Dakwah, Tabligh, Khutbah dan Ceramah, Apa Bedanya?

Dakwah, Tabligh, Khutbah dan Ceramah, Apa Bedanya?

1. Apa disparitas makna secara definisi antara tablig, dakwah, khutbah, dan ceramah. Dalam ketentuannya apakah sama?2. Pada saat khutbah, seseorang dilarang berbicara. bagaimana kalau suasana di mana kebanyakan nan ikut khutbah anak-anak sekolah nan memang mereka harus sering diingatkan buat tertib dan diam.3. Dalam khutbah apakah harus membaca atau menyeru takwa saat khutbah pertama dan kedua? Tolong minta dijelaskan nan rinci.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Yang tertinggi dan paling luas cakupannya ialah dakwah. Di dalam dakwah ada beberapa jenjang aktifitas. Salah satunya ialah tabligh. Jadi tabligh itu bagian dari dakwah, tetapi dakwah bukan hanya semata-mata tabligh. Selain tablig, dalam jenjang aktifitas dakwah juga mengenal taklim. Yang bersifat lebih intensif dari sekedar tabligh. Ada juga takwin, nan jauh lebih intensif lagi dari taklim dan tabligh.

Tabligh sendiri berarti menyampaikan. Dari kata ballagha – yuballighu. Di dalam tabligh, nan menjadi inti masalah ialah bagaimana agar sebuah informasi tentang agama Islam dapat sampai kepada objek dakwah. Tapi tak ada tuntutan lebih jauh buat mendalami suatu masalah itu.

Berbeda dengan taklim, di mana intensitasnya lebih dalam. Orang-orang nan masuk dalam program taklim punya beban lebih, yaitu belajar dan mendalami masalah-masalah nan lebih dari ajaran Islam.

Sedangkan istilah khutbah dan ceramah sesungguhnya merupakan media dalam bertabligh. Khutbah itu identik dengan khutbah jumat, nan hukumnya wajib diselenggarakan tiap hari Jumat. Meski pun di luar khutbah jumat juga kita mengenal adanya khutbah nikah, khutbah ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha. Sedangkan ceramah sifatnya agak bebas, tak ada ketentuan waktu dan kesempatannya. Misalnya ceramah maulid, pengajian dan sejenisnya.

Khutbah Jumat

Khutbah jumat punya syarat dan rukun nan tak boleh ditinggalkan, karena terkait erat dengan absah atau tidaknya sebuah ibadah mahdhah. Sedangkan ceramah agak bersifat bebas, dapat dilakukan kapan saja, oleh siapa saja, dalam event apa saja, dan tak punya syarat dan rukun.

Rukun Khutbah Jumat:

  1. Mengucapkan hamdalah.
  2. Mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
  3. Menyampaikan wasiat atau pesan buat taqwa.
  4. Membaca sebagian ayat Al-Quran pada salah satu dari dua khutbah (sebaiknya di khutbah pertama).
  5. Mendoakan umat Islam pada salah satu dari dua khutbah (sebaikya di khutbah kedua).

Syarat Absah Khutbah Jumat:

  1. Khatibsuci dari hadats kecil dan besar.
  2. Khatibsuci dari najis baik di tubuh, baju maupun tempat.
  3. Khatibmenutup aurat seperti shalat.
  4. Khatibberdiri bila mampu.
  5. Khatibduduk di antara dua khutbah.
  6. Khutbah pertamabersambung dengan khutbah kedua.
  7. Khutbah keduabersambung dengan shalat Jumat.
  8. Rukunnyayang paling asasi disampaikan dalam bahasa Arab, meski tambahannya boleh dengan bahasa selain Arab.
  9. Khutbah itu didengarkan/dihadiri oleh minimal 40 orang nan wajib atasnya shalat jumat (mazhab Asy-Syafi’i)
  10. Khutbah dilakukan masih pada waktu Dzhuhur

Pada waktu khutbah Jumat, memang diharamkan berbicara. Karena itu kalau ingin menyelenggarakan shalat Jumat nan kebanyakan dihadiri oleh anak-anak, perlu penanganan spesifik sebelumnya. Pelajaran shalat nan pertama kali untuk anak-anak itu bukan bagaimana bacaan shalat atau gerakannya, tetapi bagaimana adab berada di masjid.

Pendidikan adab di dalam masjid ini harus dapat menjadi anak-anak itu beisa tenang di dalam masjid, baik saat shalat jumat, atau pun shalat lainnya. Dan jangan sekali-kali melepas anak masuk ke masjid sebelum dia dinyatakan lulus dalam pendidikan adab di dalam masjid.

Rasulullah SAW memang memerintahkan agar kita menyuruh anak usia 7 tahun buat shalat, tetapi bukan dimulai dari masjid. Jadi jangan langsung dibawa ke masjid, sementara anak itu belum dibekali dengan adab-adab berada di masjid.

Ini kesalahan paling mendasar dari kebanyakan kita, yaitu kita hanya membekali mereka dengan gerakan dan bacaan shalat, tetapi tak pernah memastikan bahwa anak itu sudah punya bekal tentang adab-adab berada di masjid. Sehingga masjid menjadi riuh dan bising dengan kehadiran mereka.

Maka anak-anak itu perlu mendapat terapi dan pelatihan nan sangat fundamental tentang adab berada di masjid. Entah bagaimana cara dan tekniknya, pokoknya mereka harus diajarkan bagaimana masuk masjid dan beribadah dengan tenang, khusyu’ dan tak bersuara saat khutbah disampaikan. Sekedar memarahi dan melarang mereka buat tak ribut dan dilakukan hanya saat khutbah jumat ialah pekerjaan nan sia-sia, bahkan menghilangkan pahala jumat.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Umum

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy