Bid’ah kah Shalat Sunnah Tasbih?

Bid’ah kah Shalat Sunnah Tasbih?

Apakah sholat sunnah tasbih dicontohkan Rasulullah? Mohon dalilnya. Syukron

Waalaikumussalam Wr Wb

Dinamakan shalat tasbih dikarenakan didalamnya banyak menyebutkan tasbih dan di setiap rakaat terdapat 75 kali tasbih.

Adapun hukum dari shalat tasbih ini maka para ulama berbeda pendapat. Disparitas tersebut disebabkan kekuatan hadits nan menceritakan tentang shalat ini.

Sebagian ulama Syafi’i mengatakan bahwa shalat ini ialah sunnah. Imam Nawawi mengatakan didalam sebagian kitabnya bahwa shalat ini ialah sunnah nan baik. Dan mereka berdalil dengan hadits nan menceritakan tentangnya, yaitu nan diriwayatkan oleh Abu Daud bahwa Rasulullah saw berkata kepada Abbas bin Abdul Mutthalib,”Wahai Abbas, pamanku. Sukakah Paman kuberi, kukasih hadiah, yaitu kuajari engkau—sepuluh macam—yang jika engkau lakukan maka Allah akan mengampuni dosamu, baik nan lalu maupun nan akan datang, nan lama dan nan baru, nan tak disengaja maupun nan disengaja, nan kecil maupun nan besar, nan tersembunyi maupun terang-terangan. Sepuluh perbuatan itu ialah : engkau melaksanakan shalat empat rakaat dengan membaca al Fatihah dan surat pada setiap rakaat. Apabila engkau telah selesai membaca itu pada rakaat pertama dan engkau masih dalam keadaan berdiri, bacalah :

subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar’ sebanyak 15 kali lalu engkau ruku’ dan membaca lagi (kalimat nan sama) dalam keadaan ruku’ sebanyak 10 kali kemudian bangun dari ruku dan membaca lagi sebanyak 10 kali kemudian turun buat sujud dan membaca lagi sebanyak 10 kali sementara kamu dalam keadaan sujud kemudian angkat kepalamu dari sujud dan membaca lagi 10 kali kemudian kamu sujud dan membaca lagi 10 kali kemudian angkat kepalamu (sebelum berdiri) dan membaca lagi 10 kali, sehingga seluruhnya berjumlah 75 kali setiap rakaat dan engkau lakukan seperti itu dalam empat rakaat. Jika engaku sanggup melaksanakannya setiap hari sekali maka lakukanlah. Jika engkau tak sanggup maka lakukanlah sekali pada setiap hari jum’at, jika engkau tak sanggup maka lakukanlah sekali setiap bulan, jika engkau tak sanggup maka pada sekali sesetiap tahun, jika engkau tak sanggup maka sekali selama umurmu.”

Mereka mengatakan bahwa hadits ini berasal dari riwayat ini, walaupun berasal dari Musa bin Abdul Aziz akan tetapi Ibnu Ma’in telah mentsiqohkannya. An Nasai mengatakan bahwa hadits ini tak ada masalah. Az Zarkasyi mengatakan bahwa hadits ini shahih dan tak lemah. Ibnu Shalah mengatakan bahwa hadits ini hasan, hal nan sama juga dikatakan an Nawawi didalam “Thadzib al Asma wa al Lughat” dan al Mundziriy mengatakan bahwa para perawinya tsiqoh (dapat dipercaya). Telah diriwayatkan dari hadits al Abbas dan dari hadits Rafi’ dan Anas bin Malik.

Sebagian ulama Hambali berpendapat bahwa shalat tasbih tidaklah mengapa atau boleh. Mereka mengatakan bahwa walaupun hadits itu tak kukuh akan tetapi ia termasuk didalam keutamaan amal nan dalam hal ini cukup dengan menggunakan hadits lemah. Untuk itu Ibnu Qudamah mengatakan,”Jika seorang manusia melaksanakannya maka tidaklah mengapa sebab sesungguhnya amal-amal nawafil (sunnah) dan fadhail (keutamaan) tidaklah disyaratkan dengan shahihnya hadits tentangnya.”

Sedangkan pendapat ketiga mengatakan bahwa shalat tasbih tidaklah disyariatkan. An Nawawi mengatakan didalam al Majmu’ bahwa terdapat catatan terhadap disunnahkannya shalat ini sebab haditsnya nan lemah dan didalamnya terdapat perubahan tentang anggaran shalat nan telah dikenal maka seyogyanya tak mengamalkan sesuatu tanpa sebuah hadits dan hadits tentangnya tidaklah kukuh.

Ibnu Qudamah menukil sesungguhnya Ahmad tidaklah meneguhkan hadits nan berbicara tentangnya (shalat tasbih) dan beliau tak melihat shalat itu disunnahkan.” Ibnu Qudamah mengatakan bahwa Ahmad berkata,”Hal itu mengagetkanku.” Lalu dia ditanya,”Mengapa?” Beliau menjawab,”Tidak sesuatupun nan shahih didalamnya,” sambil dia mengibaskan tangannya seperti penolakan.

Ibnul Jauziy menyatakan bahwa hadits tentang itu termasuk kedalam hadits maudhu’ (palsu). Ibnu Hajar didalam “at Talkhish” mengatakan bahwa jalan-jalan hadits itu seluruhnya lemah. Walaupun hadits Ibnu Abbas mendekati persyaratan hasan namun ia syadz (ganjil) dikarenakan sangat individual, tak adanya orang nan menyaksikan dan memantaunya dari sisi nan dapat diperhitungkan kemudian cara shalatnya pun berbeda dengan shalat-shalat lainnya” dia mengatakan bahwa Ibnu Taimiyah dan al Maziniy telah melemahkan hadits ini sedangkan adz Dzahabi tak mengomentarinya, demikianlah Ibnu Abdil Hadi menceritakannya didalam “Ahkam”nya

Tidaklah kami dapatkan penyebutan shalat ini didalam kitab-kitab Hanafiyah dan Malikiyah kecuali apa nan dinukil didalam kitab “at Talkhish al Khobir” dari Ibnul Arabiy nan mengatakan,”Tidaklah terdapat hadits shahih dan tak juga hasan nan bebicara tetang pemasalahan ini.” (al Mausu’ah al Fiqhiyah juz II hal 9645 – 9646)

Wallahu A’lam

Ustadz menjawab

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy