Daging Anjing

Daging Anjing

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Pak Ustadz, aku pernah dengar ceramah bahwa tak ada dalil nan menerangkan bahwa daging anjing itu haram, nan haram hanya air liurnya, minta penjelasannya.

Terima kasih, ditunggu jawabannya.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang dalil tentang najisnya anjing itu lebih banyak bersumber dari hadits tentang najisnya liur anjing. Di antaranya adalahhadits berikut ini:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إذا شرب الكلب في إناء أحدكم فليغسله سبعا. متفق عليه

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, `Bila seekor anjing minum dari wadah milik kalian, maka cucilah 7 kali. (HR Bukhari 172, Muslim 279, 90)

ولأحمد ومسلم: طهور إناء أحدكم إذا ولغ فيه الكلب أن يغسله سبع مرات أولاهن بالتراب

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, `Sucinya wadah kalian nan dimasuki mulut anjing ialah dengan mencucinya 7 kali." Dan menurut riwayat Ahmad dan Muslim disebutkan salahsatunya dengan tanah." (HR Muslim 279, 91, Ahmad 2/427)

Namun ketika mengambil konklusi hukum, barulah terjadi disparitas pendapat. Sebagian ulama menganggap najis di air liur menyebabkan najis seluruh tubuh anjing itu, namun sebagian lainnya mengatakan hanya bagian eksklusif saja.

Untuk lebih rinci, berikut ini kami uraikan pendapat dari masing-masing mazhab fiqih nan utama.

1. Pendapat Mazhab Al-Hanafiyah

Dalam mazhab ini, nan najis dari anjing hanyalah air liurnya, mulutnya dan kotorannya. Sedangkan tubuh dan bagian lainnya tak dianggap najis. Kedudukannya sebagaimana hewan nan lainnya, bahkan umumnya anjing bermanfaat banyak untuk manusia. Misalnya sebagai hewan penjaga atau pun hewan buat berburu. Mengapa demikian?

Sebab dalam hadits tentang najisnya anjing, nan ditetapkan sebagai najis hanya bila anjing itu minum di suatu wadah air. Maka hanya bagian mulut dan air liurnya saja (termasuk kotorannya) nan dianggap najis.

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Bila anjing minum dari wadah air milikmu, harus dicuci tujuh kali.(HR Bukhari dan Muslim).
Rasulullah SAW bersabda, "Sucinya wadah minummu nan telah diminum anjing ialah dengan mencucinya tujuh kali dan salah satunya dengan tanah
. (HR Muslim dan Ahmad)

Lihat kitab Fathul Qadir jilid 1 halaman 64, kitab Al-Badai` jilid 1 halaman 63.

2. Pendapat Mazhab Al-Malikiyah

Mazhab ini juga mengatakan bahwa badan anjing itu tak najis kecuali hanya air liurnya saja. Bila air liur anjing jatuh masuk ke dalam wadah air, wajiblah dicuci tujuh kali sebagai bentuk ritual pensuciannya.
Silahkan periksa kitab Asy-Syarhul Kabir jilid 1 halaman 83 dan As-Syarhus-Shaghir jilid 1 halaman 43.

3. Pendapat Mazhab As-Syafi`iyah dan Al-Hanabilah

Kedua mazhab ini sepakat mengatakan bahwa bukan hanya air liurnya saja nan najis, tetapi seluruh tubuh anjing itu hukumnya najis berat, termasuk keringatnya. Bahkan hewan lain nan kawin dengan anjing pun ikut hukum nan sama pula.

Dan buat mensucikannya harus dengan mencucinya tujuh kali dan salah satunya dengan tanah.

Logika nan digunakan oleh mazhab ini ialah tak mungkin kita hanya mengatakan bahwa nan najis dari anjing hanya mulut dan air liurnya saja. Sebab sumber air liur itu dari badannya. Maka badannya itu juga merupakan sumber najis. Termasuk air nan keluar dari tubuh itu juga, baik kencing, kotoran dan juga keringatnya.

Pendapat tentang najisnya seluruh tubuh anjing ini juga dikuatkan dengan hadits lainnya antara lain:

Bahwa Rasululah SAW diundang masuk ke rumah salah seorang kaum dan beliau mendatangi undangan itu. Di kala lainya, kaum nan lain mengundangnya dan beliau tak mendatanginya. Ketika ditanyakan kepada beliau apa sebabnya beliau tak mendatangi undangan nan kedua, beliau bersabda, "Di rumah nan kedua ada anjing sedangkan di rumah nan pertama hanya ada kucing. Dan kucing itu itu tak najis." (HR Al-Hakim dan Ad-Daruquthuny).

Dari hadits ini dapat dipahami bahwa kucing itu tak najis, sedangkan anjing itu najis.

Lihat kitab Mughni Al-Muhtaj jilid 1 halaman 78, kitab Kasy-syaaf Al-Qanna` jilid 1 halaman 208 dan kitab Al-Mughni jilid 1 halaman 52.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Thaharah

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy