Generasi Yang Kehilangan Orientasi Hidup

Generasi Yang Kehilangan Orientasi Hidup

إن الحمد لله وحده, نحمده و نستعينه و نستغفره ونتوب اليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهده الله فهو المهتد ومن يضلله فلن تجد له وليا مرشدا, أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله بلغ الرسالة وأدى الأمانة ونصح للأمة وتركنا على المحجة البيضاء ليلها كنهارها لا يزيغ عنها الا هلك, اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن دعا بدعوته الى يوم الدين. أما بعد, فيا عباد الله اوصيكم ونفسي الخاطئة المذنبة بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون. وقال الله تعالى في محكم التنزيل بعد أعوذ بالله من الشيطان الرجيم :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (ال عمران : 102)

Kaum muslimin rahimakumullah…

Pertama-tama, marilah kita tingkatkan kualitas taqwa kita pada Allah dengan berupaya maksimal melaksanakan apa saja perintah-Nya nan termaktub dalam Al-Qur’an dan juga Sunnah Rasul saw. Pada waktu nan sama kita dituntut pula buat meninggalkan apa saja embargo Allah nan termaktub dalam Al-Qur’an dan juga Sunnah Rasul Saw. Hanya dengan cara itulah ketaqwaan kita mengalami peningkatan dan perbaikan…

Selanjutnya, shalawat dan salam mari kita bacakan buat nabi Muhammad Saw sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur’an :

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat atas Nabi (Muhammad Saw). Wahai orang-orang beriman, ucapkan shalawat dan salam atas Nabi (Muhammad) Saw. ( Al-Ahzab : 56)

Kaum Muslimin rahimakumullah…

Banyak peristiwa nan mendera masyarakat kita sepekan terakhir. Di antaranya adalah kekacauan para siswa SLTA dalam menanggapi pengumuman hasil ujian nasional (UN) tanggal 26 April nan lalu. Bagi siswa siswi nan lulus, banyak di antara mereka nan menyambutnya dengan hedonisme seperti pergerakan di jalan raya sambil membawa kendaraan dengan ugal-ugalan sehingga membahayakan lalu lintas di berbagai jalan raya. Banyak pula nan berteriak-teriak sambil tertawa, berjingkrak-jingkrak dan mencorat-coret pakaian seragam mereka. Selain itu, banyak pula nan meluapkan kegembiraannya melalui pesta miras dan bermesraan dengan sesama teman sekolah versus jenis. Hanya sedikit sekali nan melakukan sujud syukur pada Allah atas nikmat kelulusan nan Allah anugerahkan kepada mereka.

Bagi nan tak lulus UN, mereka menanggapinya dengan berbagai tingkah nan tak baik dan sama sekali tak mencerminkan kematangan kepribadian sebagai hasil didikan keimanan selama bertahun-tahun sekolah. Banyak sekali nan berteriak-teriak histeris seakan nasib dan masa depan mereka hancur dan musnah. Ada pula nan merusak sekolah dan bertingkah tak terpuji lainnya. Yang memprihatinkan lagi adalah ada nan bunuh diri seperti nan terjadi di Jambi.

Kaum Muslimin rahimakumullah…

Kegaduhan UN ini telah terjadi beberapa tahun belakangan, khususnya sejak pemerintah menetapkan sistem nilai kelulusan ujian akhir secara nasional, tanpa melihat apakah sekolah tersebut sudah memiliki tenaga-tenaga pendidik nan handal dan fasilitas nan memadai atau tidak. Semua sekolah harus mengikuti baku nilai nan ditetapkan Departemen Pendidikan Nasional (Diknas). Akibatnya, tahun ini misalnya, bukan hanya banyak nan tak lulus, bahkan lebih 260 sekolah nan satupun muridnya tak ada nan lulus. Tak heran, jika sebagian ahli pendidikan dan masyarakat menilai bahwa UN ialah bentuk teror nasional nan dilancarkan pemerintah terhadap para siswa.

Sesungguhnya inti persoalannya bukan pada baku nan ditetapkan Diknas. Menurut beberapa ahli pendidikan, bahwa baku tersebut sebenarnya biasa-biasa saja; bukan hal nan mustahil dicapai oleh para siswa. Yang aneh dan perlu mendapat perhatian adalah tentang cara pandang siswa terhadap ijazah dan terhadap global pendidikan itu sendiri. Dari berbagai sikap nan muncul dalam menghadapi UN, baik nan lulus maupun nan tak lulus, tercermin dengan jelas bahwa siswa atau anak didik kita saat ini sudah kehilangan orientasi hayati nan sebenarnya. Di mata mereka, ijazah itu seakan segala-galanya. Karena ijazah identik dengan pekerjaan atau perguruan tinggi. Sebab itu, sikap nan mereka munculkan baik mereka nan lulus maupun nan tak lulus sangat memprihatinkan. Faktanya, ratusan ribu pengangguran ialah orang-orang nan terdidik, bahkan lulusan dari berbagai perguruan tinggi ternama.

Timbul pertanyaan mendasar: Siapa nan salah dan berkontribusi terhadap hilangnya orientasi hayati anak-anak didik kita saat ini? Bukankah mereka itu generasi masa depan nan akan menentukan baik dan buruknya negeri ini? Perlu kita sadari bahwa sinkron sunnatullah (ketetapan Allah), bahwa kita akan menuai apa nan kita tanam. Artinya, kondisi mental dan prilaku sebagian besar anak didik kita nan memprihatinkan itu ialah hasil apa nan kita tanamkan ke dalam diri mereka selama bertahun-tahun dan bahkan sejak mereka lahir. Kita telah gagal menanamkan iman dan taqwa ke dalam diri mereka, dan juga ilmu pengetahuan, baik dalam rumah tangga, institusi pendidikan dan juga dalam masyarakat. Pemerintah telah gagal menjadikan pendidikan sebagai forum character building (pembentukan karakter) iman dan taqwa. Akan tetap nan dibentuk ialah karakter sekulerisme dan materialisme nan amat membahayakan kehidupan generasi kita di global dan apalagi di akhirat kelak. Sebab itu, tidaklah mengherankan bahwa generasi kita sekarang sedang kehilangan orientasi hayati nan sahih nan sinkron dengan apa nan digariskan oleh Allah Ta’ala sebagai Tuhan Pencipta mereka, Pencipta kita dan Pencipta Alam semsta.

Kosep pendidikan nan ada sekarang harus direformasi dan bahkan kalau perlu direvolusi. Lebih dari 60 tahun merdeka, pemerintah hanya melahirkan generasi sekuler dan materialis. Kondisi seperti ini akan mengancam kehidupan umat Islam di negeri ini. Berbagai kejahatan nan sudah mengakar saat ini, seperti korupsi, prilaku hedonis, gaya hayati konsumtif dan sebagainya ialah hasil apa nan ditanamkan dalam pendidikan masa lalu. Kalau kita serius buat merubah dan mereformasi kondisi semrawut seperti sekarang ini, kita harus memulainya dari global pendidikan. Kalau kita gagal mewujudkan pendidikan sebagai wadah dan institusi pembentukan karakter iman dan taqwa kepada anak didik kita sekarang, maka masa depan negeri ini akan tetap sepeti apa nan kita saksikan hari ini, dan tak mustahil lebih parah lagi.

Kaum Muslimin rahimakumullah…

Banyak hal nan perlu kita benahi dari global pendidikan sekarang, di antaranya ialah konsep pendidikan nan diterapkan. Kita harus mampu merancang sebuah konsep pendidikan nan efektif dan mampu menanamkan karakter iman dan taqwa kepada anak didik sehingga mereka memiliki orientasi hayati nan sahih nan sinkron dengan maksud dan tujuan Allah menciptakan mereka. Kalau orientasi itu sudah melenceng dan menyimpang, maka generasi kita akan menjadi generasi nan tak kenal Tuhan Penciptanya dan tak pula mengenal diri mereka sendiri. Dari sinilah awal malapetaka dan berbagai defleksi manusia itu muncul. Manusia nan tak mengenal Allah dan tak pengenal dirinya, mereka akan hayati liar di global ini dan merusak kehidupan ini nan pada akhirnya akan merugikan dan mencelakakan orang lain, termasuk dirinya sendiri. Sebaliknya, manusai nan mengenal Allah dan dirinya dengan baik, insyaa Allah mereka akan menjadi pribadi-pribadi nan sholeh nan bukan hanya mampu memberikan kesholehan (kebaikan) kepada dirinya, melainkan juga kepada orang lain. Pribadi-pribadi nan sholeh itu tak lahir dari konsep pendidikan nan sekuler dan berorientasi duniawi atau materialistik. Akan tetapi, merka akaen lahir dari konsep pendidikan Islam nan mengajarkan dan menanamkan orientasi hayati manusia nan sebenarnya.

Terkait dengan orientasi hayati manusia, Allah menjelaskan dalam firman-Nya :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58)

Dan Aku tak menciptakan jin dan manusia kecuali buat mengabdi kepada-Ku (56). Aku tak menginginkan rezki dari mereka dan tak pula Aku menginginkan makanan dari mereka (57). Sesungguhnya Allah, Dialah Pemberi rezki, nan memiliki kekuatan nan kuat (58)

Dari tiga ayat tersebut di atas kita bisa menyimpulkan hal-hal berikut :

  1. Manusia diciptakan Allah bukan buat bermain-main dan hanya mengejar kepentingan duniawi. Akan tetapi, mereka diciptakan Allah buat beribadah kepada-Nya dengan mentaati semua sistem hayati nan diciptakan-Nya buat manusia agar mereka selamat di duni dan akhirat.
  2. Persoalann rezki dan kebutuhan hayati di global sudah Allah siapkan sedemikian rupa buat manusia. Oleh karena itu, manusia tak perlu risi akan tak kebagian rezki selama mereka berusaha dan berdoa serta pemerintahnya tak zalim dan menerapkan sistem zalim nan hanya menguntungkan dan memperkaya segelintir kaum kapitalis saja.
  3. Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu nan dikehendaki-Nya. Dia telah menciptakan kita dengan sistem nan sangat canggih dan telah menyiapkan bagi kita semua kebutuhan kita selama hayati di global ini. Bahkan sebelum kita dilahirkan-Nya ke dunia; saat kita berada dalam rahim ibu kita dan tak dapat berbuat apa-apa, maka karunia-Nya selalu menyirami kehidupan kita. Kalau kita menjadikan Allah sebagai tujuan dan orientasi hidup, maka Allah akan memudahkan dan memberkahi hayati di global dan menyelamatkan kehidupan akhirat kita. Ini ialah janjinya pada setiap hamba nan hidupnya hanya buat mengabdi dan beribadah kepada-Nya. Persoalan global ini amatlah sederhana bagi-Nya. Demikian pula halnya bagi orang nan hidupnya buat ibadah kepada Allah, persoalan kehidupan global bukanlah menjadi tujuan utamanya dan nan menjadi tujuan hidupnya tetaplah kehidupan akhirat nan abadi. Inilah generasi nan bermutu dan berkualitas tinggi di mata Allah dan Rasul-Nya, bukan generasi nan orientasi hidupnya hanya kepentingan hayati di global nan fana dan sementara.

Kaum Muslimin rahimakumullah…

Generasi nan berkualitas itu hanya akan lahir dari sistem dan konsep pendidikan Islam, bukan dari konsep pendidikan sekuler, materialis dan kapitalis. Generasi nan bermutu adalah generasi muda nan beriman kepada Allah dan selalu menjadikan petunjuk Allah (Al-Qur’an) sebagai rambu-rambu kehidupan. Generasi muda nan memiliki hati nan higienis dan afeksi terhadap orang tua, keluarga dan masyarakatnya. Generasi nan berpendirian teguh dan tak terpengaruh oleh lingkungan dan pergaulan nan tak sehat, dan bahkan mereka nan mempengaruhinya ke arah kebaikan. Generasi nan berani menegakkan kebenaran dan menolak kebatilan, apapun resiko nan harus mereka alami. Generasi nan berani mengatakan bahwa Tuhan nan kami sembah dan taati ialah Tuhan nan menciptakan langit dan bumi ini. Generasi nan tak akan pernah tunduk kepada tuhan selain hanya Allah sebab mereka mengetahui dan menyadari bahwa ubudiyah (ibadah dan taat) kepada tuhan selain Tuhan Allah ialah kehancuran dan kebinasaan di global dan akhirat.

Kaum Muslimin rahimakumullah…

Demikianlah khutbah ini, semoga Allah membantu dan menolong kita dalam membentuk generasi nan memiliki pijakan hayati nan kuat dan memiliki orientasi hayati nan benar, yakni Allah menjadi tujuan mereka. Rasul Saw ialah teladan mereka. Al-Qur’an ialah dustur (sistem hidup) mereka. Berjuang di jalan Allah ialah jalan mereka dan wafat di jalan Allah ialah cita-cita mereka nan tertinggi dan utama. Semoga Allah pilih kita menjadi orang-orang nan berhasil dalam mewujudkan generasi Islam, generasi masa depan nan diharapkan. Semoga Allah berkenan menghimpunkan kita di syurga Firdaus nan tertinggi bersama Rasul Saw, para shiddiqin, syuhada’, dan shalihin sebagaimana Allah himpunkan kita di loka nan mulia ini. Allahumma amin…

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات و الذكر الحكيم أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم إنه تعالى جواد كريم ملك رؤوف رحيم إنه هو السميع العليم ……

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy