Dengan Jamaah Mana Anda Menggabungkan Diri?

Dengan Jamaah Mana Anda Menggabungkan Diri?

Di Indonesia ramai aktivis dakwah melakukan amal Islami dengan berbagai wadah. Wadah nan berbentuk Jamaah itu, karenanya menjadi loka berhimpun para aktivis dakwah. Para aktivis dakwah memilih masuk ke dalam sebuah Jamaah, tentu disertai dengan berbagai alasan dan pendapat.

Di dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat nan mewajibkan bergabung dalam sebuah Jamaah. Jamaah ialah wahana (wasilah) bukan tujuan (ghoyah), nan akan menjadi loka berhimpunnya para aktivis dakwah, secara bersama-sama melakukan amal jama’i, dan dilandasi nilai-nilai Rabbaniyah, ruhul ukhuwah dan mahabbah (cinta) nan mendalam, dan memiliki komitmen bersama mencapai cita-cita tujuan.

Tetapi, banyak aktivis dakwah nan berhimpun dalam Jamaah terjangkiti berbagai "penyakit", dan berhimpunnya para aktivis dakwah ke dalam Jamaah, justru melahirkan berbagai fitnah. Adakah ini kesalahan manhaj (methode) dakwahnya atau para aktvisnya nan meninggalkan manhaj nan menjadi thoriqoh (jalan) gerakannya. Sehingga, potensi-potensi nan dimiliki para aktivis dakwah menjadi mubazir, dan kemudian terpecah-pecah ke dalam firqoh-firqoh.

Maka, kenalilah Jamaah nan memiliki kriteria nan kebaikannya bersifat menyeluruh, dan dapat menjadi wahana dalam menegakkan agama Allah (dinullah), bukan menjadi wahana nan melahirkan firqoh-firqoh, atau hanya menjadi wahana memupuk ambsisi pribadi. Inilah kriteria Jamaah nan paripurna itu :

Pertama, Jamaah nan paripurna itu, nan menjadi ahdaf (tujuannya) yakni menerapkan syari’at dan manhaj Allah di muka bumi. (QS : al-An’am : 57)

Kedua, Jamaah nan paripurna itu, nan melandaskan setiap ucapan dan perbuatannya, sebab Allah semata. (QS : al-An’am : 162-163)

Ketiga, Jamaah nan paripurna itu, nan melepaskan semua bentuk wala’ (loyalitas) kecuali kepada Allah semata. (QS : al-Maidah : 55)

Keempat, Jamaah nan paripurna itu, nan menganut paham nan lurus terhadap Islam, tak ghuluw (ekstrim), dan tak pula tafriith (meremehkan). Melaksanakan syari’atnya secara integral. (QS : al-Baqarah : 208)

Kelima, Jamaah nan paripurna itu, amal nan pertama kali dilakukan harus berorientasi pada pembentukan pribadi muslim nan menghimpun sikap-sikap baik, dan jauh dari sikap tercela, serta berusaha memperoleh pertolongan kemenangan dari Allah semata. (QS : ar-Ra’d : 11, dan QS : asy-Syam : 9-10)

Keenam, Jamaah nan paripurna itu, nan memiliki sifat universal dalam upaya menerapkan nilai-nilai pribadi muslim, yaitu dengan bentuk penyebaran ke semua lapisan masyarakat bahkan seluruh penjuru dunia. (QS : al-Anbiya : 107)

Ketujuh, Jamaah nan paripurna itu, nan senantiasa mengikat diri dengan adanya kesatuan wihdah, baik itu pola pikir nan satu, hati nan satu, ruh nan satu, perasaan nan satu, sekalipun mereka bhineka latarbelakang. (QS : al-Imran : 103)

Kesembilan, Jamaah nan paripurna itu, nan senantiasa berpijak diatas tahapan nan benar, teliti, dan terbina nan bersifat kontinu, serta bertolak dari pemahaman nan lurus akan realitasnya. (QS : at-Taubah : 105)

Kesepuluh, Jamaah nan paripurna itu, nan senantiasa memelihara langkah-langkah prioritas dalam beramal, yaitu tatkala sebuah Jamaah mengalami kesulitan dari para penguasa. Mereka harus mendahulukan hal-hal nan ushuul (prinsip) diatas masalah furuu’ (cabang), memprioritaskan nan wajib daripada nan sunnah, serta menyegerakan hal-hal nan telah disepakati daripada nan masih diperselisihkan. Ini seperti nan dilakukan Rasulullah Shallahu alaihi wassalam, ketika beliau mengutamakan upaya menghancurkan berhala-berhala nan bercokol di dalam jiwa manusia, sebelum beliau menghancurkan berhala nan berwujud patung nan mengililingi Ka’bah.

Kesebelas, Jamaah nan paripurna itu, Jamaah nan tak boleh meremehkan dan menyepelekan masalah ushuul (prinsip) nan sudah disepakati, disertai dengan sikap nan toleran terhadap masalah nan furuu’. Dengan demikian membuka pintu kerjasama dengan antr semua aktivis.

Keduabelas, Jamaah nan paripurna itu, Jamaah nan memiliki suatu manhaj (sistem)  nan jelas langkahnya dan orientasinya, yakni sebuah Jamaah nan bisa membawa anggotanya selangkah demi  selangkah  ke tahapan berikutnya, dan menuju ahdaf (tujuan) nan dicita-citakannya.

Ketigabelas, Jamaah nan paripurna itu, Jamaah nan harus sudah teruji keteguhan dan kesabarannya dalam menempuh jalan kesulitan diatas jalan dakwah nan dilaluinya. Mereka telah dibenturkan dengan suatu nan sangat menakutkan dan telah matang dalam ujian dan cobaan. (QS : Muhammad : 31)

Keempatbelas, Jamaah nan paripurna itu, Jamaah nan telah menempuh perjalanan nan panjang dalam beramal, sehingga ia telah matang dan kaya akan pengalaman diatas jalan nan ditempuhnya. Dengan demikian, manusia nan berjalan bersamanya bisa mengorbankan kesungguhan, waktu, dan harta secara menyeluruh.

Kelimabelas, Jamaah nan paripurna itu, Jamaah nan ditempuhnya perlahan, tapi pasti, dan tak tergesa-gesa (isti’jaal) dalam mencapai tujuan. (QS : Ahqaaf : 35)

Keenambelas, Jamaah nan paripurna itu, di dalam Jamaah itu terdapat orang nan mampu buat membimbing serta mampu melaksanakan setiap amal, dan menetapkan masalah sinkron dengan proporsinya.

Ketujuhbelas, Jamaah nan paripurna itu, Jamaah nan memiliki sikap teliti dan selektif dalam memilih para aktivisnya agar perjalanannya bisa higienis dari orang-orang nan menangguhkan suatu amal. (QS : an-Nisaa’ : 102)

Jika kita menemukan kriteria-kriteria seperti diatas, maka kiranya hendaklah berhimpun bersama Jamaah itu. Berikan seluruh potensi nan kita miliki bersama dengan Jamaah itu, meraih kemenangan nan dijanjikan Allah Rabbul Alamin.

Bersama dengan Jamaah nan memiliki kriteria seperti diatas, nan akan membahagiakan kehidupan kita, kelak di hadapan Allah Azza wa Jalla.

Jangan sia-siakan umur dan amal kita, berhimpun dengan berbagai "firqoh" nan menyatakan dirinya "Jamaah", tetapi justru, membuat kita semakin jauh dari ridho-Nya. Wallahu’alam.

Editorial

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy