Bila Restu Lama di Dapat

Bila Restu Lama di Dapat

Apakah nan harus dilakukan bila kita sebagai anak sangat menginginkan buat menikah tapi restu orang tua susah didapat, terutama dari ibu. Dengan alasan nan mengada-ada, misalnya : sebab calon menantu belum punya rumah. Setelah pasangan aku beli rumah. Alasanny lain lagi, yakni harus kerja dan punya rumah di jawa. Mengingat pasangan aku orang Kalimantan dan aku orang jawa. Hal itu membuat aku dan pasangan aku tak dapat memenihinya. Karena buat mencari kerjaan di jawa saja tak mudah. Akhirnya kamipun belum mndapatkan restu dari orang tua saya.

Apakah syah bila kami melakukan nikah siri?? Mengingat aku dan pasangan sudah sama-sama ingin sekali menikah, takut terjadi dosa bila lama-lama pacaran dan sehubungan kami pacaran jeda jauh. Sebelumnya terima kasih atas sarannya

Wa’alaikum salam wr. wb.
Ananda nan dirahmati Allah SWT, aku turut prihatin sebab orang tua Anda menunda-nunda memberikan restu pernikahan Anda dengan berbagai alasan nan tak prinsip. Padahal semestinya orang tua segera memberikan restu jika anaknya ingin menikah selama tak melanggar hal-hal nan prinsip dalam agama, seperti menikah dengan orang nan beda agama, akhlaqnya buruk, atau mandul dan memiliki penyakiit kronis.
Lalu bagaimana cara Anda agar restu orang tua segera turun? Menurut saya, ada beberapa cara nan dapat dilakukan :
1. Bicara secara baik-baik dan sabar dengan orang tua mengapa mereka menunda memberi restu. Beri alasan-alasan nan masuk akal dan menyentuh perasaan orang tua bahwa alasan nan tak prinsipil hanya akan menambah dosa dan mudaharat bagi Anda dan pasangan Anda.
2. Jika cara pertama tak berhasil, minta donasi kepada orang-orang nan disegani ortu. Orang tersebut misalnya, guru ngajinya, orang tuanya, kakaknya atau temannya nan usianya lebih tua darinya. Minta tolong kepada orang-orang nan disegani ortu (kalau dapat lebih dari satu orang) buat menyampaikan kepada ortu bahwa Anda dan pasangan Anda ingin segera menikah dengan berbagai alasan nan kuat dan argumentatif.
3. Jika cara kedua juga tak berhasil, maka bagi lelaki diperbolehkan buat menikahi dirinya sendiri tanpa restu orang tuanya. Namun jika perempuan, maka sebaiknya menunda pernikahan sampai betul-betul mendapatkan restu dari orang tua. Sebab perempuan di dalam Islam tak boleh menikahkan dirinya sendiri. Dapat termasuk durhaka jika seorang anak perempuan menentang orang tuanya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda : “"Siapa saja perempuan nan nikah tanpa seizin walinya, maka nikahnya batil,maka nikahnya batil, maka nikahnya batil…" (Hadits Shahih, dikeluarkan oleh Abu Dawud (no. 2083), Tirmidzi (no. 1102), Ibnu Majah (no. 1879). Masalah restu orang tua dalam pernikahan antara anak lelaki dan perempuan memang berbeda di dalam Islam. Pertimbangannya sebab lelaki ialah qowwam (pemimpin) dalam rumah tangga nan bertanggung jawab terhadap baik buruknya rumah tangga nan dibangunnya kelak. Sebaliknya, perempuan setelah menikah akan dipimpin oleh suaminya. Dapat dikatakan baik dan buruknya ia menjadi tanggung jawab suaminya. Oleh sebab itu, agar perempuan tak salah pilih maka Islam mengharuskan anak perempuan buat meminta pertimbangan orang tuanya (meminta restu orang tuanya). Sebaliknya, jika orang tua memaksa kita buat menikah dengan orang nan jelas-jelas rusak akhlaqnya dan agamanya, bahkan mengajak kita kepada kemusyrikan, maka kita boleh menentang keinginan orang tua tersebut (tidak termasuk durhaka). Allah SWT berfirman : “Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu buat mempersekutukan Aku dengan sesuatu nan tak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa nan telah kamu kerjakan” (QS. 29 : 8).

Saran aku terakhir, sebaiknya hindari nikah sirri (diam-diam) tanpa tercatat di KUA. Sebab hal tersebut lebih banyak merugikan pihak perempuan kalau terjadi apa-apa. Demikian jawaban saya. Semoga urusan Anda dimudahkan oleh Allah SWT.

Salam Berkah!

(Satria Hadi Lubis)
Mentor Kehidupan

Konsultasi

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy