Do'a Sang Malaikat

Do'a Sang Malaikat

Pelataran putih serta hamparan karpet beludru nan menutupi hampir seluruh bagian masjid masih terlihat agak lengang dari biasanya. Adzan dzuhur memang masih sekitar empat puluh lima menit lagi baru akan berkumandang. Ada beberapa orang nan sudah duduk bersila di beberapa bagian teras masjid. Aku mengelilingkan pandangku saat itu.

Sambil menuntun langkah keponakanku, saya melangkah memasuki ruangan primer masjid itu. Alhamdulillah, masih ada waktu buat kami tunaikan tahiyatul masjid. Hembusan angin perlahan menelusup ke pundak mengiringi takbir. Sejuknya suasana memang selalu hadir dalam setiap keberadaan di bumi Alloh ini. Kapanpun, di manapun, ia selalu tampil dengan segala keteduhan serta kenyamanan bagi siapapun para hamba-Nya nan mengharapkan ridho dari-Nya.

Seusai salam, saya tersenyum melihat tingkah keponakanku nan sepertinya memang masih sulit mengikuti gerakan sholat kami buat lebih sempurna. Dia lalu segera mengubah cara duduknya dan kemudian bersila di sampingku.

Sekitar lima menit suasana masih hening. Matahari perlahan merangkak ke atas pusat dunia. Menyemburatkan sinarnya hingga seakan menusuk-nusuk di atas kepala. Beberapa orang masih berdatangan saat itu. Hingga tidak lama kemudian, keponakanku berbisik minta uang. Jujur saat itu saya agak heran.

"Buat apa?", tanyaku
Ia hanya tersenyum, lalu kemudian menunjuk sebuah kotak nan ada di sudut masjid itu, nan biasanya pada saatnya nanti akan dipindah bergilir menyusuri barisan-barisan shaf para jamaah.

"Oooo….", saya mengerti sambil kemudian tersenyum kearahnya.
Rupanya hari ini dia lupa meminta uang ke ibunya buat mengisi kotak amal masjid itu. Biasanya memang setiap dia pergi ke masjid, dia dibekali uang buat dia masukkan di kotak amal itu.

Aku tersenyum dalam hati, semestinya memang saya malu. Bukankah shodaqoh itu akan menolong kita dari murka Alloh dan menghindarkan diri dari kematian su’ul khotimah? Tapi, mengapa selalu lupa buat membiasakan diri ini menjalankan satu tuntunan syariat itu?

"Hhhhhhhhhh…"
Aku membuang nafas panjang. Ada rasa berat dan menyesal mengiringinya. Ada ketakutan nan hebat meliputi daripadanya.

Bayangku seketika menjelma, teringat akan selebaran ia sang Rasul Alloh, ketika menyampaikan bahwa setiap pagi akan datang dua malaikat nan menyeru kepada manusia dan berdo’a kepada Alloh SWT.

Mereka berseru buat mengingatkan kita agar bersedekahlah setiap pagi dari harta kita meskipun sedikit daripada lupa.

"Tiada matahari masih menyinari bumi melainkan ada dua malaikat. Masing-masing menyeru manusia dan berdoa, ‘ Wahai manusia, bergegaslah menuju Tuhanmu sedikitnya harta tapi mencukupi lebih baik daripada banyak tapi kau lupa…"

Kemudian nan lainnya berdo’a, ..". Wahai Allah, berikan ganti harta kepada mereka nan bederma dan bagi si kikir segera binasakan saja hartanya." (Dikutip dari HR Abu Darda)

Ya Rabb…
Aku menundukkan kepalaku. Andaikan tidak ada maha rahman dan rahim-Mu, tentunya sudah Engkau perkenankan do’a dari para malaikat-Mu. Menggantikan harta pada mereka nan senantiasa berderma dan membinasakannya harta-harta nan telah sebelumnya Engkau titipkan pada kami nan senantiasa lupa berbagi kepada sesama. Namun apa nan terjadi, Allah ternyata lebih banyak menggantikan bahkan hingga melipat gandakan harta kita ketika kita berbagi kepada sesama. Namun, Ia sebaliknya lebih sering menangguhkan buat membinasakan seluruh harta kita ketika kita lupa bahkan melupakan segalanya.

Naifnya, kita seakan tidak pernah merasa dosa, kita seakan tidak pernah merasa resah akan semuanya. Bahkan tidak pernah ada rasa menyesal dalam hayati kita ketika melewati hari demi hari nan hampa tanpa berusaha buat meluangkan waktu sejenak, merogoh kantong pakaian kita, dan meniatkannya buat hanya mengharap ridha-Nya.

Padahal, andaikan kita mencoba menelusuri afeksi Alloh pada hamba-hamba-Nya. Ternyata banyak barokah nan Ia titipkan, nan Ia hadirkan dalam hayati hamba-hamba nan senantiasa berusaha buat istiqamah menunaikan satu amalan ini. Bukan hanya Ia sang Rasul Alloh saja, bukan hanya mereka para sahabat saja, bukan hanya mereka para alim ulama saja, namun janji ini Alloh pertunjukkan buat kita semua, nan telah Ia berikan kepercayaan buat mengarungi hamparan berjuta amalan di global ini.

Wallahu’alam bish-shawab.

Oase iman

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy