Bukan Menantang Ujian

Bukan Menantang Ujian

Malam semakin larut, sang istri dan putri tunggalnya sudah lama terlelap, tapi Ahmad ( bukan nama sebenarnya ) sama sekali belum dapat memejamkan matanya. Perdebatan si hitam dan si putih telah membuat kedua matanya sulit terpejam.

“ Kalau saya jadi kamu, saya akan ambil uang itu. Itu hakmu!” kembali si hitam mencoba mempengaruhi si putih

“ Tidak! Uang itu bukan hakku, tidak mungkin saya mengambil hasil usaha riba untukku dan keluargaku!” jawab si putih tegas, sama seperti jawabnya beberapa hari nan lalu.

“ Riba? Ha…ha…ha..!” si hitam tertawa mengejek. “ Sekarang kau katakan riba, kemana saja kau selama ini? Bukankah kau pernah terlibat dalam usaha itu, bahkan sampai sekarangpun kau masih harus membayar kembang juga hutang-hutangmu?” si hitam tersenyum sinis.

“ Astaghfirulloh! Benar, saya pernah terlibat dalam usaha itu, bahkan sekarangpun saya masih harus membayar hutang beserta bunga-bunganya. Itu khilafku, dan itu kulakukan sebab terpaksa. Meski belum dapat sepenuhnya kutinggalkan, namun saya harus mulai meninggalkannya satu per satu dari sekarang !” si putih memberikan alasan

“ Yakin, kamu bisa? Bukankah selama ini kau tidak pernah dapat lepas dari lilitan hutang ?” tanya si hitam semakin sinis

“ Insya Allah!” jawab si putih mantap. “ Kalaupun saya harus ( kembali ) berhutang, saya akan mencari pinjaman nan halal “, lanjutnya.

“ Kau memang egois! Kau hanya memikirkan dirimu sendiri. Coba kau lihat istri dan anakmu, bukankah saat ini kau sedang membutuhkan banyak biaya buat berobat istrimu? Dan satu lagi, bukankah kau punya banyak janji kepada anakmu nan belum kau tepati? Sudahlah, ambil saja uang itu dan kau dapat membiayai pengobatan istrimu sekaligus menepati janji-janjimu pada putri kesayanganmu. Perhatikan wajah-wajah polos mereka saat tertidur, tegakah kau korbankan mereka hanya demi prinsipmu “ si hitam coba mempengaruhi si putih. Ia tahu persis bahwa istri dan anak ialah senjata nan ampuh buat melemahkan si putih. Tapi lagi-lagi ia harus menelan pil pahit, sebab ternyata si putih tetap pada pendiriannya.

“ Aku tak mementingkan egoku, justru semua ini kulakukan demi mereka, masa depan mereka. Aku sadar bahwa buat kesembuhan istriku, saya membutuhkan banyak biaya. Dan sampai saat ini saya juga belum dapat menepati janjiku pada putri tercintaku. Tapi bukan berarti saya harus menghalalkan segala cara. Aku akan meminta donasi saudara dan sahabatku buat biaya pengobatan istriku. Dan soal janjiku, anakku tidak keberatan jika harus ditunda lagi. Jangan coba-coba mempengaruhiku!” jawab si putih tegas

“ Meminta donasi saudara? Sahabat? Jelas kan kalau kau masih mengandalkan orang lain?”

“ Aku pasrahkan segala urusanku pada Allah, termasuk memohon donasi Nya. Dan melalui orang-orang itulah Allah memberikan donasi padaku. Dengan pertolongan Allah, saya konfiden bisa melewati ujian ini dengan baik seperti nan datang sebelumnya”

“ Oh…kau terlalu sombong. Kau menantang ujian tuhan?”

“ Astaghfirulloh! Aku tak menantang ujian. Bagaimanapun saya hanyalah seorangg hamba nan tiada daya dan tiada upaya. Tanpa pertolongan Allah tidak mungkin saya mampu melewati ujian demi ujian. Aku bukan menantang datangnya ujian berikutnya. Aku hanya berusaha ikhlas dengan setiap ujian nan datang. Aku hanya berusaha tetap sabar dan sadar bahwa ujian apapun nan diberikan, sesungguhnya atas izin dan kehendak Allah. Juga Allah telah mengukurnya untukku. Sudahlah, tidak usah buang tenaga dan waktu. Aku sudah mantap buat tak mengambil uang itu. Aku akan minta kepada Allah agar menggantikannya dengan rejeki nan halal dan barokah”

Si hitam terdiam putus asa, berkali-kali dia berusaha melemahkan si putih tapi tetap saja si putih teguh pada pendiriannya. Akhirnya si hitampun menyerah, dan perdebatanpun berakhir dengan kemenangan si putih kembali.

**

Ahmad menatap lekat-lekat pada wajah-wajah polos nan kini terlelap di sampingnya. Tenang dan damainya mereka, seakan tiada beban. Diusapnya bulir bening nan menggenang di sudut matanya. Ia mengulang doa tidurnya sekali lagi. Terakhir dia masih melihat jam dinding, semua jarumnya bertumpuk tepat diangka 12. Dan Ahmadpun kemudian terlelap hingga bunyi alarm membangunkannya tepat pukul 02.00. Seperti malam sebelumnya, dia bangun mengambil air wudhu, sholat dan mengadukan semua bebannya pada Allah SWT.

Catatan: si hitam = nafsu, si putih = iman. Dan memang benar, musuh terdekat dan terbesar manusia ialah nafsunya.

abisabila.blogspot.com

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy