Bosan

Bosan

“Bosan Mi, rasanya saya ingin wafat kebosanan disini, sebab tak ada apa-apa, sementara semua kawan-kawanku main bola atau baca buku cerita, namun semua buku nan saya bawa sudah selesai saya baca, bahkan saya bacanya dua kali.. saya ingin pindah saja yaa Mi dari sekolah asrama ini..!” Demikian Ryan mengeluh kepada ibunya melalui sms. Di asrama Ryan, memang anak-anak tak diperbolehkan menggunakan atau membawa handphone, namun bila orang tua meminta ijin, biasanya diperbolehkan asalkan handphone disimpan di ruangan administrasi guru nan bersebelahan dengan ruang kepala sekolah, dan hanya boleh dipergunakan pada waktu-waktu tertentu.

“Umi tahu tidak, di loka ini anak-anak bilang bahwa sekolah di asrama ialah sekolah nan membosankan, semua anak ingin segera pulang dan berjumpa dengan orangtuanya, kenapa sih mi..?” keluh Ryan dalam sms berikutnya.

Umi menerima sms dengan pikiran nan tak karuan antara harus menasehati atau meneguhkan hati Ryan, juga kasihan sebab bisa membayangkan perasaan Ryan. Umi juga memahami bahwa tinggal di asrama sungguh tak enak bagi anak-anak remaja seusia Ryan nan masih manja dan masih ingin dekat dengan sang ibu. Namun Umi melihat bahwa sekolah berasrama itu mendatangkan banyak kabaikan bagi Ryan juga. Dia sekarang lebih berdikari dan lebih pandai mengatasi masalah dalam kehidupan, selain itu wawasannya juga menjadi lebih luas, empatinya juga tinggi terhadap orang lain, getol menolong dan juga ibadahnya lebih rajin.

Akhirnya waktu libur bagi Ryan tiba, dan Umi berencana mengajak Ryan berlibur ke dufan, ancol. Ryan niscaya suka, dengan gembira Umi mengajak seluruh anggota keluarga ke dufan.

Wajah lelah Ryan terpancar jelas, dan selama di dufan (area permainan di ancol) Ryan mangantri di loket. Wajahnya nampak lesu, sementara adik-adiknya melompat-lompat dengan gembira, namun Ryan nampak tidak begitu menikmati, dan sekali lagi, Ryan mengeluhkan bahwa dia bosan. Ryan bosan dengan permainan nan ada, Ryan bosan mengantri dan Ryan bosan menunggu adik bermain nan terlalu lama. Ryan juga bingung mau bicara apa pada Umi, dan nampaknya semua sudah Ryan ceritakan. Ryan juga bosan bercerita apa-apa lagi pada uminya (red: ibu). Ryan merasa ingin segera pergi dari dufan, namun Ryan pun tidak tahu hendak pergi kemana.

Akhirnya seminggu sudah masa liburan Ryan dilalui dengan rasa bosan nan berketerusan. Ryan pun sudah mencoba kemana-mana buat menutup kebosanannya namun tetap saja rasa bosan itu tidak juga hilang. Ryan pun mengeluh lagi pada Uminya, bahwa liburan tanpa mengerjakan apapun juga membosankan. Rasanya ingin segera kembali ke asrama.

Ryan, sebagaimana remaja pada umumnya nan sangat energik, akan merasa sangat bosan bila energitasnya tak tersalurkan dengan baik. Memang sebaiknya Ryan dibekali dengan sebuah aktivitas nan sifatnya merangsang dirinya buat selalu semangat seperti berolahraga nan disukai dan dilibatkan dalam lomba-lomba, mudah-mudahan dengan memiliki rutinitas aktivitas nan menyenangkan serta ada semangat berkompetisi, akan membuat Ryan tak mudah mengucapkan bosan dan merasakan bosan. Selain itu juga Ryan diajak buat bersyukur. Syukurilah apa nan ada dalam dirinya, nasib baik baginya, dapat sekolah di loka nan berasrama dengan guru nan baik, orang tua lengkap, dapat mengajak ke dufan dan dalam lingkungan nan menyenangkan. Seperti firman Allah dalam Al Quran,

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS: Ibrahim [14] : 7)

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy