Bolehkah Memakai Cadar?

Bolehkah Memakai Cadar?

Ass. wr. wb.

Ust. Ahmad nan semoga Allah meridhai ustaz. Isteri aku saat ini sudah menggunakan hijab dan sedang mempertimbangkan menggunakan cadar. Alasan isteri aku menggunakan burkak sebab tak ingin menjadi perhatian orang (laki-laki) pada saat keluar rumah.

Pertanyaan saya:

1. Apa hukumnya dan dalilnya menggunakan cadar, boleh/tidak?2. Jika boleh, apakah boleh hanya digunakan pada saat keluar rumah saja/bepergian?3. Apakah penggunaan burkak di Indonesia pada umumnya, bisa menggangu kegiatan dakwah di lingkungan/sosial, mengingat saat ini masyarakat memiliki persepsi negatif akan akhwat bercadar?

Sekian pertanyaan aku ust, jazakallah atas jawabannya.

Wassalaamu’alaikum,

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 1. Hukum Memakai Cadar

Memakai burkak atau niqab menurut para ulama hukumnya berbeda-beda. Ada sebagina kalangan ulama nan justru mewajibkannya bagi wanita muslimah. Ada juga nan hanya menyunnahkannya tanpa mewajibkannya, terutama dalam kondisi banyak fitnah.

a. Pendapat nan Mewajibkan

Mereka nan mewajibkan berangkat dari pendapat bahwa paras itu bagian dari aurat wanita nan wajib ditutup dan haram dilihat oleh lain jenis non mahram. Dalil-dalil nan mereka kemukakan antara lain:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu`min, "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka`. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah buat dikenal, sebab itu mereka tak di ganggu. Dan Allah ialah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Al-Ahzab: 59)

Ayat ini ialah ayat nan paling primer dan paling sering dikemukakan oleh pendukung wajibnya niqab. Mereka mengutip pendapat para mufassirin terhadap ayat ini bahwa Allah mewajibkan para wanita buat menjulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka termasuk kepala, muka dan semuanya, kecuali satu mata buat melihat. Riwayat ini dikutip dari pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Mas`ud, Ubaidah As-Salmani dan lainnya, meskipun tak ada kesepakatan di antara mereka tentang makna `jilbab` dan makna `menjulurkan`.

Namun bila diteliti lebih jauh, ada ketidak-konsistenan nukilan pendapat dari Ibnu Abbas tentang wajibnya niqab. Karena dalam tafsir di surat An-Nuur nan berbunyi (kecuali nan zahir darinya), Ibnu Abbas justru berpendapat sebaliknya.

Para ulama nan tak mewajibkan niqab mengatakan bahwa ayat ini sama sekali tak bicara tentang wajibnya menutup muka bagi wanita, baik secara bahasa maupun secara `urf (kebiasaan). Karena nan diperintahkan jsutru menjulurkan kain ke dadanya, bukan ke mukanya. Dan tak ditemukan ayat lainnya nan memerintahkan buat menutup wajah.

Dalil lainnya nan juga sering dikemukakan adalah:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah kepada wanita nan beriman: `Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali nan nampak dari padanya.` (QS. An-Nur: 31).

Menurut mereka dengan mengutip riwayat pendapat dari Ibnu Mas`ud bahwa nan dimaksud perhiasan nan tak boleh ditampakkan ialah wajah, sebab paras ialah pusat dari kecantikan. Sedangkan nan dimaksud dengan `yang biasa nampak` bukanlah wajah, melainkan selendang dan baju.

Namun riwayat ini berbeda dengan riwayat nan shahi dari para shahabat termasuk riwayt Ibnu Mas`ud sendiri, Aisyah, Ibnu Umar, Anas dan lainnya dari kalangan tabi`in bahwa nan dimaksud dengan `yang biasa nampak darinya` bukanlah wajah, tetapi al-kuhl (celak mata) dan cincin. Riwayat ini menurut Ibnu Hazm ialah riwayat nan paling shahih.

Dalil lainnya lagi adalah:

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا

Apabila kamu meminta sesuatu kepada mereka, maka mintalah dari belakang tabir. Cara nan demikian itu lebih kudus bagi hatimu dan hati mereka. Dan tak boleh kamu menyakiti Rasulullah dan tak mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu ialah amat besar di sisi Allah.`(QS. Al-Ahzab: 53)

Para pendukung kewajiban niqab juga menggunakan ayat ini buat menguatkan pendapat bahwa wanita wajib menutup paras mereka dan bahwa paras termasuk bagian dari aurat wanita. Mereka mengatakan bahwa meski khitab ayat ini kepada isteri Nabi, namun kewajibannya juga terkena kepada semua wanita mukminah, sebab para isteri Nabi itu ialah teladan dan contoh nan harus diikuti.

Selain itu bahwa mengenakan niqab itu alasannya ialah buat menjaga kesucian hati, baik bagi laki-laki nan melihat ataupun untuk para isteri nabi. Sinkron dengan firman Allah dalam ayat ini bahwa cara nan demikian itu lebih kudus bagi hatimu dan hati mereka (isteri nabi).

Namun bila disimak lebih mendalam, ayat ini tak berbicara masalah kesucian hati nan terkait dengan zina mata antara para shahabat Rasulullah SAW dengan para isteri beliau. Kesucian hati ini kaitannya dengan perasaan dan pikiran mereka nan ingin menikahi para isteri nabi nanti setelah beliau wafat.

Dalam ayat itu sendiri dijelaskan agar mereka jangan menyakiti hati nabi dengan mengawini para janda isteri Rasulullah SAW sepeninggalnya. Ini sejalan dengan asbabun nuzul ayat ini nan menceritakan bahwa ada shahabat nan ingin menikahi Aisyah ra. bila kelak Nabi wafat. Ini tentu sangat menyakitkan perasaan nabi.

Adapun makna kesucian hati itu bila dikaitkan dengan zina mata antara shahabat nabi dengan isteri beliau ialah penafsiran nan terlalu jauh dan tak sinkron dengan konteks dan kesucian para shahabat nabi nan agung.

Sedangkan perintah buat meminta dari balik tabir, jelas-jelas merupakan kekhusususan dalam bermuamalah dengan para isteri Nabi. Tidak ada kaitannya dengan `al-Ibratu bi `umumil lafzi laa bi khushushil ayah`. Karena ayat ini memang spesifik membicarakan akhlaq pergaulan dengan isteri nabi. Dan mengqiyaskan antara para isteri nabi dengan seluruh wanita muslimah ialah qiyas nan tak tepat, qiyas ma`al-fariq. Karena para isteri nabi memang memiliki standart akhlaq nan khusus. Ini ditegaskan dalam ayat Al-Quran.

`Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita nan lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang nan ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan nan baik,` (QS. Al-ahzab: 32)

b. Pendapat Kalangan nan Tidak Mewajibkan Cadar

Sedangkan mereka nan tak mewajibkan burkak berpendapat bahwa paras bukan termasuk aurat wanita. Mereka juga menggunakan banyak dalil serta mengutip pendapat dari para imam mazhab nan empat dan juga pendapat salaf dari para shahabat Rasulullah SAW.

- Ijma` Shahabat

Para shahabat Rasulullah SAW sepakat mengatakan bahwa paras dan tapak tangan wanita bukan termasuk aurat. Ini ialah riwayat nan paling kuat tentang masalah batas aurat wanita.

- Pendapat Para Fuqoha Bahwa Paras Bukan Termasuk Aurat Wanita.

Al-Hanafiyah mengatakan tak dibenarkan melihat wanita ajnabi nan merdeka kecuali paras dan tapak tangan. (lihat Kitab Al-Ikhtiyar). Bahkan Imam Abu Hanifah ra. sendiri mengatakan nan termasuk bukan aurat ialah wajah, tapak tangan dan kaki, sebab kami ialah sebuah kedaruratan nan tak dapat dihindarkan.

Al-Malikiyah dalam kitab `Asy-Syarhu As-Shaghir` atau sering disebut kitab Aqrabul Masalik ilaa Mazhabi Maalik, susunan Ad-Dardiri dituliskan bahwa batas aurat waita merdeka dengan laki-laki ajnabi (yang bukan mahram) ialah seluruh badan kecuali muka dan tapak tangan. Keduanya itu bukan termasuk aurat.

Asy-Syafi`iyyah dalam pendapat As-Syairazi dalam kitabnya `al-Muhazzab`, kitab di kalangan mazhab ini mengatakan bahwa wanita merdeka itu seluruh badannya ialah aurat kecuali paras dan tapak tangan.

Dalam mazhab Al-Hanabilah kita dapati Ibnu Qudamah berkata kitab Al-Mughni 1: 1-6,`Mazhab tak berbeda pendapat bahwa seorang wanita boleh membuka paras dan tapak tangannya di dalam shalat

Daud nan mewakili kalangan Zahiri pun sepakat bahwa batas aurat wanita ialah seluruh tubuh kecuai muka dan tapak tangan. Sebagaimana nan disebutkan dalam Nailur Authar. Begitu juga dengan Ibnu Hazm mengecualikan paras dan tapak tangan sebagaiman tertulis dalam kitab Al-Muhalla.

- Pendapat Para Mufassirin

Para mufassirin nan terkenal pun banyak nan mengatakan bahwa batas aurat wanita itu ialah seluruh tubuh kecuali muka dan tapak tangan. Mereka antara lain At-Thabari, Al-Qurthubi, Ar-Razy, Al-Baidhawi dan lainnya. Pendapat ini sekaligus juga mewakili pendapat jumhur ulama.

- Dhai`ifnya Hadits Asma Dikuatkan oleh Hadits Lainnya

Adapun hadits Asma` binti Abu Bakar nan dianggap dhaif, ternyata tak berdiri sendiri, sebab ada qarinah nan menguatkan melalui riwayat Asma` binti Umais nan menguatkan hadits tersebut. Sehingga ulama modern sekelas Nasiruddin Al-Bani sekalipun meng-hasankan hadits tersebut sebagaimana tulisan beliau `hijab wanita muslimah`, `Al-Irwa`, shahih Jamius Shaghir dan `Takhrij Halal dan Haram`.

- Perintah kepada Laki-laki buat Menundukkan Pandangan.

Allah SWt telah memerintahkan kepada laki-laki buat menundukkan pandangan (ghadhdhul bashar). Hal itu sebab para wanita muslimah memang tak diwajibkan buat menutup paras mereka.

`Katakanlah kepada orang laki-laki nan beriman: `Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; nan demikian itu ialah lebih kudus bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa nan mereka perbuat. (QS. An-Nuur: 30)

Dalam hadits Rasulullah SAW kepada Ali ra. disebutkan bahwa,

Janganlah kamu mengikuti pandangan pertama (kepada wanita) dengan pandangan berikutnya. Karena nan pertama itu untukmu dan nan kedua ialah ancaman/ dosa`. (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmizy dan Hakim).

Bila para wanita sudah menutup wajah, untuk apalagi perintah menundukkan pandangan kepada laki-laki. Perintah itu menjadi tak relevan lagi.

2. Burkak dan Lingkungan Sosial

Mengingat bahwa masih merupakan khilaf di kalangan ulama, maka tentu saja kita dihadapkan kepada dua pilihan.

Anggaplah kita memilih pendapat nan mewajibkan, maka tentu saja tak perlu lagi kita pertimbangkan masalah lingkungan sosial. Burkak wajib dikenakan, tanpa harus memperhatikan urusan sosial.

Sebaliknya bila kita cenderung buat menerima pendapat nan tak mewajibkan, maka tentu saja urusan lingukngan sosial perlu kita perhatikan. Maksudnya, bila masyarakat masih belum dapat menerima kehadiran cadar, rasanya tak perlu buat kita paksakan. Toh tak ada kewajibannya, sedangkan keresahan di tengah masyarakat tentu sangat merugikan posisi seorang da’i di lingkungannya.

Orang-orang akan memandang asing masalah burkak ini, bahkan akan muncul rasa antipati nan tak produktif. Walhasil, kelancaran dakwah tentu akan sangat terganggu hanya lantaran urusan burkak nan tak wajib.

Wallahu a’lam bishshawab, Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Umum

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy