Cara Bersuci setelah Terkena Tinta, Tip-ex, atau Cat

Cara Bersuci setelah Terkena Tinta, Tip-ex, atau Cat

Assalamu’aikum warohmatullohiwabarokatuhu

Saya bekerja di kantor perpustakaan daerah. Sering selesai bekerja tangan aku terkena tipe-ex, tinta printer dan cat poster. Sebelum wudlu kadang sulit dibersihkan sampai tuntas. Bagaimana cara bersuci saya?

Air nan aku pakai kadang terciprat air cucian orang lain, apakah air tersebut termasuk musta’mal, bagaimana definisi air musta’mal itu?

Wassalamu’alaikum warohmatullohiwabarokatuhu

Assalamu a’alikum warahmatulahi wabarakatuh,

Masalah tangan Anda nan terkena tip-ex, tinta printer atau cat poster, dapat kami jelaskan dengan mengenal dua prinsip.

Pertama, kita harus pastikan bahwa zat-zat itu bukan najis. Kedua, zat itu tak membentuk lapisan nan menghalangi sampainya air ke kulit kita.

Tip-ex, tinta printer, atau cat poster sudah jelas bukan benda najis, sehingga tak merusak kesujian dan wudhu’ kita dapat masih ada sisanya menempel.

Namun buat masalah nan kedua, yaitu sejauh mana zat-zat tersebut menghalangi sampainya air ke kulit kita, perlu kita kenali lebih jauh.

Intinya jangan sampai semua zat itu menghalangi air dari membasahi kulit nan menjadi anggota wudhu’. Anggota wudhu nan menjadi rukun ialah wajah, kedua tangan hingga siku, sebagian kepala termasuk rambut) serta kedua kaki hingga mata kaki. Sebagaimana firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُواْ بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَينِ

Hai orang-orang nan beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. (QS. Al-Maidah: 6)

Semua bagian di atas harus basah saat kita berwudhu. Selebihnya ialah anggota wudhu nan sifatnya sunnah, sehingga meski tak sampai dibasuh dan basah, tak merusak wudhu’.

Bila ada zat-zat nan menempel dengan membuat lapisan eksklusif pada anggota wudhu’ nan wajib di atas, hingga menghalangi air buat membasahi, maka wudhu’ itu menjadi tak sah. Sehingga seharusnya sebelum berwudhu’ harus dihilangkan terlebih dahulu.

Tip-ex biasanya akan membuat lapisan nan menutupi kulit dan membuat kulit anggota wudhu’ tak basah. Maka bila tangan Anda masih belepotan dengan zat seperti ini, termasuk lem karet dan sejenisnya, harus dikelupas terlebih dahulu. Atau dihilangkan dengan menggunakan cairan tiner.

Sedangkan tinta printer biasanya hanya mengotori tapi tak membentuk lapisan penghambat air. Dan juga bukan benda najis, sehingga tak mengapa bila tangan masih berlumur tinta setelah berwudhu’.

Adapun cat nan dicairkan dengan air umumnya tak membuat lapisan dan langsung hilang bila terkena air wudhu. Berbeda dengan cat minyak nan biasanya membentuk lapisan anti air. Cat ini harus dihilangkan dulu sebab sifatnya menghalangi sampainya air.

Air Musta’mal?

Sebagian ulama memang seringkali menggunakan istilah air musta’mal. Artinya ialah air nan telah digunakan buat bersuci secara ritual. Misalnya sudah digunakan buat berwudhu, mandi janabah atau membersihkan najis. Dan jumlahnya kurang dari 2 qullah atau 270 liter.

Menurut sebagian ulama seperti para ulama mazhab Al-Hanafiyah dan Asy-Syafi’iyah, air nan sudah pernah digunakan buat berwudhu’ oleh seseorang tak boleh lagi digunakan buat wudhu’ bagi orang lain. Demikian juga dengan air nan sudah digunakan buat mandi janabah, baik nan wajib maupun nan sunnah, sudah tak absah bila digunakan buat mandi janabah untuk orang lain.

Namun menurut sebagain ulama lainnya bahwa air musta’mal tak berubah hukum. Dia tetap boleh digunakan buat wudhu’, mandi janabah dan lainnya.

Di tengah-tengahnya ada pendapat Mazhab Maliki nan memakruhkan berwudhu dengan air musta’mal. Tapi bila tak ada air mutlaq nan dapat digunakan buat berwudhu’, nan ada hanya air musta’mal, boleh digunakan air musta’mal itu. Mereka mengatakan belumboleh bertayammum dengan tanah selama masih ada air musta’mal.

Penjelasan di atas dapat Anda rujuk pada Kitab Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid karya Ibnu Rusyd Al-Hafid, jilid 1 halaman 79 Terbitan Maktabah Ibnu Taimiyah Cairo Cetakan I tahun 1415 H.

Adapun air bekas cucian baju, pada dasarnya tak dapat disebut sebagai air musta’mal. Sebab tak diguakan buat pensucian secara ritual. Maka bila Anda terciprat air bekas cucian, tak ada hubungannnya dengan air musta’mal. Wudhu’ Anda tak batal selama air bekas cucian itu bukan air najis dan jumlahnya sedikit.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu a’alikum warahmatulahi wabarakatuh, Ahmad Sarwat, Lc.

Thaharah

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy