Generasi Asa Itu Masih Ada!

Generasi Asa Itu Masih Ada!

Generasi asa itu masih ada! Itu nan dapat aku simpulkan hari ini. Lebih tepatnya tadi, saat mengajar anak-anak SD kelas 3 di bimbel-belum-bernama. Ah siapa nan peduli dengan nama bimbelnya, nan krusial ilmu terbagi, jd kegunaan dan sekaligus membantu seorang sahabat buat menjalankan usaha bimbelnya ini.

Bukan tentang bimbel nan ingin aku ceritakan. Itu nanti saja. Ada bab spesifik mungkin. Yang ingin aku ceritakan ialah mereka, 5 murid kelas 3 SD nan aku ajar: Afifah si Ketua Kelas nan bertanggung jawab dan cerewet, Atsila si Pendiam tapi Menghanyutkan, Azizah si Tak Pantang Menyerah, Zahra si Penolong, dan shafa si Periang nan suka makan.

Saya baru dua kali mengajar, tapi rasanya sudah dekat dengan mereka. Saya baru dua kali mengajar, tapi rasanya sudah dapat langsung tahu karakter mereka. Saya baru dua kali mengajar, tapi rasanya sudah tidak sungkan bilang bahwa aku bangga pada mereka.

Hari ini, waktu 1,5 jam tak terasa. Proses belajar mengajar nan terjadi sangat bergerak maju dan menyenangkan. Mereka pun mengatakan seperti itu. Dulu awalnya, aku sedikit kesulitan membuat mereka “diam” sebab terlalu berisik. Bayangkan, hanya 5 anak murid saja berisiknya minta ampun. Tapi hari ini aku akhirnya sadar, bahwa mereka harus aku “ikuti” dengan tetap aku bimbing. Namanya juga anak –anak.

Hari ini ialah waktunya mata pelajaran matematika. Dan saya, Si Ang nan terkenal usil, melakukan ‘eksperimen usil’ terhadap mereka. Ku buka Bab 1 buku cetak Matematika-nya. Hmmm, tidak banyak berubah dengan kurikulum nan dulu. Tapi aku ingin untuk semacam ‘eksperimen’ di sini dan menjawab pertanyaan ‘eksperimen’ nan aku untuk sendiri (keusilan itu): “Sampai mana otak manusia bekerja, walau ia hanya seorang anak kecil?”

Soal-soal nan disuguhkan di buku cetak, terbilang mudah bagi aku (mungkin tak bagi mereka), tapi kita coba saja. Saya kemudian sedikit mengulas teori, analogi, logika, dan rumus (saya tak menggunakan istilah-istilah ini pada mereka yaaaah ^^) pada Bab 1 dan Bab 2 (yang sebenarnya belum diajarkan di sekolah mereka). Setelah sedikit mengulas, baru aku coba eksperimennya. Yang aku lakukan simpel. Saya tak membuat soal nan keluar dari teori nan diajarkan, hanya saja…. setiap angka aku untuk desimal (tanpa aku jelaskan ke mereka tentang angka desimal). Saya katakan, “Adik-adik, kakak punya soal nan sangaaaaat menantang. Kamu mau coba? Coba kerjakan di kertas yah. Kalau dapat langsung tunjuk tangan”. Satu, dua, tiga soal pemanasan aku berikan. Ingat, soal menggunakan angka desimal buat anak kelas 3 SD. Apa nan terjadi?

“SAYA SUDAH SELESAI KAK!”

“NIH KAK!”

“SAYA UDAH KAK, TAPI NGGAK SAYA TULIS GAK PAPA?”

Walau tak semua murid dapat menjawab, tapi sebagian besar bisa! Cepat pula! Hey, ini baru soal pemanasan, Dik! Kalian baik-baik saja? Baiklah, aku kasih bintang bagi nan dapat menjawab. Lalu aku kasih lagi soal menantang (begitu istilahku) berikutnya. Apa nan terjadi?

SEMUA BISA! SEMUA DARI MEREKA BISA! Padahal wallahi, aku lebih merumitkan soalnya dengan angka desimal nan lebih banyak. Saya kaget pada hasil ‘eksperimen’ sendiri. Subhanallah… dan lebih tersentak lagi ketika Si Zahra teriak dengan suara lantangnya, “KAK, LAGI, KAK! KASIH YANG LEBIH MENANTANG.. MENANTANG.. MENANTAAANG LAGI!”. Masya Allah… Siapa mereka? Kecerdasan apa nan telah aku pancing? Sudah cukup aku bereksperiman pada otak mereka. Kasihan, nanti mereka kaget (apa aku nan kaget?).

Saya pandangi paras kecil mereka. Matanya melengkung ke bawah: tanda tertawa, tersenyum, jenaka, saling mengejek bercanda. Bahkan ketika ada salah satu dari mereka sulit memahami maksud sebuah pertanyaan soal, nan lain membantu. Salah satunya Zahra nan meminta izin pada saya, “Kak, Azizah aku ajarin boleh?”. Subhanallah… Mereka bahkan berbagi ilmu. Dalam hati saya, itu seharusnya tugasku, Dik. Tapi tidak apa. Inilah MLM Ilmu. Pahala akan terus mengalir.

Ya Alloh, mereka generasi setelah aku kah? Atau masih segenerasi dengan saya? Maka setiap guru ialah berjihad bukan? Membantu membangun generasi Rabbani-Mu?

Lalu kukecup kening mereka satu per satu, usai shalat maghrib berjamaah hari ini. Saya sayang mereka, Ya Rabb.

Jakarta, 3 Agustus 2010

Untuk kalian adik-adikku nan cerewet penuh semangat

Afifah, Azizah, Atsila, Zahra, Shafa..

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy