Bila Alkohol Haram Buat Makanan, Bagaimana Dalam Parfum?

Bila Alkohol Haram Buat Makanan, Bagaimana Dalam Parfum?

Assalamualaikum warahmatullah wabarokatuh,,

Pak Ustadz yg di rahmati Allah. Saya mau bertanya tentang alkohol.

1. Apakah semua makanan atau minuman nan mengandung alkohol itu Haram?

2. Apakah makanan atau kue/roti yg disemprot langsung dengan alkohol  (dg tujuan mensterilkan makanan itu) itu haram?

3. Bagaimana dengan minyak wangi nan mengandung alkohol?

mengingat ini sangat krusial bagi saya,mohon klarifikasi dari pak ustadz

Jazakumullah khoiron katsiron

Wa Alaikumussalam Wr Wb.

Ibnu Rusyd setelah menceritakan disparitas pendapat dikalangan para ulama Hijaz dan Iraq tentang apakah nan diharamkan pada khomr itu zatnya atau sebab ia memabukkan menyebutkan :

1. Secara ijma’ dan atas dasar keadaan syara’ sudah ada ketetapan bahwa nan dimaksud khomr ialah pada jenisnya bukan pada kadar (banyak atau sedikitnya). Maka segala sesuatu nan di dalamnya terdapat hal-hal nan menutupi akal dinamakan khomr.

2. Para ulama bersepakat bahwa memeras anggur ialah halal selama belum menjadi keras sehingga mengandung khomr sebagaimana sabda Rasulullah saw : “Maka peraslah anggur, dan segala nan memabukkan itu haram.” Begitu juga hadits bahwa Nabi saw memeras anggur menuangkannya pada hari kedua dan ketiga. (Bidayatul Mujtahid juz 1 hal 347)

Sayyid Sabiq di dalam ‘Fiqhus Sunah” mengatakan, “Segala sesuatu nan memabukkan ialah termasuk khomr dan tak menjadi soal tentang apa asalnya. Oleh sebab itu, jenis minuman apa pun sejauh memabukkan ialah khomr menurut pengertian syari’at dan hukum-hukum nan berlaku terhadap khomr ialah juga berlaku atas minuman-minuman tersebut, baik ia terbuat dari anggur, madu, gandum dan biji-bijan lain maupun dari jenis-jenis lain.”

Zat nan bisa digolongkan kedalam alkohol banyak digunakan buat obat-obatan, makanan, parfum ataupun benda-benda nan ada disekitar kita namun dari jenis alkohol nan termasuk dalam kategori berbahaya dan memabukkan ialah ethanol.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa khomr tidaklah identik dengan alkohol dan sebaliknya tak setiap alkohol ialah khomr. Jadi khomr ialah segala sesuatu nan mengandung ethanol atau zat lain nan memabukkan dari apapun ia dibuatnya.

1. Dengan demikian setiap makanan atau minuman nan mengandung ethanol disebut khomr dan haram buat dikonsumsi. Pengharaman tak dilihat dari aspek memabukkan atau tak namun pada zatnya itu sendiri. Karena jika berpatokan dengan alasan memabukkan maka akan ada nan berpendapat selama khomr itu tak memabukkan seseorang maka diperbolehkan padahal ini tak betul. Namun jika seseorang berpatokan pada zat khomrnya; berapapun banyaknya kandungan zat (yang memabukkan) itu dalam suatu makanan / minuman maka ia haram dikonsumsi.

2. Adapun terhadap alkohol nan digunakan buat bahan pensteril makanan atau roti maka selama ia bukan dari bahan ethanol nan berbahaya dan memabukkan maka halal digunakan.

Diantara dalil-dalilnya ialah :
Firman Allah swt :”Hai orang-orang nan beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, ialah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS. Al Maidah : 90 – 91)

Hadits Abi Aun as Saqofiy dari Abdullah bin Saddad dari Ibnu Abbas dari Nabi saw bersabda, ”Khomr itu diharamkan sebab bendanya.” (HR. Baihaqi)

Sabda Rasulullah saw : “Setiap nan memabukkan ialah khomr dan setiap khomr ialah haram.” (HR. Muslim).

Ijma’ dan atas dasar keadaan syara’ sudah ada ketetapan bahwa nan dimaksud khomr ialah pada jenisnya bukan pada kadar (banyak atau sedikitnya). Maka segala sesuatu nan didalamnya terdapat hal-hal nan menutupi akal dinamakan khomr. (Bidayatul Mujtahid juz 1 hal 347)

3. Sedangkan hukum penggunaan alkohol dalam parfum atau minyak wangi terjadi disparitas pendapat nan disebabkan apakah ia termasuk najis atau suci?!

Ulama nan empat mengatakan bahwa khomr itu najis sebagaimana firman Allah swt : ““adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu.” (QS. Al Maidah : 90)

Sementara para ulama nan lain, seperti; Imam Robi’ah, al Laits bin Sa’ad dan al Mazini mengatakan bahwa khomr itu suci. Mereka berdalil dengan apa nan terjadi ketika ayat pengharamannya itu diturunkan maka khomr-khomr itu ditumpahkannya di jalan-jalan Madinah.

Seandainya khomr itu najis maka sahabat tak akan melakukan hal itu dan Rasulullah saw pun niscaya akan melarang mereka sebagaimana beliau saw melarang sahabat buang hajat di jalan-jalan. Ini menjadi dalil sucinya khomr.

Mereka menjawab jumhur dengan mengatakan bahwa najis nan dimaksud dalam ayat ialah najis hukmiyah seperti najisnya orang-orang musyrik (QS. 9 : 28), dan tak diragukan lagi bahwa setiap nan diharamkan ialah najis hukmiyah… Khomr bukanlah najis bendanya akan tetapi hukumnya.

Jumhur kemudian menjawab,”Sesungguhnya firman Allah swt,’rijs’ menunjukan bahwa makna rijs dari sisi bahasa ialah najis. Kemudian seandainya kita berpegang teguh buat tak menghukum dengan suatu hukum kecuali jika kita dapatkan satu dalil nan manshush (ada nashnya) maka syariah ini akan terhambat, sebab nash dalam hal ini tidaklah banyak namun sebagaimana klarifikasi kami diawal bahwa rijs itu ialah najis hissiyah (fisik) dan maknawiyah sebagaimana disebutkan terhadap orang-orang musyrik…

Mereka menjawab jumhur dengan mengatakan bahwa asal segala sesuatu ialah boleh dan kudus selama tak ada dalil nan menentangnya serta tak ada dalil nan menajiskannya.

Intinya menurut jumhur ulama bahwa khomr ialah najis maka alkohol pun menjadi najis. Sedangkan menurut selain jumhur khomr ialah kudus dengan demikian khomr pun suci.

Diantara ulama belakangan nan mengatakan akan kesucian khomr ialah asy Syaukani, ash Shon’ani, Shiddiq Hasan Khan dan Syeikh Muhammad Rasyid Ridho nan berpendapat bahwa alkohol dan khomr tidaklah najis, demikian pula parfum nan dicampurkan dengannya sebab tak ada dalil shohih nan menjadikannya najis. Dan juga rijs didalam khomr ialah rijs hukmi nan berarti haram.

Syeikh Muhammad Rasyid Ridho didalam tafsirnya mengatakan bahwa terjadi disparitas pendapat dalam najisnya khomr dikalangan ulama kaum muslimin. Sesungguhnya Abi Hanifah menganggap minuman dari anggur nan didalamnya terdapat alkohol secara niscaya ialah suci. Dan bahwasanya alkohol bukanlah khomr. Parfum-parfum orang Eropa bukanlah alkohol tetapi ia ialah parfum nan didalamnya terdapat alkohol sebagaimana ia juga terdapat pada bahan-bahan kudus lainnya menurut ijma serta tak ada peluang buat dapat dikatakan najis bahkan dikalangan orang-orang nan mengatakan khomr itu najis.

Sealama permasalahan masih menjadi perselisihan barangkali terdapat kemudahan setelah penyebarluasan penggunaannya didalam kedokteran, penyucian, berbagai operasi, parfum dan lain-lain maka kesamaan kepada pendapat kesuciannya walaupun dibuat dari bahan-bahan beracun dan berbahaya. Walaupun digunakannya masih sporadis seperti khomr maka sesungguhnya penajisannya tidaklah menjadi kesepakatan khususnya apabila ia terbuat dari selain juice anggur. Dan sekarang ia dihasilkan dari bahan-bahan nan bermacam-macam. Maka siapa nan terkena parfum baik badannya, pakaiannya atau nan lainnya maka tidaklah ia wajib mandi dan sholatnya pun sah.
(Fatawa Al Azhar, bab Parfum, juz 8 hal. 413)

Wallahu A’lam

-Ustadz Sigit Pranowo, Lc-

Ustadz menjawab

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy