Ghirah (Semangat) Seorang Kakek Tua

Ghirah (Semangat) Seorang Kakek Tua

Lima tahun nan lalu aku mengenal sorang kakek nan berumur kurang lebih 90 tahunan. Saya mengenalnya sebab aku menikahi salah satu cucu dari kakek tersebut. Semenjak 4 tahun lalu beliau sudah menjadi Kakek Buyut dari anak saya. Kakek itu bernama Sadi. Saya biasa memanggilnya Bapak Sadi, sebab memang cucu-cucu beliau memanggilnya Bapak Sadi. Panggilan buat Kakek di dalam keluarga Istri aku ialah Bapak. Bapak Sadi ialah sesepuh di kampung loka dibesarkannya istri saya, Desa Angrit Kampung Leuwiipuh, Lebak Banten. Butuh waktu 3 s.d 4 jam dari Terminal Pakupatan Serang buat sampai ke Desa ini dengan menggunakan jasa angkutan generik jurusan Serang-Malimping.

Bapak Sadi menurut aku ialah sosok kakek nan terdapat keteladanan pada dirinya. Dalam keadaannya nan sudah renta ia masih senantiasa memiliki ghirah (semangat) dalam beribadah. Shalat 5 waktu dikerjakannya di awal waktu ketika adzan terdengar berkumandang. Karena kerentaannya memang beliau sudah tak kuat lagi berjalan jauh buat mendatangi mushola tetapi beliau lakukannya di rumah, kecuali shalat jum’at beliau masih memiliki semangat buat berangkat ke Masjid nan biasanya di bonceng motor oleh menantunya yaitu Ayah dari Istri saya. Karena masjid nan ada buat melakukan sholat Jum’at ada di Desa tetangga nan jaraknya lebih kurang 1 kilo meter dari rumah Bapak Sadi.

Selain shalat 5 waktu itu, beliau juga senantiasa melaksanakan shalat dhuha dan membaca Al-Qur’an di setiap pagi dan sore hari. Al-Qur’an nan beliau baca itu selalu ada di atas meja tamu, dan memang beliau biasa membacanya di ruang tamu. Dan pemandangan itu sangat jelas terlihat oleh aku dari depan teras rumah orang tua istri saya.

Dalam waktu nan sudah memasuki usia senja beliau benar-benar memanfaatkan waktunya buat tak melewatkan ibadah nan masih sanggup beliau lakukan. Itu beliau lakukan bukan sebab usia nan sudah memasuki usia senja, tetapi memang semasa mudanya beliau juga ialah orang nan selalu mencoba buat berbuat baik dan beramal sholeh. Semasa kecil cucu-cucunya diantaranya istri saya, ialah beliau nan mengajarkan mereka supaya lancar dalam membaca Al-Qur’an.

Setiap kali aku berkesempatan pulang kampung ke rumah orang tua istri buat bersilaturrahim ketika Idul Fithri atau hari-hari libur panjang, aku singgah juga kerumah Bapak Sadi nan memang rumahnya tak jauh sebab bertetanggaan dengan rumah orang tua istri. Kebiasaannya itu masih saja beliau lakukan, sholat tepat waktu, sholat dhuha dan membaca Al Qur’an.

Subhanallah… ada keberkahan nan diberikan Allah SWT kepada Bapak Sadi. Ketika musim kemarau datang, kemarau nan berkepanjangan, sumur-sumur warga desa menjadi kering. Tidak ada sumber air buat keperluan sehari-hari, tetapi tak jauh di belakang rumah Bapak Sadi tetap mengalir sumber mata air. Yang hampir semua warga Desa mengambil keperluan airnya dari sumber mata air tersebut. Untuk keperluan mandi dan juga mencuci pakaian.

Yang mengatakan ada keberkahan itu ialah Ustadz Samson Rahman, penterjemah buku Best Seller La Tahzan. Ustadz Samson Rahman ialah suami dari salah satu cucu Bapak Sadi. Istri dari Ustadz Samson Rahman ialah saudara sepupu dengan istri saya. Ketika hari Idul Fithri memang biasanya kami berkumpul di rumah Bapak Sadi buat bersilaturrahim keluarga. Dalam kesempatan itu juga aku sempatkan buat berdiskusi ringan kepada Ustadz Samson Rahman nan biasa aku panggil Kak Samson.

***

Saya mencoba buat intropeksi diri, berkaca pada seorang Bapak Sadi, seorang kakek nan hampir satu abad hayati di global ini, nan tetap dalam ghirah (semangat) beribadah walaupun telah renta badan termakan usia, walaupun telah putih seluruh rambut tidak bersisa hitam, walaupun telah keriput kulit tidak lagi kencang, walaupun terkadang datang sakit-sakitannya seorang tua. Bagaimana dengan aku nan masih muda dalam usia, nan masih hitam seluruh rambut, nan masih kencang kulit menutupi tulang, nan masih banyak sehat daripada sakitnya. Seharusnya ghirah (semangat) beribadah nan ada pada diri ini, haruslah melebihi ghirah (semangat) seorang kakek tua, Bapak Sadi.

Teringat akan sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik manusia ialah orang nan panjang umurnya dan baik amalannya” (HR. Ahmad). Semoga residu nikmat umur nan entah sampai kapan akan diberikan-Nya, tergunakan dalam rangka buat senantiasa berbuat baik dan beribadah kepada-Nya. Untuk menyongsong hari nan pasti, hari dimana ajal kan datang menghampiri, dan setiap manusia di global ini tanpa terkecuali akan merasakannya.

Tiada daya kekuatan setiap hamba dalam menjauhi maksiat, dan tiada daya kekuatan setiap hamba dalam melakukan keta’atan, kecuali atas pertolongan-Mu Ya Allah. Laa haw laa Walaa Quwwataa Illa Billahi ’Aliyil ’Adzim. Amiin…

Wallahu’alam


advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy