Derita Istri Kedua

Derita Istri Kedua

Wajahnya manis, antara tulang hidung dengan bentuk matanya sungguh serasi, penampilannya nan mungil membuat wanita cantik berdarah Belanda itu dijuluki boneka Barbie, ya wanita muda itu memang blasteran Belanda dan Jawa sehingga wajahnya nan kebule-bulean membuat dia menjadi sorotan lampu blits dari acara peragaan busana nan menampilkan konsep design negara Timur Tengah.

Malam gala dinner nan dihadiri oleh pemuka masyarakat, Gubernur dan juga para pengusaha, bisnisman muda, serta kaum ibu serta wanita nan tergabung dalam grup sosialita menyaksikan sebuah pertunjukan show dengan konsep klasik Timur Tengah. Perpadaun nan sangat menarik, dan malam itu, si Barbie mungil menjadi sorotan mata sebab sikapnya dan wajahnya nan serupa dengan selendang nan melilit tubuhnya dan gaya serta senyumnya nan sopan tersipu malu, membuat sang designer menjadi pemenang sebab gaun nan dibawakan sang gadis Barbie.

Akhirnya sang Barbie sukses dijumpai oleh Handoko, salah seorang penonton nan kebetulan diajak oleh kawannya buat menilai kapasitas gedung nan kebetulan empat bulan lagi akan digunakan oleh adik bungsu pak Handoko mengadakan persepsi pernikahannya. Pak Handoko sebagai kakak sulung nan juga paling kaya di antara lima bersaudara di keluarga Raden Suparno, pengusaha produk minuman herbal, merupakan anak sulung nan diharapkan mampu menggantikan orang tuanya buat mengurus dan mengambil alih tanggung jawab dalam mengadakan resepi pernikahan adiknya nan akan diadakan empat bulan nan akan datang.

Pak Handoko, lelaki gagah berkumis tipis nan juga sangat mencintai istrinya, nan telah memberikan dua putri cantik, terpikat habis dengan gaya dan aura sang gadis Barbie. Setelah berkenalan sekian lama, hingga sampai seakrab interaksi suami istri, maka pak Handoko menyadari bahwa dirinya tak boleh berlama-lama, sebab takut akan terjerumus perbuatan zina, maka diam-diam dinikahilah sang gadis Barbie. Dengan bahagia hati pinangan pak Handoko diterima sebab kebetulan sang gadis Barbie sudah tak punya ayah lagi sejak usia lima tahun. Dan baginya penampilan pak Handoko dan juga kharismanya membuat sang gadis Barbie terpikat dan merasakan nyaman bila memiliki pendamping nan sudah mapan dan nampak tenang serta dewasa seperti pak Handoko.

Sebagai gadis Barbie nan kemudian diketahui bernama Delila. Kerinduannya pada sosok ayah membuatnya menerima kehadiran sang lelaki idaman walau diketahui sudah beristri. Pikirnya, toh saya hanya mengambil sedikit dari pada waktu nan dimiliki sang istri.

Kebahagiaan sang Barbie sebagai istri kedua tak belangsung lama, tak sampai tiga bulan terciumlah pernikahan keduanya nan dilakukan secara siri dengan sang suami. Ketika istri pertama mulai marah dan menuding-tuding sang Barbie sebagai wanita jalang, perebut istri orang, membuat deritanya pun semakin tajam. Teror demi teror serta ancaman demi ancaman membuat Barbie hanya dapat menangis. Ketika hal tersebut diadukannya pada sang suami, maka kemarahan serta pertengkaran pak Handoko dengan istri pertamanya semakin membuat istri pertama pak Handoko marah dan semakin mengancam sang Barbie. Maka bukanlah kebahagiaan nan dirasakan sang Barbie dari pernikahan dengan pria beristri, namun derita. Karena julukan istri kedua, perebut suami orang, dihina, dilecehkan tetangga, dibicarakan sanak-saudara dan juga rasa was-was dan rendah diri sebab hanya mendapat residu waktu dari istri pertama nan akhirnya menyetujui pernikahan nan kedua sang suami dengan berat hati. Maka sang Barbie bertekad bahwa anak putrinya nan lahir setahun kemudian tak boleh mengalami nasib nan sama dengan dirinya. Biarlah saya menjadi istri kedua nan banyak dihina orang dan dicerca, asalkan putriku nanti tak mengalami nasib seperti aku.

Dan sang Barbie pun menatap sedih ketika melihat akte kelahiran putri mungil dalam pelukannya dimana paras sang putri merupakan perpaduan antara bibir manis pak Handoko dan hidung mancung dirinya sebab hanya tercantum nama dirinya sebagai orang tua si anak, sedangkan nama ayahnya tak tercantum. Maka terasa pilu hatinya ketika melihat nama anaknya dalam akte kelahirannya. Gelar anak tidak ber-ayah pun telah disandang oleh anaknya sebab hasil pernikahan siri sebagai konsekuensi menjadi istri kedua.

Dan jika kamu takut tak akan bisa berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan nan yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) nan kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tak akan bisa berlaku adil[265], Maka (kawinilah) seorang saja[266], atau budak-budak nan kamu miliki. nan demikian itu ialah lebih dekat kepada tak berbuat aniaya. (QS. An-Nisaa [4] : 3)

Akhwat

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy