Bolehkah Nikah Sirri

Bolehkah Nikah Sirri

Saya pria menikah berumur 30 tahun, telah menikah lagi dengan seorang gadis tapi dengan cara sirri, hal tersebut kami lakukan sebab selalu terbayang dosa setiap kami telah melakukan zina. Tapi dalam menikah sirri tersebut kami tak diketahui oleh kedua keluarga, sebab kami tahu niscaya semua keluarga tak akan setuju.

Sekarang hal tersebut sudah diketahui oleh seluruh keluarga kami, termasuk istri saya, saat ini pihak keluarga gadis tersebut tak mengakui pernikahan sirri, sebab dianggap tak absah dan merupakan aib masyarakat, mereka tak sudi putrinya menjadi isteri kedua. Sekarang kami tak boleh berjumpa maupun berkomunikasi. Pertanyaan aku adalah

  1. Apakah pernikahan sirih nan kami lakukan absah di hadapan Allah SWT?
  2. Jika aku memaksa buat menjemput gadis nan aku nikahi tersebut, apakah aku benar-benar berhak sebagai seorang suami?

Mohon jawabannya Pak Ustadz.

Wassalam

Waalaikumussalam Wr Wb

Apabila pernikahan nan Anda lakukan dengan perempuan itu tak dihadiri dan mendapatkan izin dari wali pihak perempuan maka pernikahan tersebut dianggap tak sah. Hal itu dikarenakan seorang wanita tidaklah dapat menikahi dirinya sendiri atau diwalikan orang lain selama walinya masih ada kecuali jika walinya sudah tak ada atau berhalangan maka perwaliannya berpindah kepada wali nan lainnya atau kepada hakim (petugas negara) sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Tidak absah nikah tanpa wali.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi)

Juga hadits nan diriwayatkan dari Aisyah bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Siapa pun wanita nan menikah tanpa seizin walinya maka nikahnya batal, nikahnya batal, nikahnya batal.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah)

Sedangkan urutan wali didalam pernikahan—sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qudamah—adalah ayah kandungnya kemudian ayah dari ayahnya kemudian anak laki-laki wanita itu kemudian anak laki-laki dari anak laki-lakinya—apabila wanita itu memiliki anak—kemudian saudara laki-laki kandung wanita itu kemudian saudara laki-laki wanita itu nan sebapak kemudian anak-anak laki-laki dari saudara laki-laki wanita itu kemudian paman-paman wanita itu dari jalur bapaknya kemudian anak-anak laki-laki dari paman-paman wanita itu dari jalur bapak kemudian penguasa. (Al Mughni juz IX hal 129 – 134)

Adapun dalil tentang dibolehkannya penguasa (hakim) menjadi wali ketika wali pihak perempuan sudah tak ada atau berhalangan ialah apa nan diriwayatkan dari jalur Aisyah bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Tidak ada pernikahan kecuali dengan seorang wali, dua orang saksi nan adil. Suatu pernikahan nan selain itu (tidak adanya mereka) maka nikahnya batil. Apabila terjadi perselisihan diantara mereka maka penguasa ialah wali bagi orang nan tak memiliki wali.” (HR. Ibnu Hibban)

Dengan demikian dikarenakan batalnya pernikahan nan Anda lakukan maka Anda dan pasangan Anda haruslah dipisahkan dari pernikahan nan batal itu. Adapun cara pemisahan antara Anda berdua ialah dengan cara Anda sebagai suami diharuskan menjatuhkan talak (cerai) terhadapnya jika Anda rela buat melakukannya sendiri namun apabila Anda tak ingin melakukannya maka pemisahan dilakukan oleh hakim dengan cara pasangan Anda meminta kepada walinya agar mengadukan permasalahannya ke KUA buat kemudian hakimlah nan melakukan pemisahan diantara Anda berdua.

Sebagaimana nan ditegaskan oleh Ibnu Qudamah bahwa apabila seorang wanita dinikahkan dengan pernikahan nan rusak (batal) maka tidaklah boleh dirinya denikahkan dengan selain orang nan telah menikahinya sehingga orang nan menikahinya itu menceraikannya atau dipisahkan pernikahannya. Apabila suaminya itu tak mau menceraikannya maka hakimlah nan harus memisahkan pernikahannya, dan nash ini dari Ahmad. (al Mughni juz IX hal 125)

Dan jika setelah Anda menceraikan pasangan Anda itu atau telah dipisahkan oleh hakim lalu Anda ingin menikahinya kembali maka hendaklah si wanita meminta izin kepada walinya buat menikahkannya dengan anda. Namun sebagian pakar ilmu juga mensyaratkan bersihnya kandungan wanita itu dari janin setelah berlalu satu kali haidh apabila suaminya ingin memperbaharui kembali akad dalam pernikahan nan batil itu.
Kemudian hendaklah Anda berdua senantiasa beristighfar dan bertaubat kepada Allah swt atas kelalaian ini terlebih lagi apabila Anda berdua sebelum melakukan “pernikahan” itu telah melakukan perbuatan zina. (baca: ).

Firman Allah swt :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

”Hai orang-orang nan beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat nan semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah nan mengalir di bawahnya sungai-sungai." (QS. At Tahrim : 8)

Juga firman Allah swt :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Artinya : “Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku nan malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus harapan dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah nan Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar : 53)

Setelah itu hendaklah Anda meminta maaf kepada istri serta kedua orang tua pasangan Anda sebab kekeliruan dan kesalahan nan Anda lakukan dan janganlah Anda mengambil pasangan Anda itu dengan cara memaksa seperti nan Anda inginkan sebab hal itu akan merugikan diri Anda sendiri.

Dengan begitu interaksi silaturahim diantara Anda dengan mereka tak terputus sebab silaturahim nan terjalin akan mendatangkan curahan rahmat dan afeksi Allah kepada mereka-mereka nan menghubungakannya.

Wallahu A’lam

Ustadz menjawab

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy