereka jadikan sebagai ‘tuhan’. Mereka menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan.  Inilah persoalan nan sangat asas (pokok), terutama bagi kehidupan umat Islam saat ini.

Umat Islam dewasa ini mengulangi  episode Nabi Ibrahim Alaihis sallam, di mana umatnya waktu itu, masih menyembah patung nan hakikatnya tak bisa memberikan kegunaan dan mudharat bagi kehidupan mereka. Episode jahiliyah inilah nan akhirnya membawa kehancuran bagi kehidupan mereka.

 Nabi Ibrahim nan mengajak umatnya beriman kepada Allah Rabbul alamin itu, dan bukan hanya menghadapi umatnya nan jahil dan penyembah patung, tetapi beliau menghadapi hukuman. Di mana beliau dibakar oleh Namrud. Dimasukkan ke dalam api. Tetapi, Nabi Ibrahim Alaihis sallam, nan dimasukkan ke dalam barah itu, tak menjadi hangus, sebab kobaran api. Nabiullah Ibrahim Alaihis sallam diselamatkan oleh Rabbnya.

Sebuah episode bagi mereka nan dengan keyakinannya, dan selalu hanya berharap  pertolongan dari Rabbnya, maka hidupnya diselamatkan dari segala bentuk ancaman, kezaliman, dan siksaan dari para pengikut jahiliyah. Karena itu, Allah Rabbul Alamin, menegaskan,

"Janganlah engkau takut, cemas, dan sedih, bila engkau orang-orang nan mukmin".

Para pembawa dan penjuang penegak kebenaran dan keadilan, niscaya selalu diawal perjuangannya, ialah sebagai kelompok minoritas. Tidak akan banyak nan mengikutinya. Mendapatkan permusuhan dari seluruh kelompok jahiliyah. Niscaya mereka tak akan pernah akan memberi ruang kepada mereka nan ingin menegakkan kebenaran dan keadilan.

Mereka ialah kelompok minoritas. Hanya sedikit. Tetapi, mereka orang-orang nan memiliki keyakinan, kesungguhan, komitmen, dan kejujuran terhadap keyakinan nan mereka yakini. Mereka akan terus berjuang dengan segala kesabaran nan tanpa batas. Mereka memiliki keikhlasan nan utuh. Tidak tergoda dengan aksesoris kehidupan global nan bersifat artifisial. Itulah prototipe para pengikut Ibrahim Alailhis sallam.

Sekarang di era jahiliyah modern, banyak aktivis Islam, dan aktivis Islam lainnya, meninggalkan keyakinan, komitmennya, kejujurannya, kesungguhannya, khususnya dalam membela dan menegakkan keyakinan mereka, berupa selebaran nan diberikan Allah Rabbul alamin. Mereka bukan hanya mengubah jati dirinya dan karakter dasarnya, tetapi sampai mereka berani mengubah keyakinannya. Mereka lebih memilih dan mengejar dukungan manusia, dan rela meninggalkan segala simbol-simbol keislamannya.

Di era jahiliyah modern ini, para aktivis Islam dan gerakannya, lebih memilih menyesuaikan dengan kehidupan masyarakat dan sistem nan ada. Kehidupan masyarakat nan bercorak jahilyah dan sistem  "ghoirul Islam", yaitu sistem kufur, justru sekarang para akitivis Islam menyesuaikan dengan kondisi itu.

Mereka nan masuk ke dalam sistem jahiliyah, dahulunya menggunakan pameo "ingin merubah dari dalam". Maksudnya, mereka akan melakukan perubahan ketika masuk ke dalam sistem kufur, dan berada di dalam bi’ah jahiliyah. Tetapi, bukannya mereka sukses mengubahnya, tetapi mereka justru nan berubah, dan  menjadi jahiliyah.

Mereka mengubah prinsip-prinsip (mabadi’) Islam dengan sistem sekuler, nan merupakan cerminan dan lambang jahiliyah. Mereka mengakui dan menerima serta menyakini mabadi’ul khamsah, nan disebut dengan Pancasila.

Para pemimpin aktivis Islam itu menyerukan kepada pengikutnya, kadernya menghafal, memahami, butiri-butir dalam mabadi’ul khamsah itu. Mereka para elite aktivis Islam itu, juga menyerukan kadernya memahami preambule mabadi’ul khamsah. Mereka tak lagi menyakini tentang selebaran nan telah diberikan oleh Allah Rabbul alamin sebagai minhajul hayah, tetapi menggantinya dengan mabadi’ul khamsah. Inilah pergeseran nan nyata-nyata.

Mereka berlindung, meminta pertolongan, serta keamanan kepada mabadi’ul khamsah itu, nan dalam bentuknya "burung garuda". Mereka  meniadakan adanya Rabbul alamin.  Padahal, bagi orang-orang mukmin, hanya disuruh meminta pertolongan kepada Allah, Rasul, dan orang-orang mukmin. Bukan kepada sistem, filsafah, dan benda nan merupakan bikinan manusia. Wallahu’alam.

Editorial

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy