Bolehkah Mencintai Lelaki nan Sudah Menikah

Bolehkah Mencintai Lelaki nan Sudah Menikah

Assalamu’alaikum. Wr. Wb.

Ustadz, ada beberapa hal nan ingin aku tanyakan.

Saya punya teman seorang laki-laki nan sudah menikah. Awalnya hanya teman bias. Semakin lama, interaksi kami semaikn dekat. Saya sering menceritakan masalah-masalah aku padanya dan dia pun sering mengatakan masalahnya pada saya. Saya pun sadar bahwa aku mempunyai perasaan kepadanya. Dan ternyata, laki-laki itu juga memiliki perasaan nan sama. Karena merasa diterima, aku dan dia menjalin hubungan.

Saya sadar bahwa aku telah melakukan kesalahan. Tapi, sulit bagi aku buat menjauh darinya. Saya sudah katakan berkali-kali bahwa aku ingin belajar terlebih dahulu dan tak ingin membuat rumah tangganya hancur sebab saya. Tapi, entah kenapa aku tak dapat istiqomah. Interaksi kami terus berlanjut hingga saat ini (tapi saat ini kami hanya berhubungan via telpon dan internet saja, aku berusaha buat tak berjumpa langsung dengan dirinya).

Saya minta kepadanya buat tegas. Dia bilang, dia mau menceraikan istrinya asal aku mau menikah dengannya.

Saya bingung, salahkah aku jika aku mencintai dia ustadz? Dan apa nan harus aku lakukan?
Jika aku menerimanya, apakah kelak aku akan mendapatkan karma? (Karena aku sudah menghancurkan rumah tangga orang)

Bagaimana caranya agar aku dapat istiqomah buat berpisah dengannya ustadz?

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Saudari Via nan dirahmati Allah swt.

Larangan Berhubungan Intim dengan Yang Bukan Mahram

Terlalu seringnya Anda berinteraksi dengan dia tanpa Anda sadari telah membuka peluang bagi setan buat terus memperdaya Anda berdua sehingga mengarah kepada hal-hal nan tak sebatas antar mitra tapi sudah mengarah kepada saling menyukai.

Firman Allah swt,”Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu ialah suatu perbuatan nan keji. dan suatu jalan nan buruk.” (QS. Al Isra : 32)

Allah swt melarang hamba-hamba-Nya dari perzinahan dan apa-apa nan dapat mendekatkan seseorang kepadanya, berinteraksi dengan sebab-sebabnya atau segala macam pendorongnya. (Tafsir Ibnu Katsir juz V hal 72)

Di dalam ayat ini jelas bahwa Allah swt memberikan peringatan kepada hamba-hamba-Nya akan bahaya perzinahan dan hal-hal nan mendekatkan seseorang kepadanya, seperti pergaulan antara laki-laki dan wanita nan bukan mahramnya tanpa batas-batas nan dibenarkan syariah,

Al Qur’an telah memberikan peringatan walaupun hanya sebatas mendekati perzinahan yaitu dengan memaksimalkan penjagaan terhadapnya sebab perzinahan mendorong kepada syahwat nan kuat. Sedangkan penjagaan diri dari mendekatinya ialah agunan keamanan, sementara orang nan mendekati sebab-sebab terjadinya perzinahan tidaklah memiliki jaminan.

Dari sini, Islam mengambil jalan buat menghindari berbagai sebab-sebab pendorongnya dan tak terjatuh kedalamnya. Islam memakruhkan ikhtilath (percampuran dalam berteman antara laki-laki dan wanita nan bukan mahramnya), mengharamkan kholwat (berdua-duaan), melarang tabarruj (berdandan) dengan berbagai perhiasan nan bukan buat suaminya, menganjurkan buat menikah bagi nan telah memiliki kesanggupan, memerintahkan buat berpuasa bagi nan belum memiliki kesanggupan buat menikah, memakruhkan berbagai penghalang nan dapat menghambat pernikahan seperti penentuan jumlah mahar nan berlebih-lebihan, menghilangkan ketakutan akan kekurangan harta dan kemiskinan disebabkan anak-anak, menganjurkan buat membantu orang-orang nan ingin menikah demi memelihara kehormatan dirinya, memberikan sangsi atas suatu tindakan kriminal nan terjadi dan juga tuduhan berzinah terhadap wanita-wanita nan baik lagi lengah tanpa bukti.. hingga berbagai sarana-sarana preventif dan kuratif demi menjaga masyarakat islam dari kerusakan dan kehancuran. (Fii Zhilalil Qur’an juz IV hal 2224)

Paling tidak, di dalam interaksi diantara Anda berdua ada dua hal nan secara syari’ah tak dibenarkan seperti; berkholwat (berdua-duaan) dan memandang kepada orang asing baligh dan berakal sebab dikhawatirkan akan terjadi fitnah.

Demikianlah Islam nan lebih mengedepankan tindakan preventif dari pada kuratif dikarenakan hal itu jauh lebih mudah dihindari daripada ketika masalah itu telah terjadi. Terlebih lagi suatu kemaksiatan (dosa) cenderung akan bertambah besar bobotnya jika terus menerus dilakukan meskipun pada awalnya mungkin biasa-biasa saja atau kecil. Ada ungkapan,”Sesungguhnya sebuah gunung itu ialah kumpulan pasir-pasir.”

Hakekat Cinta

Cinta didalam bahasa arab berarti mahabbah. Cinta memiliki banyak arti sebagaimana disebutkan Ibnu Qoyyim, diantaranya :

  1. Cinta ialah kesamaan peemanen nan dialami oleh kalbu orang nan dimabuk asmara.
  2. Cinta ialah sikap memprioritaskan nan dikasihi melebihi semua teman.
  3. Cinta ialah selalu bersepakat dengan nan dicintai, baik pada saaat ada nan dicintainya atau pada saat dia tak ada.
  4. Cinta ialah menyedikitkan hal-hal nan banyak didalam diri Anda dan memperbanyak hal-hal nan sedikit dalam diri kekasih anda.
  5. Cinta ialah mengeratkan ketundukan dan meninggalkan perbedaan.
  6. Cinta ialah menghilangkan siapa pun dari hati Anda kecuali nan Anda cintai. (Madarijus Salikin juz II hal 11 – 13)

Bagi seorang muslim nan telah ridho bahwa Allah sebagai Tuhannya dan telah mengikrarkannya dengan dua kalimat syahadatnya maka haruslah mengedepankan kecintaan dalam arti diatas kepada Allah swt, Rasul-Nya baru kemudian kepada orang-orang nan mencintai dan dicintai Allah swt dari kalangan orang-orang beriman.

Firman Allah swt,”Dan diantara manusia ada orang-orang nan menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang nan beriman Amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al Baqoroh : 165) Menurut Ibnu Qoyyim, ayat ini mengandung arti :

  1. Adapun orang-orang nan beriman Amat sangat cintanya kepada Allah dari segala tuhan dan sembahan-sembahan nan dicintai mereka orang-orang musyrik nan mereka agungkan melebihi dari Allah swt.
  2. Adapun orang-orang nan beriman Amat sangat cintanya kepada Allah dari kecintaan orang-orang musyrik kepada sembahan-sembahan mereka. Sesungguhnya kecintaan orang beriman itu ialah murni sedangkan kecintaan para penyembah tuhan-tuhan selain Allah mudah lenyap secara berangsur-angsur. (Madarijus Salikin juz II hal 20)

Diantara keharusan didalam mencintai Allah ialah mencinta orang-orang nan dicintai-Nya baik Rasulullah saw dan orang-orang nan beriman. Adapun kecintaan kepada sesama orang beriman tidaklah dilandasai atas dasar hawa nafsu, syahwat, kepentingan duniawai namun harus dibangun diatas kecintaan kepada Allah swt, sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik dari Nabi saw bersabda,”Tiga perkara nan jika ada (dalam diri seseorang) maka ia akan merasakan manisnya iman : 1. Hendaklah ia mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi dari selain keduanya. 2. Hendaklah ia tak mencintai seseorang kecuali sebab Allah. 3. Hendaklah ia membenci buat kembali kepada kekufuran sebagaimana ia membenci buat dilemparkan ke neraka.” (HR. Bukhori)

Tentunya ketika mencintai seseorang sebab Allah swt maka ia akan menjauhi hal-hal nan dilarang-Nya didalam mencintai orang tersebut, baik sebab-sebab cintanya, cara dan wahana dalam mencintainya dan tujuan mencintainya. Sehingga kecintaan nan diberikannya bernilai ibadah oleh Allah swt dan mendapatkan pahala dari-Nya.

Kuatkan Tekad Anda

Bukanlah solusi ketika dia harus menceraikan isterinya dikarenakan mencintai Anda nan berarti isteri dan anak-anaknya menjadi korban dalam permasalahan ini, padahal perceraian ialah perkara halal nan paling dibenci Allah swt, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Perkara halal nan dibenci Allah swt ialah talaq.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Mungkin ada nan berpendapat, mengapa tak mengambil pintu poligami?!! Memang dibenarkan bagi seorang muslim buat memiliki isteri hingga empat orang namun hal ini tidaklah semudah orang membalikkan tangannya dikarenakan adanya beberapa persyaratan nan harus diperhatikan yaitu mampu berlaku adil dalam aspek materil, pergaulan nan baik dan bermalam serta mampu memberikan nafkah secara adil kepada isteri-isterinya.

Nah.. kalau ingin mengambil pintu poligami haruslah betul-betul dihitung secara cermat oleh Anda berdua, betulkah dia dapat berlaku adil?! Sementara saat ini saja dia sudah ada niatan siap menceraikan isterinya jika Anda bersedia menikah dengannya.

Jangan sampai pernikahan nan harusnya dapat memberikan kebahagiaan kepada setiap orang nan ada didalamnya tapi berubah menjadi suatu penderitaan tak hanya di global tapi juga diakherat dikarenakan tak mampunya dia berlaku adil diantara isteri-isterinya, sebagaimana sabda Rasulullah saw, ”Barangsiapa nan memiliki dua orang isteri sementara dia lebih cenderung kepada salah satu dari keduanya (tidak adil) maka dia akan datang pada hari kiamat dengan separuh badan nan miring.” (HR. Abu DAud)

Kesadaran Anda bahwa apa nan Anda lakukan ini ialah keliru—semoga Allah merahmati anda—merupakan suatu hal nan perlu segera difollow-up kedalam langkah-langkah nan kongkrit, sebab tak sporadis orang mengetahui suatu kebenaran namun tak kuasa buat mengikutinya seperti halnya banyak orang nan mengetahui keburukan namun juga tak kuasai buat menghindarinya.

Anda harus terus membina interaksi dengan Allah swt dengan memperbanyak doa dan amal sholeh sebab Dial ah nan menggenggam hati seseorang dan membolak-balikkannya sinkron dengan kehendak-Nya. Mudah-mudahan doa-doa nan Anda panjatkan terutama di penghujung malam serta amal-amal sholeh nan Anda lakukan diterima Allah swt dan menjadi wahana buat mendapat keteguhan dan keistiqomahan hati buat tetap berada diatas kebenaran.

Firman Allah swt, ”Barangsiapa nan menghendaki kemuliaan, Maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan nan baik dan amal nan saleh dinaikkan-Nya. dan orang-orang nan merencanakan kejahatan bagi mereka azab nan keras. dan planning dursila mereka akan hancur.” (QS. Fathir : 10)

Selain itu Anda juga harus berusaha buat menjarangkan intensitas rendezvous dan interaksi dengannya secara perlahan-lahan hingga betul-betul Anda dapat melupakan dirinya, memang hal ini tak mudah Anda lakukan, namun tak ada sesuatu nan tak mungkin di alam ini kecuali kata tak mungkin itu sendiri sebab semua dapat terjadi dengan kehendak Allah swt. Ada satu pepatah arab nan mengatakan,”Siapa nan berusaha dengan keras maka dia akan sukses.”

Hal lain nan dapat membantu Anda buat merealisasikan keinginan itu ialah dengan mengisi waktu-waktu kosong Anda dengan berbagai aktivitas nan bermanafaat. Karena sering kali waktu luang melalaikan seseorang dari dzikrullah, menjadikannya berbuat hal-hal nan tak bermanfaat atau mungkin akan membawa fikiran Anda buat kembali berfikir tentangnya, sabda Rasulullah saw,”Dua nikmat nan menipu dan banyak manusia terjatuh didalamnya, yaitu ; kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhori)

Wallahu A’lam

Ustadz menjawab

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy