Duta Pertama Islam: Mush’ab bin Umair

Duta Pertama Islam: Mush’ab bin Umair

Di antara sahabat Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam nan memiliki semangat dan kepiawaian dalam menjalankan tugas da’wah adalah Mush’ab bin Umair. Ia terhitung salah seorang as-Sabiqun al-Awwaluun (pionir pemeluk Islam). Sahabat nan satu ini sudah memperlihatkan kehanifan dan kecintaannya kepada iman sejak awal kali ia mendengar soal Muhammad bin Abdullah shollallahu ’alaih wa sallam yang mengaku sebagai Nabi terakhir utusan Allah.  Coba perhatikan bagaimana Khalid Muhammad Khalid menggambarkan soal keislamannya di dalam buku Karakteristik Perihidup Enampuluh Shahabat Rasulullah:


Baru saja Mush’ab mengambil loka duduknya, ayat-ayat al-Quran mulai mengalir dari kalbu Rasulullah
shollallahu ’alaih wa sallam bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush’ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam nan tepat menemui target pada kalbunya.

Hampir saja anak muda itu terangkat dari loka duduknya sebab rasa haru, dan serasa terbang ia sebab gembira. Tetapi Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengulurkan tangannya nan penuh berkat dan afeksi dan mengurut dada pemuda nan sedang panas bergejolak, hingga tiba-tiba menjadi sebuah lubuk hati nan tenang dan damai, tidak obah bagai lautan nan teduh dan dalam. Pemuda nan telah Islam dan Iman itu nampak telah memiliki ilmu dan hikmah nan luas – berlipat ganda dari ukuran usianya – dan mempunyai kepekatan hati nan mampu merubah jalan sejarah.

 

Memang, Mush’ab bin Umair bukan sembarang lelaki. Ketika di masa jahiliyyah, ia dikenal sebagai pemuda dambaan kaum wanita. Ia ialah seorang pemuda ganteng nan dikenal sangat perlente. Bila ia menghadiri sebuah serikat ia segera menjadi magnet pemikat semua orang terutama kaum wanita. Gemerlap pakaiannya  dan keluwesannya berteman sungguh mempesona. Namun sesudah memeluk Islam, ia berubah samasekali. Beginilah citra penulis buku nan sama:

Pada suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang muslimin nan sedang duduk sekeliling Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Demi memandang Mush’ab, mereka sama menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah sebab duka. Mereka melihat Mush’ab memakai jubah usang nan bertambal–tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan mereka – pakaiannya sebelum masuk Islam – tidak obahnya bagaikan bunga di taman, berwarna-warni dan menghamburkan bau nan wangi.

Adapun Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam, menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati, pada kedua bibirnya tersungging senyuman mulia seraya bersabda :

“Dahulu aku lihat Mush’ab ini tidak ada nan mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Demikianlah, Mush’ab menjadi seorang nan meninggalkan kebanggan palsu global dan menggantikannya dengan kemuliaan hakiki akhirat. Tidak mengherankan bila akhirnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menunjuknya buat menjadi duta pertama Islam berda’wah di Madinah. Beginilah gambarannya:

 

Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam buat melakukan suatu tugas maha krusial saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah buat mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang – orang Anshar nan telah beriman dan baiat kepada Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam di bukti Aqabah. Disamping itu mengajak orang-orang lain buat menganut agama Allah, serta mempersiapkan kota Madinah buat menyambut hijrah Rasul sebagai peristiwa besar.

Sebenarnya di kalangan sahabat ketika itu masih banyak nan lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih dekat interaksi kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush’ab. Tetapi Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menjatuhkan pilihannya kepada “Mush’ab nan baik”.  Dan bukan tak menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas amat krusial ke atas pundak pemuda itu, dan menyerahkan kepadanya tanggung jawab nasib agama Islam di kota Madinah, suatu kota nan tidak lama lagi akan menjadi kota tempatan atau kota hijrah, pusat dari dai dan dakwah, loka berhimpunnya penyebar Agama dan pembela al-Islam.

Mush’ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah kepadanya berupa fikiran nan cerdas dan budi nan luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia sukses melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam.

Sesampainya di Madinah, didapatinya Kaum Muslimin di sana tak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang nan telah baiat di bukit Aqabah. Tetapi tiada sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang nan sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.

Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa nan mengancam keselamatan diri serta sahabatnya, nan nyaris celaka kalau tak sebab kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya. Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiga-tiba disergap Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan menyentakkan lembingnya. Bukan main marah dan murkanya Usaid, menyaksikan Mush’ab nan dianggap akan mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka, serta mengemukakan Allah Yang Maha Esa nan belum pernah mereka kenal dan dengar sebelum itu. Padahal menurut asumsi Usaid, tuhan-tuhan mereka nan bersimpuh lena di tempatnya masing-masing mudah dihubungi secara kongkrit. Jika seseorang memerlukan salah satu diantaranya, tentulah ia akan mengetahui tempatnya dan segera pergi mengunjunginya buat memaparkan kesulitan serta menyampaikan permohonan. Demikianlah nan tergambar dan terbayang dalam fikiran suku Abdul Asyhal. Tetapi Tuhannya Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam – nan diserukan beribadah kepada-Nya – oleh utusan nan datang kepada mereka itu, tiadalah nan mengetahui tempat-Nya dan tidak seorangpun nan bisa melihat-Nya.

Demi dilihat kedatangan Usaid bin Hudlair nan murka bagaikan barah sedang berkobar kepada orang-orang Islam nan duduk bersama Mush’ab, mereka pun merasa kecut dan takut. Tetapi “Mush’ab nan baik” tetap tinggal tenang dengan air muka nan tak berubah.

Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush’ab dan Sa’ad bin Zararah, bentaknya: “Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera loka ini, jika tidak ingin segera nyawa kalian melayang!”

Seperti tenang dan mantapnya samudera dalam, laksana terang dan damainya cahaya fajar, terpancarlah ketulusan hati ”Mush’ab nan baik”, dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan ucapan halus, katanya “Kenapa Anda tak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya Anda menyukai nanti, Anda bisa menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa nan tak Anda sukai itu!”

Sebenarnya Usaid seorang berakal dan berfikiran sehat. Dan sekarang ini ia diajak oleh Mush’ab buat berbicara dan meminta pertimbangan kepada hati nurani sendiri. Yang dimintanya hanyalah agar ia bersedia mendengarkan dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan Mush’ab, dan jika tidak, maka Mush’ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyrakat mereka buat mencari loka dan masyarakat lain, dengan tak merugikan ataupun dirugikan orang lain.

“Sekarang aku insaf”, ujar Usaid, lalu menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan. Demi Mush’ab membacakan ayat-ayat Al-Quran dan mengajarkan dakwah nan dibawa oleh Muhammad bin Abdullah shollallahu ’alaih wa sallam, maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, beralun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya. Dan belum lagi Mush’ab selesai dari uraiannya. Usaidpun berseru kepadanya dan kepada sahabatnya, ”Alangkah latif dan benarnya ucapan itu! Dan apakah nan harus dilakukan oleh orang nan hendak masuk Agama ini?” Maka sebagai jawabannya gemuruhlah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian ujar Mush’ab, ”Hendaklah ia mensucikan diri, baju dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan nan haq diibadahi melainkan Allah”


Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil memeras air dari rambutnya, lalu ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan nan haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah.

Secepatnya warta itu pun tersiar. Keislaman Usaid disusul oleh kehadiran Sa’ad bin Mu’adz. dan setelah mendengarkan uraian Mush’ab, Sa’ad merasa puas dan masuk Islam pula.

Langkah ini disusul pula oleh Sa’ad bin Ubadah. Dan dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku nan ada di Madinah. Warga kota Madinah saling berdatangan dan tanya bertanya sesama mereka, “Jika Usaid bin Hudlair, Saad bin ‘Ubadah dan Sa’ad bin Mu’adz telah masuk Islam, apalagi nan kita tunggu. Ayolah kita pergi kepada Mush’ab dan beriman bersamanya! Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celah giginya!”

 

Saudaraku, sungguh kehidupan Mush’ab bin Umair sangat sinkron dengan kehidupan teladannya Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam digambarkan di dalam Al-Qur’an sebagai seseorang nan berambisi ”menginginkan keimanan dan keselamatan” atas manusia. Sehingga kesibukan utamanya ialah senantiasa mengajak manusia buat mendekat, beriman dan taat kepada Allah.

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ

 حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min.” (QS At-Taubah ayat 128)

Suara langit

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy