Dilarang berkata : ”Allah Tidak Akan Mengampunimu”

Dilarang berkata : ”Allah Tidak Akan Mengampunimu”

Tugas seorang muslim ialah menganjurkan perbuatan ma’ruf dan mencegah dari perbuatan mungkar. Demikianlah Allah gambarkan karakteristik kaum muslimin. Bahkan karakteristik ini telah menyebabkan Allah memberikan sebutan begitu istimewa kepada ummat Islam. Allah menamakan ummat Islam sebagai Ummat Terbaik nan disajikan buat segenap ummat manusia.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ

بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

”Kamu ialah umat nan terbaik nan dilahirkan buat manusia, menyuruh kepada nan ma`ruf, dan mencegah dari nan munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran ayat 110)

Aktifitas amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan bagian integral dari kegiatan menyeru manusia ke jalan Allah atau Da’wah Islamiyyah. Kegiatan ini menuntut hadirnya kegairahan dan emosi positif pada diri pelakunya. Tanpa adanya kegairahan maka seorang muslim tak akan mau meluruskan defleksi saudaranya. Tanpa gairah mana mungkin seseorang akan tergerak buat menyadarkan orang lain agar meninggalkan perbuatan mungkar nan biasa dia kerjakan. Tanpa gairah mana mungkin seseorang akan punya motivasi buat mendorong saudaranya mengerjakan perbuatan ma’ruf sinkron anjuran Islam. Namun perlu diingat bahwa bilamana emosi nan melandasi suatu tindakan da’wah bukanlah emosi positif namun sebaliknya malah emosi negatif, maka kegiatan nan asalnya merupakan suatu kebaikan dapat mendatangkan bencana. Bahkan bala bagi pelaku da’wah itu sendiri.

Yang dimaksudkan dengan emosi positif adalah perasaan nan membara namun tetap terkendali dalam batas-batas nan dibenarkan oleh ajaran Islam. Sedangkan emosi negatif adalah perasaan nan hiperbola sehingga menyebabkan aktifis da’wah melampaui batas nan dibenarkan Islam tatkala ia sedang menasehati saudaranya.

Salah satu bentuk tindakan melampaui batas adalah seperti memandang dirinya berhak menentukan siapa nan bakal diampuni Allah dan siapa nan tidak. Ia lupa bahwa hak mengampuni manusia sepenuhnya berada di tangan Allah Yang Maha Pengampun. Seorang da’i berhak memberitahu saudaranya nan terlibat kemaksiatan buat menghentikan perbuatannya melanggar anggaran Islam, namun ia tak perlu dan tak dibenarkan buat mengancam si pelaku maksiat bahwa kemksiatannya tak bakal diampuni Allah. Allah sangat sanggup dan berkuasa penuh buat mengampuni siapa saja nan dikehendakiNya. Perhatikan hadits berikut:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَ

أَنَّ رَجُلًا قَالَ وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لِفُلَانٍ وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ

مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ فَإِنِّي

قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ أَوْ كَمَا قَالَ

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: Ada seorang lelaki nan berkata: “Demi Allah, Allah tak akan mengampuni si fulan.” Allah berfirman: ”Siapakah nan bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tak mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuni dosanya dan Aku telah menghapuskan amalmu.” (Hadits shahih riwayat Muslim).

Bahkan dalam hadits lainnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan peristiwa nan pernah terjadi pada Bani Israil. Suatu ketika ada abang-beradik dari Bani Israil. Salah seorang diantara keduanya sering berbuat dosa sedangkan nan lainnya rajin beribadah. Maka setiap kali si pelaku dosa melakukan maksiatnya, maka si ’abid selalu mencegahnya, namun si pelaku dosa terus saja mengulangi perbuatan dosanya. Hingga pada suatu hari ketika si pelaku dosa berbuat maksiat di hadapan saudaranya, maka kali itu ia tak saja mencegah perbuatan dosa saudaranya. Si ’abid mengucapkan kalimat nan melampaui batas dimana ia sampai tega mengatakan bahwa saudaranya tak bakal diampuni Allah dan bahkan tak akan masuk surga. Maka apa nan akhirnya terjadi pada kedua abang-beradik ini? Marilah ikuti jalan ceritanya dengan langsung membaca haditsnya di bawah ini:

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

يَقُولُ كَانَ رَجُلَانِ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ مُتَوَاخِيَيْنِ

فَكَانَ أَحَدُهُمَا يُذْنِبُ وَالْآخَرُ مُجْتَهِدٌ فِي الْعِبَادَةِ

فَكَانَ لَا يَزَالُ الْمُجْتَهِدُ يَرَى الْآخَرَ عَلَى الذَّنْبِ

فَيَقُولُ أَقْصِرْ فَوَجَدَهُ يَوْمًا عَلَى ذَنْبٍ فَقَالَ لَهُ أَقْصِرْ

فَقَالَ خَلِّنِي وَرَبِّي أَبُعِثْتَ عَلَيَّ رَقِيبًا فَقَالَ

وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ أَوْ لَا يُدْخِلُكَ اللَّهُ الْجَنَّةَ

فَقَبَضَ أَرْوَاحَهُمَا فَاجْتَمَعَا عِنْدَ رَبِّ الْعَالَمِينَ

فَقَالَ لِهَذَا الْمُجْتَهِدِ أَكُنْتَ بِي عَالِمًا

أَوْ كُنْتَ عَلَى مَا فِي يَدِي قَادِرًا وَقَالَ لِلْمُذْنِبِ

اذْهَبْ فَادْخُلْ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِي وَقَالَ لِلْآخَرِ اذْهَبُوا بِهِ إِلَى النَّارِ

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَوْبَقَتْ دُنْيَاهُ وَآخِرَتَهُ

Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Ada dua orang laki-laki dari kalangan Bani Israil nan saling bersaudara. Yang satu rajin ibadah dan lainnya berbuat dosa. Lelaki nan rajin beribadah selalu berkata kepada saudaranya, ‘Hentikan perbuatan dosamu!” Suatu hari ia melihat saudaranya berbuat dosa dan ia berkata lagi, ‘Hentikan perbuatan dosamu!” “Biarkan antara saya dan Tuhanku. Apakah kamu diutus buat mengawasiku?” jawabnya. Ia berkata lagi, “Demi Allah, Allah tak akan mengampunimu” atau “Dia tak akan memasukanmu ke surga.” Kemudian Allah mengutus malaikat kepada keduanya buat mengambil ruh keduanya hingga berkumpul di sisi-Nya. Allah berkata kepada orang nan berdosa itu,“Masuklah kamu ke surga berkat rahmat-Ku.”Lalu Allah bertanya kepada lelaki nan rajin beribadah,“Apakah kamu mampu menghalangi antara hamba-Ku dan rahmat-Ku?”Dia menjawab, “Tidak, wahai Tuhanku.” Allah berfirman buat nan rajin beribadah (kepada para malaikat): “Bawalah dia masuk ke dalam neraka.” Abu Hurairah– semoga Allah meridhainya – berkomentar, “Demi Dzat nan jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh ia berkata dengan satu kalimat nan membinasakan global dan akhiratnya.”(HR Abu Dawud).

Ya Allah, tanamkanlah selalu kegairahan dalam diri kami buat berda’wah di jalanMu. Namun hindarknalah kami dari berlaku melampaui batas ketika sedang berda’wah sehingga menghilangkan sifat rendah hati kami. Ya Allah, hindarkanlah kami dari mengucapkan sesuatu nan bisa membinasakan global dan akhirat kami. Amin ya Rabb.

Suara langit

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy