Dana buat Kondangan dari Infak

Dana buat Kondangan dari Infak

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustadz, bagi seorang muslim ada kewajiban mengeluarkan infak minimal 2, 5% dari pendapatan nan diterima. Pertanyaan saya, bolehkah infak tersebut kita salurkan sebagai sumbangan ke kondangan. Masalahnya, seringkali banyak undangan (nikah atau khitanan) sementara uang belanja untuk keluarga sendiri pas-pasan. Atas jawabannya jazakallah khairan.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Kalau kita merujuk kepada kitab-kitab fiqih nan baku, sebenarnya tak secara otomatis semua muslim terkena kewajiban buat mengeluarkan infaq, apalagi besarnya ditetapkan harus 2, 5% dari pendapatan.

Tidak semua jenis harta diwajibkan buat dikeluarkan zakatnya. Berdasarkan nash-nash Al-Quran dan Sunnah, para ulama telah menyusun kriteria jenis harta nan wajib dizakati. Bila harta seseorang tak memiliki kriteria nan telah ditetapkan, maka tak ada kewajiban zakat. Meski pun secara nominal lebih tinggi.

Namun nan menjadi ukuran apakah harta nan dimiliki oleh seseorang itu wajib dikeluarkan zakat atau tidak, bukan sekedar nilainya (nishab), tetapi masih ada sisi-sisi lainnya serta kriteria-kriteria eksklusif nan harus dipenuhi.

Paling tak ada 5 kriteria primer nan telah disepakati oleh para ulama, yaitu:

  1. Harta itu dimiliki secara paripurna (al-milkut-taam)
  2. Harta itu tumbuh (an-nama’)
  3. Harta itu memenuhi jumlah baku minimal (nisab)
  4. Harta itu telah dimiliki buat jangka waktu eksklusif (haul)
  5. Harta itu telah melebihi kebutuhan dasar

Uang Kondangan

Uang kondangan itu dapat jatuh kepada beberapa bentuk pemberian. Dapat berbentuk hadiah, namun dapat juga sedekah. Tergantung kondisi dan keadaannya.

Namun lepas dari dua kemungkinan itu, sesungguhnya tak ada dalil nan mewajibkan kita buat memberi uang kondangan. Sebab Islam tak mengajarkan kita buat memaksakan diri dan main gengsi, termasuk dalam membiayai acara walimah.

Namun kalau antara zakat dengan saweran kondangan disandingkan, maka antara keduanya tak ada hubungan. Maksudnya, harta nan harus disisihkan buat zakat itu tak boleh begitu saja dikonversi buat nyawer kondangan. Sebab zakat itu sudah ditetapkan para mustahiknya. Dan jumlahnya terbatas menjadi 8 macam saja, di antaranya fakir miskin.

Namun lain ceritanya kalau kita berniat memberi zakat kepada seorang nan masuk dalam kriteria miskin, dan kebetulan dia sedang butuh dana buat mengadakan hajatan perkawinan.

Namun tetap saja hal itu masih menjadi kritik, kalau memang miskin dan berhak mendapat harta zakat, mengapa harus mengadakan acara undangan makan? Sehingga membutuhkan dana nan tak sedikit.

Seseorang berhak menjadi penerima zakat sebab dia miskin tak dapat makan. Lalu kalau sampai merasa harus mengadakan perjamuan makan, sebenarnya ada logika nan terbalik. Karena itu sebenarnya kurang layak menyalurkan dana zakat untuk orang nan mengundang makan. Seharusnya dana zakat diberikan kepada orang nan tak dapat makan sebab miskinnya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Umum

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy