Celakalah bagi Tumit-Tumit itu dari Siksa Barah Neraka

Celakalah bagi Tumit-Tumit itu dari Siksa Barah Neraka

Assalamu`alaikum wr. wb.

Ustadz, aku pernah membaca buku Ringkasan Shahih Bukhari mengenai "Membasuh Kedua Kaki" nan dalam catatan kecilnya dari Abu Dzar menambahkan "Dan tak mengusap kedua tumit" dan sabda Rasulullah SAW, "Celakalah bagi tumit-tumit itu dari siksa barah neraka."

Mohon penjelasannya bagaimana tata cara berwudhu nan benar, terima kasih.

Wassalamu`alaikum wr. wb.

Assalamu ‘laikum warahmatullahi wabarakatuh

Hadits nan Anda tanyakan itu ialah hadits nan sangat masyhur dan beberapa shahabat nan berbeda ikut meriwayatkannya. Beberapa teksnya adalah:

عن عبد اللَّه بن عمر قال‏ ‏تخلف عنا رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم في سفرة فأدركنا وقد أرهقنا العصر فجعلنا نتوضأ ونمسح على أرجلنا قال‏:‏ فنادى بأعلى صوته ويل للأعقاب من النار مرتين أو ثلاثًا‏ متفق عليه‏

عن أبي هريرة‏:‏ ‏‏أن النبي صلى اللَّه عليه وآله وسلم رأى رجلًا لم يغسل عقبه فقال‏:‏ ويل للأعقاب من النار‏- رواه مسلم‏.‏

عن جابر بن عبد اللَّه قال‏‏رأى رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم قومًا توضئوا ولم يمس أعقابهم الماء فقال‏:‏ ويل للأعقاب من النار‏- رواه أحمد‏.‏

عن عبد اللَّه بن الحارث قال‏‏سمعت رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم يقول‏:‏ ويل للأعقاب وبطون الأقدام من النار‏ – رواه أحمد والدارقطني‏‏

Hadits ini menjelaskan kewajiban berwudhu dengan membasuh kaki hingga mata kaki. Ancamannya ialah neraka seandainya ketika mencuci kedua kaki, tak menyertakan kedua mata kaki. Sebab wudhu’ itu menjadi tak sah, bukan?

Dan bila wudhu’ tak sah, tentu saja shalat nan dilakukannya tak absah juga. Maka wajar saja bila seseorang nan wudhu’nya tak sampai membasahi kedua mata kakinya, dapat masuk neraka. Sebab tindakan itu membuat shalatnya juga tak sah. Dan orang nan tak absah shalatnya akan terhitung sebagai orang nan tak shalat. Dan orang nan tak shalat tentu akan masuk neraka.

Maka dengan demikian, hadits ini memang benar. Yaitu hanya gara-gara mata kaki (yang tak ikut dibasahi waktu wudhu’), seseorang dapat masuk neraka.

Tata Cara Wudhu

Sebenarnya kalau mau disertakan dengan perkara sunnah, memang wudhu’ itu menjadi sangat komleks dan banyak. Jadi di sini kita hanya akan menuliskan anggota tubuh nan menjadi rukun wudhu’. Maksudnya, nan harus dibasahi dan bila ditinggalkan wudhu’ itu tak sah.

Dan tata cara wudhu nan sahih sebenarnya sederhana sekali, yaitu membasuh wajah, kedua tangan hingga siku, mengusap sebagian kepala dan membasuh kedua kaki hingga kedua mata kaki.

Semua itu sudah tertuang dalam firman Allah SWT:

إذا قمتم إلى الصلاة فاغسلوا وجوهكموأيديكم إلى المرافق وامسحوا برؤوسكم وأرجلكم إلى الكعبين

Hai orang-orang nan beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki… (QS Al-Maidah: 6)

1. Membasuh Paras

Para ulama menetapkan bahwa batasan paras seseorang itu ialah loka tumbuhnya rambut (manabit asy-sya’ri) hingga ke dagu dan dari batas telinga kanan hingga batas telinga kiri.

2. Membasuh kedua tangan hingga siku

Secara jelas disebutkan tentang keharusan membasuh tangan hingga ke siku. Dan para ulama mengatakan bahwa nan dimaksud ialah bahwa siku harus ikut dibasahi. Sebab kata `Ilaa` dalam ayat itu ialah lintihail ghayah. Selain itu sebab nan disebut dengan tangan ialah termasuk juga sikunya.

Selain itu juga diwajibkan buat membahasi sela-sela jari dan juga apa nan ada di balik kuku jari. Para ulama juga mengharuskan buat menghapus kotoran nan ada di kuku bila dikhawatirkan akan menghalangi sampainya air.

Jumhur ulama juga mewajibkan buat menggerak-gerakkan cincin bila seorang memakai cincin ketika berwudhu, agar air dapat sampai ke sela-sela cincin dan jari. Namun Al-Malikiyah tak mengharuskan hal itu.

3. Mengusap kepala

Yang dimaksud dengan mengusap ialah meraba atau menjalankan tangan ke bagian nan diusap dengan membasahi tangan sebelumnya dengan air. Sedangkan nan disebut kepala ialah mulai dari batas tumbuhnya rambut di bagian depan/dahi ke arah belakang hingga ke bagian belakang kepala.

Al-Hanafiyah mengatakan bahwa nan wajib buat diusap tak semua bagian kepala, melainkan sekadar dari kepala. Yaitu mulai ubun-ubun dan di atas telinga.

Sedangkan Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah mengatakan bahwa nan wajib diusap pada bagian kepala ialah seluruh bagian kepala. Bahkan Al-Hanabilah mewajibkan buat membasuh juga kedua telinga baik belakang maupun depannya. Sebab menurut mereka kedua telinga itu bagian dari kepala juga.

Sebagaimana hadits nan diriwayatkan oleh Ibnu Majah: Dua telinga itu bagian dari kepala. Namun nan wajib hanya sekali saja, tak tiga kali.

Adapun Asy-Syafi`iyyah mengatakan bahwa nan wajib diusap dengan air hanyalah sebagian dari kepala, meskipun hanya satu rambut saja. Dalil nan digunakan beliau ialah hadits Al-Mughirah: Bahwa Rasulullah SAW ketika berwudhu` mengusap ubun-ubunnya dan imamahnya (sorban nan melingkari kepala).

4. Mencuci kaki hingga mata kaki. Menurut jumhur ulama, nan dimaksud dengan hingga mata kaki ialah membasahi mata kakinya itu juga. Sebagaimana dalam masalah membahasi siku tangan. Secara spesifik Rasulullah SAW mengatakan tentang orang nan tak membasahi kedua mata kakinya dengan sebutan celaka. Celakalah kedua mata kaki dari neraka.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘laikum warahmatullahi wabarakatuh Ahmad Sarwat, Lc.

Thaharah

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy